Cinta Zena

Cinta Zena
Zee menerima rencana perjodohan


__ADS_3

Kehidupan Zena kembali seperti semula, hanya beberapa hal sudah tidak lagi menarik bagi Zena. Dunia gemerlap malam yang dulu mengisi hidupnya. Pergi berbelanja dengan gengnya hingga menghabiskan berjuta-juta hanya untuk kesenangan sesaat. Makan di restauran mewah dan mahal hanya untuk gengsi semata.


Sesuai janjinya pada sahabatnya, Zena pergi ke tempat biasa mereka berkumpul menghabiskan waktu bersama teman-teman yang lain di sebuah cafe. Disana sudah menunggu teman-temannya yang semua notabene anak dari orang-orang kaya dikotanya.


"Zee, apa kabar.Kita semua kangen sama kamu," kata Mery sambil memeluk Zena.


"Aku juga kangen Kalian semua," Zena membalas pelukan Mery diikuti yang lain.


Mereka berpelukan bersama seperti Teletubbies. Hingga beberapa saat mereka melepaskan pelukannya dan kemudian duduk di tempatnya masing-masing. Mereka saling berpandangan lalu tersenyum bersama.


"Zee, kamu agak kurusan sekarang ya," kata Ismi.


"Bener. Aku lebih suka Zee yang dulu, seksi tapi bohay," tambah Keyla.


"Zee, memang disana kamu makannya apa? bisa kurusan gitu?" tanya Sean.


"Zee, boleh jawab satu-satu atau mau sekalian biar lega tuh bocah-bocah," kata Mery sambil melihat ketiga sahabatnya.


"Aku makannya biasa, nasi. Mungkin aku terlalu merindukan kalian, makanya aku bisa kurusan begini," jawab Zena sambil tertawa.


"Merindukan kami?! Zee...Zee. Merindukan kami atau merindukan Jojo sang pembalap?" tanya Sean.


"Jangan menyebarkan berita yang menyesatkan. Aku dan Jojo hanya teman, nggak lebih," jawab Zena kesal.


"Jangan marah say, kami tahu Jojo yang selalu ngejar-ngejar kamu. Belum diterima, kamunya udah keburu Kabur dari rumah karena akan dijodohkan. Kasihan si Jojo," kata Mery sambil membuat ekspresi sedih.


"Lagian Jojo, kurang percaya diri dia. Lihat Zee aja dia udah kalang kabut, kalah pamor dia Ama Zee," kata Sean.


"Zee,entar malem kita dugem yok. Sudah lama nih nggak dugem sama Zee. Gimana Zee, kali ini aku yang traktir menyambut kembalinya si cantik Zee," ajak Keyla.


"Iya, bisa banget tuh. Mau-mau. Zee sayang, kita akan berpesta untuk kembalinya Zee," kata Sean setengah berteriak.


Zena hanya tersenyum tidak bereaksi apa-apa. Dingin, itulah yang kini dirasakan oleh sahabat-sahabatnya dengan sikap Zena. Semua ikut terdiam menunggu jawaban Zena.

__ADS_1


"Maaf teman-teman, kayaknya aku tidak bisa ikut kalian dugem," jawab Zena membuat ketiga sahabatnya terbelalak kaget.


"Apa?! Aku tidak salah dengar?! Zee..." teriak Sean.


"Zee, kenapa?!" tanya Mery.


"Zee, ada apa?!" tanya Keyla.


"Aku, aku sudah lama tidak dugem. Kayaknya aku udah tidak ada selera pergi," jawab Zena pelan.


"Oh Zee. Benarkah ini Zee sahabat kita? Dulu Zee yang biasanya ngajak duluan. Zee yang sekarang, aku nggak kenal sama sekali," ucap Sean sambil menggelengkan kepalanya.


"Zee, kamu berubah. Aku pikir kamu masih Zee yang kami kenal, ternyata bukan," sahut Keyla.


"Sean, Keyla. Zee sekarang udah tumbuh dewasa, mungkin kita yang masih terus seperti anak-anak dan tidak bertumbuh. Hargailah keputusan Zee," kata Mery membela Zena.


"Maaf, jika aku tidak bisa mengikuti kebiasaan kalian lagi," kata Zena merasa bersalah.


Sean dan Keyla saling berpandangan, lalu mereka tersenyum sambil menghela nafas.


"Aku iri padamu Zee, aku juga ingin jadi dewasa seperti kamu. Menikah, punya anak dan bahagia," kata Keyla sambil membayangkan memiliki anak dan suami.


"Terimakasih Sean, Keyla dan Mery. Kalian adalah sahabat terbaikku," kata Zena sambil tersenyum lebar.


"Ngomong-ngomong, apa kamu pernah bertemu orang yang akan dijodohkan denganmu?" tanya Sean.


"Aku rasa belum pernah, iya kan Zee?" tanya Mery.


"Kalau belum pernah lihat, kenapa kemaren kamu pergi dari rumah Zee? Siapa tahu dia itu tampan, baik hati dan kaya pastinya ya," kata Keyla sambil tersenyum.


"Iya Zee, aku rasa orangtuamu akan memilih yang terbaik untuk kamu," ucap Sean sok dewasa.


"Kalian tahu, aku tidak mau diatur apalagi masalah pernikahan. Aku ingin pernikahan ini hanya sekali seumur hidup," jawab Zena sambil menghela nafas.

__ADS_1


"Tapi akhirnya kamu sekarang kembali untuk menerima perjodohan itu bukan? Zee, kalau boleh tahu, apa yang terjadi sehingga kamu akhirnya kembali dengan damai?!" tanya Mery penasaran diikuti kedua sahabatnya yang juga ikut penasaran.


Mereka menunggu cerita Zena dengan penuh antusias dan cemas dengan peristiwa yang akan diceritakan Zena. Namun Zena tak banyak bicara.


"Kenapa kalian terlihat sangat penasaran sekali, aku tidak mau cerita," kata Zena menggoda ketiga sahabatnya.


"Zee, jangan semakin membuat kami penasaran. Jika kamu tidak mau cerita, kami akan mogok bicara," kata Sean agak kesal.


"Dengarkan ceritaku dengan baik. Ternyata diluar sana, banyak hal yang bisa aku pelajari. Disana aku menjadi wanita biasa, miskin dan jelek. Banyak yang menghina dan mengejek aku, walaupun ada juga beberapa yang baik padaku. Disana aku bisa melihat mana orang yang benar-benar tulus padaku dan tidak," kata Zena sambil mengenang masa lalu.


"Zee, kamu pasti sangat menderita sekali disana. Sudah, semua sudah berlalu. Dan sekarang Zee sudah kembali meskipun sekarang Zee sudah menjadi Zee yang dewasa. Lupakan masa lalu Zee, kami bersamamu," kata Mery setengah berteriak.


Zena teringat Zaka, bagaimanapun Zena pernah mencintainya. Bahkan itu merupakan cinta pertama baginya. Namun sudah harus layu sebelum berkembang.


"Zee, semangat. Kita bersulang untuk Zee yang baru. Semoga mendapatkan jodoh yang terbaik," ucap Sean sambil mengangkat minuman ditangannya diikuti Zena dan yang lainnya.


"Pria yang tampan dan setia terutama yang kaya..." tambah Keyla


"Segera menikah dan memiliki anak," tambah Mery sambil tersenyum.


"Terimakasih semua," jawab Zena.


Zena memang harus bisa melepaskan masa lalu sebelum nantinya menjadi bumerang dalam hubungannya di masa kini.


Hari sudah semakin sore dan mereka segera bubar kembali ke rumah masing-masing. Zena merasa sangat bahagia bisa kembali diantara orang-orang yang menyayanginya. Ayah,ibu dan sahabat-sahabatnya.


Sehabis makan malam, Ayah Juna dan Bu Mina mengajak Zena bicara. Kejadian ini seperti waktu itu, sebelum dia kabur dari rumah. Mereka membicarakan tentang perjodohan Zena yang tertunda.


Kali ini, Zena hanya diam tertunduk saja. Dia berusaha menerima perjodohan yang di rencanakan orangtuanya. Tidak ada penolakan sedikitpun dari Zena, meskipun bayangan masa lalunya belum semuanya bisa dia lupakan. Ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mungkin karena itu berhubungan dengan hati.


"Zee, kami sangat senang mendengar bahwa kamu sudah mau menerima perjodohan ini. Kami sudah mencoba memilih yang terbaik untuk kamu dan masa depan kamu," kata ayah Juna berwibawa.


"Saat ini, mereka masih berada di luar negeri. Satu Minggu lagi mereka baru akan pulang ke Indonesia untuk bertemu kita. Jadi Zee, ayah minta kamu tidak berulah lagi seperti kemarin," kata ayah Juna lagi.

__ADS_1


Zena hanya mengangguk pelan. Selanjutnya akankan jiwa pemberontak Zee hilang?!


__ADS_2