DENDAM ARWAH SANGKEKASIH

DENDAM ARWAH SANGKEKASIH
BAB 10


__ADS_3

馃崈馃崈馃崈


malam itu Salman pulang larut malam, saat Salman masuk kedalam kamar istrinya sudah tidur.


dia bergegas membersihkan diri, setelah selesai, Salman bergegas turun ke lantai bawah menuju meja makan saat ini perutnya begitu keroncongan, tapi sayang tak ada makanan yang bisa dia makan saat ini, terpaksa dia menuju kamar Mirna.


tok...tok...tok


pintu terbuka dari dalam


"tuan, apa ada yang bisa saya bantu?."


"i路路iya tolong bu路路buatkan aku makan malam, aku sangat lapar."


"baik tuan."


Salmanpun berlalu dari kamar Mirna meski kini jantungnya kembali berdebar.


"sial, kenapa jantungku selalu berdebar setiap melihat Mirna, apa karena wajahnya begitu mirip dengan Marni?." Salman berbicara dalam hati.


setelah selesai Mirna pamit untuk kembali kekamar, sebelum Mirna melangkahkan kaki Salman buru-buru menahan tangan Mirna.


"tunggu Mirna, apa saya boleh bertanya sesuatu sama kamu?."


"iya tuan silahkan. tuan mau bertanya apa.?


"apa kamu punya kembaran?."


deg..


Mirna begitu kaget dengan pertanyaan Salman.


"darimana orang ini tau jika saya punya kembaran, pasti dia tau sesuatu tentang kak Marni, aku harus hati-hati ntah kenapa perasaanku selalu tidak enak dengan orang ini." Mirna berucap dalam hati


"Mirna apa kamu mendengar saya?."


"eemmm, maaf tuan tapi saya tidak punya kembaran, memangnya kenapa tuan?."


"tidak apa-apa, kamu boleh kembali kekamar."


"baik tuan, saya permisi dulu."


Mirnapun kembali ke kamarnya dengan penuh tanya.


Salman bisa bernafas lega karena apa yang dia takutkan ternyata tida benar.


"syukurlah jika dia tidak memiliki kembaran, bisa bahaya jika dia benar kembaran Marni, Marni sebenarnya aku merindukan mu, tapi kejadian itu diluar rencana ku, aku menginginkanmu tapi tidak dengan anak itu." Salman bermonolong


"mas kok malah ngelamun sih."


pertanyaan Asyifa membuat Salman tersadar dari lamunannya.


"ehh dek, kok malah bangun."


"iya mas, aku lapar." ucap Asyifa sambil duduk.


"yasudah ayok makan bareng sama mas."


"tapi aku mau di suapi sama mas."

__ADS_1


"kok tumben makan mau di suapi, ohh mas tau, pasti karena lagi hamil kan?."


Asyifa hanya tersenyum dan mengangguk,


Salman menyuapi istrinya dengan penuh cinta, tak terasa makanan yang tadi tersaji kini telah tandas.


"ayo sayang kita tidur, mas cape banget tadi kerja lembur."


"mas aja duluan aku mau kedapur sebentar."


"mas anter ya."


"gak usah mas, aku bisa sendiri kok, mas ke kamar aja duluan ya."


"bener gak apa-apa dek."


Asyifa hanya mengangguk dan tersenyum.


Salman mencium kening sang istri dan berlalu pergi menuju kamar.


saat membuka pintu kamar Salman begitu terkejut karena Asyifa masih tertidur pulas seperti tadi.


Salman mendekati ranjang dan coba membangunkan istrinya.


"dek bangun."


"heeemmm, apa mas aku ngantuk."


Asyifa kembali tertidur dengan membelakangi Salman, Salman yang masih penasaran kembali membangunkan istrinya. saat Asyifa membalikan badan Salman kembali dibuat terkejut karena melihat wajah istrinya hancur dipenuhi darah dan belatung.


Salman yang kaget langsung terjungkal kebalekang yang membuatnya jatuh dari ranjang.


orang itu mengerang kesakitan, Salman kembali dibuat terkejut karena yang dia tabrak adalah istrinya, kini istrinya tengah kesakitan dia menangis sambil memegangi perutnya.


"mas sakit, perut aku sakit sekali."


"dek a路路apa ini kamu dek?."


"mas tolong mas perut aku sakit."


sekilas Salman melirik kearah ranjang, kosong, ranjang itu kosong tak ada sosok menyeramkan itu lagi.


"mas, kenapa kamu melamun sih, tolong aku perut aku sakit." Asyifa kembali berucap disela Isak tangisnya.


meski Salman ragu, takut yang dihadapannya kini bukan istrinya lagi tapi dia tetap menggendong tubuh Asyifa menuju lantai bawah, dia tak ingin terjadi sesuatu kepada Asyifa takut jika dia benar-benar istrinya.


Salman segera memasukan Asyifa kedalam mobil dan memintanya menunggu dia akan memberitahu pembantunya, tapi Asyifa mencegahnya.


tak ada pilihan Salman langsung mengunci pintu rumah dan langsung tancap gas menuju rumah sakit..


dalam perjalanan Salman merasa ada yang berbeda dengan Asyifa, istrinya itu hanya diam dengan tatapan kosong.


"dek, apa kamu baik-baik saja?."


"aku baik-baik saja."


"apa kamu yakin dek? tapi tadi kamu merasa begitu kesakitan."


"aku tidak apa-apa."

__ADS_1


"apa kamu yakin."


"ya."


"kalau begitu kita kembali kerumah ya."


"tidak."


"kita mau kemana, apa tetap kerumah sakit."


"tidak."


"lalu kamu mau kemana dek, ini sudah malam."


"saya mau kedanau."


saking kagetnya Salman langsung menginjak rem mobilnya, beruntung jalanan sepi jadi Salman tidak terlalu khawatir.


sesaat kemudian Salman sadar.


di ibukota jalanan pasti masih ramai karena waktu juga belum terlalu malam.


tiba-tiba buku kuduk Salman berdiri suasana terasa dingin, Salman melihat sekelilingnya hanya hutan, badannya bergetar hebat.


Salman melirik kepada istrinya.


kosong, kursi disebelahnya kosong.


tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi dan tawa seorang perempuan.


Salman sadar bahwa hutan ini adalah hutan dimana dia memaksa Marni menggugurkan kandungannya.


cepat-cepat Salman kembali melajukan mobilnya kembali menuju rumahnya.


Salman tiba di rumah pukul tiga dini hari.


dia bergegas masuk kedalam kamar,


dia melihat istrinya masih terlelap.


Salman duduk di sofa, badannya terasa begitu letih, apalagi kini teror mengerikan itu kembali menghantuinya.


"sial, kenapa ini terjadi lagi, bukankah aku sudah meminta jimat pelindung dari dukun itu, sial apa jangan-jangan dukun itu penipu." ucap Salman sambil membanting kalung yang dukun itu berikan tempo hari.


***


Pagi harinya Asyifa membangunkan Salman.


"mas bangun, kenapa kamu tidur disofa?."


"dek, ini kamu apa bukan?."


"mas pertanyaan kamu itu aneh deh, ya aku Asyifa istri kamu, emang kamu pikir siapa?."


"bukannya semalam...."


"semalam apa hah? bukan kah semalam kamu tidur sama aku, terus kenapa sekarang malah pindah ke sofa?."


馃崈馃崈馃崈

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2