
Zaky tidak bisa membantah perintah orang tuanya, terutama sang ayah. Memang benar ia yang akan memimpin perusahaan yang telah di persiapkan oleh ayahnya untuk masa depannya nanti. Tapi sebenarnya ayahnya sudah merestui hubungan Zaky dengan kekasihnya itu. Bahkan mereka juga bisa menikah setelah lulus sekolah. Zaky sangat senang dengan kebijaksanaan sang ayah. Tapi ia sendiri juga sudah pernah membicarakan hal tersebut pada pujaan hatinya. Hanya saja pemikiran mereka tidak sama. Dyra sendiri belum begitu yakin akan hubungan yang selama ini dijalaninya. Dyra menganggap itu hanya hubungan biasa seperti anak sekolah pada umumnya. Entahlah Zaky merasa kacau balau hari ini, akhirnya ia datang menemui sahabatnya yang tidak lain adalah kekasih dari sahabatnya Dyra.
"Ada apa Bro, sepertinya loe gak semangat hari ini? "
"Yah aku pusing Bim. "
"Pu...sing..? "
"Abi menyuruhku kuliah di luar negeri bersama sepupuku, tapi aku tidak mau meninggalkan Dydy. "
"Gue ngerti sekarang. "
"Ya terus gimana solusinya? "
"Santai... ikuti saja kemauan orang tuamu, itu juga demi kebaikan diri loe sendiri. "
"Tapi...? "
"Sementara Dydy akan baik-baik saja disini, gue yakin dia juga cinta sama loe. "
"Apakah dia bisa menunggu selama itu? "
"Kalau memang ada jodoh pasti kalian bisa bersatu. "
"Baiklah akan aku pikirkan lagi. "
***
Malam ini Zaky tidak bisa tidur nyenyak, dia tidak habis pikir harus pergi jauh meninggalkan orang yang dicintainya. Lalu gimana dia bisa menjelaskan semua itu. Zaky tahu kekasihnya itu selalu berpikiran positif. Pasti dia bisa menerima keputusan Zaky nantinya. Sementara Zaky sendiri tidak sanggup untuk mengatakannya. Akhirnya karena lelah, Zaky pun tertidur dengan sendirinya.
***
Pagi ini Dyra bangun pagi seperti biasa, setelah selesai sholat shubuh, dia langsung membantu bundanya. Dia membuat menu sarapan dan juga bekal untuk dibawa ke sekolah.
"Dy, sebaiknya kamu mandi dulu sayang, ntar telat loh. "
"Iya Bun, aku tinggal dulu ya. "
"Ya udah sana cepat, sekalian panggil adikmu untuk sarapan!"
"Baik Bun. "
__ADS_1
Dyra pergi ke kamarnya, saat melewati kamar adiknya, ia langsung berteriak memanggil namanya, dan menyuruh untuk segera siap-siap berangkat ke sekolah
"Iya, Kak,, ntar lagi. "ucap Dika dari dalam kamarnya yang sedang bersenandung sambil menyisir rambutnya yang basah.
Dyra pun segera pergi ke kamar mandi setelah mengambil handuk dari kamarnya.
***
Sekitar jam setengah tujuh, mereka pun sudah selesai dengan rutinitas pagi. Barulah mereka berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Dika sengaja tidak memakai polygonnya, karena tidak ada kegiatan yang mendesak di sekolah. Jadi dia berangkat bersama sang kakak perempuan yang paling cerewet menurutnya itu . Meskipun begitu, tapi Dika akui kakaknya itu sangat manis, apalagi saat tersenyum. Bahkan teman-teman Dika selalu ada saja yang nitip salam buat kakaknya itu lewat Dika. Tapi Dika tidak pernah menganggap serius, jadi tidak pernah menyampaikan pesan dari temannya pada sang kakak. Yah satu-satunya teman yang berani menyatakan cinta pada kakaknya adalah Aldo, yaitu sahabat Duka sendiri.
"Kak berhenti di warung sebentar. "
"Mau apa Dik? "
"Aku mau beli rokok. "
"Hah,,,, beli ro...kok? " Dika membalas dengan anggukan kepala
"Eh tunggu sejak kapan kamu merokok? "
"Baru dua hari ini, dikasih teman dan sekarang pengen nyoba beli sendiri. "
"Dika,, rokok tidak baik loh buat kesehatan. "
"Apa ayah sama bunda tahu? "
"Belum. "
"Artinya kamu akan memberi tahu mereka? "
"Kenapa? "
"Dika kamu tahu kan merokok itu....
"Ya aku sudah tahu, tapi aku tidak ambil pusing kok, kalau punya uang jajan aku beli, kalau nggak ya sudah, tidak masalah. "
"Tapi kamu jangan bikin masalah di sekolah. "
"Tenang, aku selalu bawa tasku agar tidak ada anak jahil yang menaruh rokoknya di tasku, secara aku punya banyak kegiatan di sekolah, jadi aku gak terlalu suka berlama-lama merokok. "
"Apa jangan-jangan, tiap kali kamu ada kegiatan itu hanya alasanmu saja, sehingga kamu bisa nongkrong bareng temanmu. " ucap Dyra menginterogasi adiknya
__ADS_1
"Kalau itu aku gak tertarik Kak, kalau aku ada kegiatan ya sudah, kenapa harus cari alesan, kalau pengen nongkrong, ya tinggal ijin sama bunda, kenapa? "
"Baiklah kalau gitu kakak percaya sama kamu. "
"Aku gak pernah bohong sama bunda, mau bolos, ya bolos aja, mau pacaran ya pacaran aja, tapi buat apa aku melakukan hal seperti itu, gak guna ."
"Kalau bolos sih kayaknya kamu belum pernah, soalnya kakak selalu tanya sama gurumu, kadang juga sama temanmu, apalagi pacaran, mungkin karena kamu masih belum terlalu tertarik sama perempuan. "
"Oh... jadi selama ini kakak nyelidikin aku ya. "
ucap Dika sambil menghisap satu batang rokok yang baru dibelinya.
"Bukan begitu Dika, kakak cuma memastikan kalau kamu benar-benar niat bersekolah, karena kalau tidak, sia-sia kan ayah membiayai kamu selama ini."
"Aku tahu Kak, makanya aku ingin jadi orang sukses, kelak bisa membahagiakan mereka. "
"Baguslah kalau begitu. "
"Oh ya, tadi kakak bilang aku gak tertarik sama perempuan, aku ini masih normal Kak, tapi aku tahu dirilah, aku uang aja masih minta sama orang tua, masa iya aku pacaran, lagi pula menurutku perempuan ribet ,sulit sekali mengerti mereka, cukup kakak saja yang menyusahkan aku, hehehe. "
"Nyusahin apa, maksudmu, tapi dulu kamu ditembak sama temanmu kok ditolak , apalagi dia anak orang kaya loh. "
"Gengsi dong, ntar aku dikira cowok matre."
"Hem... "Cibir Dyra
"Ayo Kak jalan, eh tunggu bukannya itu pacar kakak ya. "
"Yang mana? "
"Yang pake matic itu. "
"Bukan ya, dasar kamu sok tau. "
"Masak sih, aku gak salah liat loh, waktu itu kakak pernah di anterin ke rumah kan. "
"Bukan,, itu Mah teman kakak mau pinjam buku, tapi emang sih dia pernah nyatain perasaannya sama kakak, tapi waktu itu kakak sudah punya pacar. "
"Yang mana sih misterius amat, tapi katanya bunda anaknya tinggi, kulitnya putih, penampilannya keren abis. "
"Banyak kali cowok yang seperti itu, sudah ayo nyebrang! "
__ADS_1
Ya selama ini Dika memang tidak pernah bertemu dengan Zaky. Karena dia sendiri anak paling aktif di sekolah, sedang Zaky hampir tidak pernah ikut kegiatan apapun, kecuali basket, itu pun hanya beberapa kali. Tidak banyak kegiatan yang diikuti Zaky kecuali menemani sang pacar di sekolah. Zaky selalu mendapatkan info lengkap tentang kekasihnya itu dari teman kepercayaannya. Tapi anehnya Zaky sendiri tidak pernah bertanya tentang adiknya Dyra, bahkan mengetahui namanya saja Zaky tidak tahu. Begitupun dengan Dyra sendiri ia tidak pernah menceritakan tentang adiknya pada sang kekasih. Sebab Dyra sudah lupa mau berbicara tentang apapun kalau sudah berduaan dengan kekasihnya itu. Ia lebih banyak bercanda dan menyatakan perasaannya dalam bentuk senyuman, pujian dan sebagainya. Sehingga membuat lupa akan masalah yang ada di pikirannya. Begitulah cinta mereka selama ini.