DENDAM ARWAH SANGKEKASIH

DENDAM ARWAH SANGKEKASIH
BAB 11


__ADS_3

🍂🍂🍂


Salman begitu bingung dengan semua yang terjadi.


Salman meninggalkan Asyifa begitu saja dan masuk kedalam kamar mandi, setelah selesai Salman sudah terlihat rapih dan tampan.


pantas banyak wanita yang tergila-gila padanya, Salman bukan hanya tampan tapi juga pandai merayu, sayang dia terjebak dalam permainannya sendiri.


"mas kamu sudah selesai?."


"apa kamu tidak bisa melihat Syifa?." bentak Salman kepada sang istri.


"mas kenapa kamu bentak aku? aku hanya bertanya apa itu salah?." Asyifa berbicara dengan nada yang bergetar dan air mata yang sudah menganak sungai.


"kamu itu manja sekali, baru dibentak begitu saja sudah nangis."


"tapi mas...."


"sudah saya mau berangkat kerja, saya sudah telat."


tanpa menghiraukan sang istri Salman langsung pergi kekantor bahkan dia melewatkan sarapan paginya.


Asyifa yang sedih langsung pergi meninggalkan rumah untuk menuju rumah mertuanya.


Asyifa memang anak sebatang kara, tapi harta peninggalan orang tuanya sangat melimpah.


itulah yang membuat Salman mau menikah dengan Asyifa.


sebenarnya Asyifa cantik dan baik, tapi sifatnya yang manja membuat Salman kadang muak pada istrinya.


Salman tiba dikantor.


saat masuk kedalam ruangan tempatnya bekerja tiba-tiba dia teringat kepada Azam.


dia lupa bahwa sudah beberapa hari ini dia tidak mendatangi gubuk itu.


Salman bergegas menyelesaikan kerjaan yang menumpuk dia harus segera menemui Azam..


———


"sayang, kamu kok kesini gak bilang sama mamah sih, ayo sayang masuk"


"tak apa mah, Syifa ingin memberi kejutan saja kepada mamah."


"mana Salman nak? jangan bilang kamu kesini sendirian."


"mas Salman kerja, aku kesini sendiri."


"astaga, mamah yakin kamu pasti sedang ada masalah sama suami kamu iya kan."

__ADS_1


Asyifa menganguk dan menceritakan perubahan sikap Salman kepada sang ibu mertua.


bahkan Salman sering teriak tidak jelas kadang juga berbicara sendiri.


ibu Lilis hanya geleng-geleng kepala mendengar cerita dari mantunya itu.


"mamah Heran apa yang terjadi sama Salman kenapa dia bisa seperti itu."


"Syifa juga heran mah."


"sudah sejak kapan Salman seperti itu nak?."


"sudah hampir dua bulan mah."


"mamah harus cari orang pintar, mamah takut ada musuh dari suamimu yang mau mencelakainya."


"Syifa ikut mah, Syifa juga penasaran."


"jangan nak, kamu sedang hamil mamah tidak mau kamu dan calon cucu mamah kenapa-kenapa."


"yasudah mah Syifa pulang dulu ya."


"iya sayang, hati-hati ya."


selepas kepergian Asyifa, Lilis langsung menghubungi Salman.


dia tidak ingin jika Asyifa sakit hati dan menggugat cerai Salman.


"hallo, Salman apa yang terjadi? kenapa istrimu sampai datang kerumah mamah hanya untuk memberitahu perubahan sikap kamu padanya, mamah gak mau ya jika sampai jatuh miskin." ucap ibu Lilis panjang lebar


"apaan sih mah, ganggu aku lagi kerja aja, apa gak ada hal yang lebih penting yang mau mamah sampaikan selain masalah harta dan Asyifa hingga harus mengganggu pekerjaanku."


"kamu tuh ya, dibilangin gak mau denger."


"sudahlah mah, biarkan saja dia mau apa, mamah tau sendiri dia itu manjanya seperti apa, aku sudah kewalahan menghadapi sikapnya, jadi tolong jika Salman sedang kerja jangan bahas dia, membuat mood ku buruk saja."


"yasudah mamah tutup telponnya."


Salman menghembuskan nafasnya kasar.


Salman heran kenapa istrinya itu harus membesar-besarkan masalah kecil.


untung saja ayahnya sedang kerja diluar kota kalau tida, bisa makin runyam urusannya..


hari sudah mulai sore, waktunya Salman untuk pulang, dia bergegas membereskan meja kerjanya, dengan langkah lebar Salman menuju parkiran.


mobil yang dikendarai Salman kini sudah sampai di hutan.


Salman langsung turun dan bergegas menuju gubuk tempat dimana Azam disekap.

__ADS_1


sebelum sampai di gubuk tersebut, tiba-tiba Salman mencium bau bangkai disekitar gubuk tersebut.


karena hari sudah sore dan juga mendung Salman langsung masuk kedalam gubuk.


saat sampai di dalam, mata Salman terbelalak lebar melihat Azam yang kini tengah menjadi mayat.


"sial sial sial... kenapa ini harus terjadi lagi, gara-gara Asyifa yang tidak mau ditinggal lama Azam harus mati disini, sorry, ini diluar rencana, saya tidak bermaksud membunuhmu, saya hanya ingin menyiksamu."


kini otak Salman harus bekerja cepat mencari cara agar dia bisa menyembunyikan mayat Azam, meski dihutan ini jarang terjamah orang, tapi Salman harus tetap waspada takut jika suatu saat ada orang yang lewat, dia tidak mau masuk penjara.


Salman segera menggali tanah untuk mengubur Azam, Salman harus berpacu dengan waktu karena hari sudah mulai gelap ditambah hujan juga mulai turun..


suasana semakin mencekam suara hewan malam mulai terdengar, Salman mempercepat pekerjaannya.


setelah selesai Salman segera kembali kedalam mobil dan melajukan mobilnya kembali kerumah.


———


"kamu darimana saja mas? jam segini baru pulang."


"kamu tuh ya, suami baru pulang kerja bukanya disambut dengan baik malah marah-marah, lama-lama aku jadi gak betah pulang kerumah."


"mas, kamu tuh kenapa sih aku kan hanya bertanya."


"diam Asyifa, jangan karena kamu..... aaaahhhh sudahlah aku cape."


"mas, tunggu mas... hik•hik•hik• kamu kenapa mas? kenapa kamu jadi berubah begini."


didalam kamar Salman juga heran dengan dirinya yang gampang marah akhir-akhir ini.


Salman merasa menyesal, dia segera kembali menemui istrinya.


"syifa, dak kamu dimana? dek."


"maaf tuan, tadi saya liat nyonya pergi ketaman belakang." ucap Mirna yang baru keluar dari dapur


"terimakasih Mirna."


Salman segera berlari menuju taman belakang, dia mencari-cari keberadaan sang istri.


Salman melihat Asyifa tengah berdiri dipinggir kolam.


"dek kamu ngapain disitu? ayo masuk maafkan mas ya akhir-akhir ini mas sering bentak-bentak kamu."


tak ada jawaban Asyifa masih tetap mematung ditempatnya.


"dek, kok diem aja sih, dek."


saat Salman hendak menyentuh pundak Asyifa tiba-tiba.....

__ADS_1


🍂🍂🍂


Bersambung..


__ADS_2