
Pagi ini Zaky sudah agak mendingan, ia tidak lagi demam seperti kemarin. Ia mau berangkat sendiri ke sekolahnya. Tapi ibu kesayangannya tidak mengijinkan. Karena ibunya merasa anaknya itu belum sepenuhnya sehat. Meskipun dia satu-satunya anak laki-laki dan sekarang sudah besar, juga mandiri, sang ibu tidak ada tawar menawar dalam masalah kesehatan. Jangankan anaknya yang masih sekolah, bahkan ketika ayahnya sedang sakit pun, ibunya akan menyuruh sopir yang mengantarkan ke tempat kerjanya.
"Umi,,,, Zaky udah baikan kok, boleh ya berangkat sendiri? " pinta Zaky dengan suara memelas.
"Tidak bisa Ky,,,,kalau tidak mau diantar gak usah ke sekolah, gimana? " jawab Bu Hanifah sambil mengelap sepatu suaminya .
"Iya, iya, dah terserah Umi. "ucapnya kesal lalu mengambil sepatu dan memakainya
Abinya yang mendengarkan perdebatan antara istri dan anaknya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Malah ia mendukung keputusan istrinya itu.
"Sudahlah Ky,,, turuti saja apa katanya Umi. "
"Ah, Abi, aku kan sudah sembuh Bi. "
"Tanya aja sama umimu! "
"Mi, tapi hari ini saja ya, besok pokoknya aku mau berangkat sendiri, titik. "
"Ya liat nanti kalo kamu sudah benar-benar sehat boleh bawa motor sendiri. "
"Ya sudah, ayo Bi, jalan !"
Zaky pun berangkat diantar Abinya, sekalian Abinya langsung berangkat ke kantor.
***
Tidak ada yang harus di lakukan oleh Dyra di kelasnya selain menunggu sang pujaan hatinya. Ia berharap kali ini kekasihnya itu benar-benar sembuh. Sehingga ia bisa berjalan berduaan sepulang sekolah. Tapi kalau memang cowok ganteng itu tidak masuk hari ini, pasti ia akan merasa kesepian. Dyra pun mengingat kejadian kemarin. Yaitu ketika sang pacar sedang sakit. Anak yang terkenal cuek itu terlihat sangat manja sekali padanya. Dyra senang sekali waktu mengingat ia sedang menyuapi cowok ganteng berkulit itu.
"Assalamualaikum cantik,,,,mikirin apa sih? " goda Zaky yang baru nyampek disekolahnya, kemudian ia melihat cewek cantik sedang termenung di meja belajarnya.
"Eh kamu, ngagetin aja! "
"Mikirin aku ya, aku sudah sehat kok, tapi masih harus di antar. "
"Siapa yang mikirin kamu, aku lagi males aja. "
jawab Dyra yang sesungguhnya merasa malu.
Memang benar gadis cantik itu sedang memikirkan cowok cakep yang sekarang duduk di sampingnya itu . Tapi tentu saja ia malu untuk mengakuinya.
"Ehm... nanti aku anterin pulang ya? " sahut Zaky dengan seulas senyuman terpancar di wajahnya. Karena ia tau kalau wanita cantik yang ada di sampingnya ini pasti sangat merindukan dirinya. Sebab ia tidak pandai menyembunyikan kebohongan di wajahnya.
"Dijemput siapa nanti? "
"Mungkin Abi, kenapa? "
"Aku gak mau kalau harus merepotkan abimu. "
"Gak apa-apa sekali-kali kenalan sama camer. "
"Gak ah, nunggu kamu bawa motor sendiri aja. "
"Kita liat nanti ya. "
"Ayo pindah Zak, kalau pacaran nanti aja. " usir Wita pada Zaky, yang sedang menduduki bangku miliknya.
"Gimana kalau mulai sekarang kamu duduk di tempatku, kan enak kamu bisa dekat sama Si Bimo. "
__ADS_1
"Ah kamu emang boleh,,, aku sih gak masalah."
balas Wita
"Hei sudah Zak, sana kembali ke tempat dudukmu!" (mengibas-ngibaskan tangannya) usir Dyra pada Zaky untuk menghentikan perselisihan mereka yang gak akan ada ujungnya.
"Weeek,,, kamu kalah kan? "
"Awas kamu ya? "
"Apanya.... "Sudah Wit, gak usah diteruskan, sebel deh ." potong Dyra
***
Pulang sekolah, Zaky mengajak kekasihnya naik mobil bareng. Memang benar gadis cantik itu ingin sekali diantar oleh sang pacar. Tapi ia enggan untuk mengakuinya, karena ternyata sore ini Zaky dijemput Abinya. Tiba-tiba Abinya keluar dari mobilnya dan menghampiri mereka yang sedang berdebat sangat alot karena Dyra yang sudah tidak bisa diajak pulang bersama, sementara anaknya sangat menginginkan gadis cantik itu pulang bersamanya.
"Nak,, ayo masuk Om antar kamu pulang! "
"Ehm,,, tapi rumahku dekat kok Om, terima kasih banyak ." ucapnya dengan sopan.
"Apa kamu mau anak om yang ganteng ini sakit lagi , gara-gara mikirin gadis cantik sepertimu. "
"Ah,,, ba... baik, ayo Zak! " katanya sambil menyenggol badan Zaky. Dalam pikiran Dyra sekarang bagaimana bisa Abinya Zaky bisa menggodanya seperti itu. Benar saja anaknya itu pandai sekali menggombal, ternyata sudah turunan dari Abinya.
"Nah, dari tadi nurut kan enak. " ucap Zaky gembira sambil berjalan menuju mobilnya.
Tapi saat sampai di samping mobil berwarna hitam itu Abinya berkata sesuatu.
"Kalian di depan saja, Abi duduk di belakang, kalau Zaky yang menyetir kan enak, tau tempat yang akan dituju. "
"Terima kasih Bi, ayo kamu masuk duluan!" ucapnya sambil berjalan memutar untuk membukakan pintu untuk Dyra.
"Biar terlihat romantis gitu?"
"Ah gak malu apa, ada abimu. "
"Eh, sweety ,,, kenapa harus malu, aku kan gak cium kamu. "
"Huh... dasar sana cepetan, aku lapar nih!"
Mereka pun berangkat ke rumah Dyra, dan begitu sampai di sebuah warung bakso, Abinya meminta untuk berhenti, lalu mengajak mereka untuk makan. Pak Umar sengaja melakukan hal itu untuk anaknya, karena pasti Zaky akan melakukan hal yang sama jika melihat gadis yang dicintainya sedang lapar. Zaky merasa Abinya bisa membaca pikirannya. Tapi dia sangat senang, karena hubungan asmaranya dengan sang pacar mendapat lampu hijau dari Abinya.
"Ky, Abi pesankan seperti biasa, sama minumannya juga! "
"Baik Bi. "
Zaky pun pergi memesan bakso tiga mangkok,
beserta minumannya. Sementara Dyra mengikuti dari belakang. Gadis cantik itu merasa canggung, dia tidak bisa menghadapi ayahnya Zaky sendirian. Meskipun laki-laki yang sedang duduk di kursi itu kelihatannya tidak begitu menakutkan. Bahkan laki-laki yang menjadi ayah dari kekasihnya itu pandai juga bercanda.
"Apa kalian tidak berencana untuk menikah? "
Tanyanya dengan santai. Seolah-olah menikah itu sesuatu yang gampang untuk dilakukan.
Tiba-tiba Dyra tersedak mendengar pertanyaan yang tidak masuk akal itu. Zaky segera mengambilkan minuman untuknya.
"Terima kasih. "ucapnya
__ADS_1
"Makanlah,, jangan dengarkan ucapan Abi,
beliau memang suka bercanda. "
ucap Zaky lagi, sambil mengedipkan matanya ke arah Abinya, memberikan kode untuk tidak berkata sesuatu yang tidak-tidak.
"Kamu pikir Abi bercanda, dulu Abi menikah dengan Umi juga waktu usia kami masih sangat muda. "
"Menikah kan masih harus banyak yang di pertimbangkan Bi. "
"Apalagi, apa kamu belum siap menjadi menantuku Nak? "
"Ah,, Ehm,,, kami masih sekolah Om." jawab Dyra gelagapan.
"Sebentar lagi juga mau lulus. "
"Kalau itu apa katanya jodoh saja Om. "
"Baiklah,, Ky kamu antarkan menantu Abi dulu, biar Abi tunggu disini. "
"Abi serius,,,, gak mau ikut? "
"Nanti Abi mengganggu kalian. "
"Gak apa-apa kok Om, ini sudah deket, saya bisa jalan kaki. "
"Orang tua seperti Om ini, pernah muda juga seperti kalian, jadi Om mengerti kalau kalian berdua selalu merasa rindu, dan selalu ingin bersama, makanya kata-kata Om barusan bisa jadi pertimbangan, gimana? "
"Om bisa aja, baiklah terima kasih banyak Om, saya permisi dulu assalamualaikum... "
"Waalaikumussalam."
Zaky segera mengantarkan Dyra, setelah itu menjemput abinya di kedai bakso. Dalam perjalanan menuju ke rumah Dyra tidak ada percakapan apapun. Dyra merasa tidak nyaman dengan kata-kata yang diucapkan ayahnya Zaky. Karena Dyra sendiri tidak pernah berpikir sampai ke arah itu.
"Sudahlah, gak perlu pusing, kita akan menikah kapan pun sampai kamu siap. "
"Kenapa kamu harus begitu serius menanggapi hal itu? "
"Memang kamu gak berharap kita menikah? "
"Untuk sekarang jangan bicarakan hal itu dulu, benar kata kamu banyak yang jadi pertimbangan. "
"Baiklah, aku hanya mau bersamamu. "
"Aku juga, makasih sudah mengantarku, cepat kembali, abimu sudah menunggu. "
"I love you. "
"Hah,,, apaan sih, assalamualaikum. " ucap Dyra lalu membuka pintu mobil tersebut.
"Balas pernyataanku barusan !"
"I love you too. "
"Waalaikumussalam." tanpa sadar Zaky meraih tangan gadis itu lalu menciumnya dengan lembut, seperti dalam kisah cinta seorang pangeran yang sedang melamar tuan putri.
Dyra terkejut mendapatkan ciuman mendadak.
__ADS_1
Kemudian gadis itu menarik tangannya lalu keluar dari mobil, dengan wajah yang merona karena malu.