DENDAM ARWAH SANGKEKASIH

DENDAM ARWAH SANGKEKASIH
BAB 30


__ADS_3

🍂🍂🍂


POV Arjuna...


dulu aku begitu tertarik kepada Asyifa ntah itu perasaan cinta atau hanya rasa kagum biasa.


tapi setiap aku melihat Asyifa dekat dengan laki-laki lain aku seakan tidak terima.


malam itu aku memberanikan diri untuk mengajak Asyifa ke taman yang sudah aku persiapkan seindah mungkin.


aku mencoba mengungkapkan perasaan ku terhadapnya.


sial bagiku rasa ini tak terbalaskan ntah apa kekuranganku hingga Asyifa tidak menerima cintaku.


"maaf Juna aku tidak bisa membalas perasaan kamu."


"tapi kenapa Syifa? apa kekuranganku?."


"kamu tidak kurang apapun Juna, tapi memang aku tidak bisa menerima kamu menjadi kekasih aku."


"tapi kenapa? apa kamu sudah punya kekasih Syifa?."


"bukan begitu Juna, aku memang tidak mencintai kamu, tolong jangan paksa aku."


wanita itu pergi begitu saja meninggalkan ku.


aku tak akan menyerah begitu saja, aku selalu mencoba mendekatinya, hingga suatu hari aku tak sengaja melihat dia berjalan bergandengan tangan dengan seorang laki-laki.


mereka begitu mesra membuat dadaku panas.


"jadi ini alasan kamu tidak menerima cinta ku Syifa?, apa hebatnya laki-laki seperti dia?."


"cukup Juna, jangan lagi kamu ganggu aku, sudah aku katakan aku tidak mencintai kamu, dan sebentar lagi aku akan menikah dengan mas Salman."


mereka berdua pergi begitu saja, terlihat jelas oleh ku jika laki-laki yang bernama Salman itu tersenyum mengejek ku, dadaku semakin terasa panas, aku berjanji kepada diriku sendiri, aku akan membalas sakit hati ini.


aku ingin marah sekali kepada gadis sombong seperti dia.


biasa-biasanya aku di tolak begitu saja olehnya.


aku terus mencari cara untuk membalaskan dendam sakit hatiku kepada Asyifa.


bertahun-tahun telah berlaru tapi dendam ku kepada Asyifa dan suaminya tak pernah hilang.


hingga suatu hari, tak sengaja aku bertemu dengan seorang wanita yang bener-bener membuat aku jatuh cinta.


wanita itu bernama Marni.


setiap aku memikirkannya jantung ini selalu berdebar.


rasa ingin menjadikan dia milik ku seutuhnya semakin tak tertahankan lagi.


hingga aku memberanikan diri mendatangi rumahnya.


aku kaget bukan kepalang melihat Marni dipeluk seorang laki-laki, badan ini gemetar menahan gejolak didalam dada.


"maaf mas cari siapa ya?." tanya seorang wanita paruh baya yang aku yakini adalah pembantu dirumah Marni.


"saya cari Marni Bu, apa Marninya ada?."


"oh masnya cari mbak Marni, tunggu sebentar ya mas, saya panggil mbak Marni dulu... O iya dengan mas siapa ya?."


"saya Arjuna Bu."


"oh baik mas, tunggu sebentar ya."


meski hatiku diliputi rasa marah, tapi aku mencoba untuk bersikap normal.


hingga munculah wanita yang akhir-akhir ini mencuri perhatianku.


"eh ada mas Juna, ayo mas masuk dulu."


"maaf Marni, sepertinya aku mengganggu waktu kamu dengan pacar kamu ya?."

__ADS_1


"pacar? maksud mas Juna apa ya?."


"maaf Mir, tadi aku gak sengaja liat kamu pelukan sama cowok."


"astaga mas dia bukan pacar aku, tapi dia kakak aku, ayo masuk aku kenalkan dia sama mas nanti."


akhirnya kegundahan hatiku tidak kenyataan, ternya dia bukanlah kekasih dari Marni melainkan kakaknya.


hari demi hari kami semakin dekat hingga suatu hari aku melihat Marni begitu sedih,


aku menanyakan apa yang terjadi padanya tapi dia hanya menggelengkan kepalanya.


tapi jangan panggil aku Arjuna jika tidak bisa membuat Marni berbicara tentang masalahnya.


dadaku panas mendengar penjelasan Marni,


apalagi dia tetap dengan pendiriannya untuk meneruskan hubungannya dengan laki-laki yang bernama Salman.


meski aku bersedia menikahinya dan menerima anaknya seperti anakku sendiri.


yang aku takutkan adalah jika laki-laki yang telah merusak Marniku adalah laki-laki yang sama yang dulu pernah merendahkan aku dengan senyumannya.


tapi jika benar Salman yang Marni katakan adalah Salman suaminya Asyifa aku benar-benar Takan tinggal diam.


mulai dari saat itu Marni mulai menghindar dariku, dan itu benar-benar membuatku frustasi.


hingga tidak sengaja aku melihat Salman menjemput Marni aku terus mengikuti kemana mobil itu pergi.


aku dibuat heran karena mobil yang dikendarai Salman memasuki kawasan hutan.


aku memarkirkan mobilku di persimpangan jalan yang tertutup semak belukar.


setelah dirasa aman aku turun dari mobil dan berjalan kaki, aku terus mengikuti jejak dari ban mobil Salman hingga aku melihat sebuah gubuk ditengah hutan.


aku terlonjak kaget saat aku mendengar suara jeritan Marni, Marniku kesakitan, apa yang dilakukan si berengsek itu kepada Marniku.


tapi aku juga tidak boleh gegabah, aku harus berhati-hati karena aku yakin Salma tipe laki-laki yang menghalalkan segala cara.


saat aku mulai mendekati gubuk itu aku melihat Salman dan seorang wanita tua sedang mengubur sesuatu.


jantungku seakan hendak keluar dari tempatnya, saat aku menyaksikan mereka mengubur sesuatu yang berlumuran darah, aku yakin itu adalah janin, karena aku adalah seorang dokter.


jadi perkiraan ku tidak mungkin salah.


"tunggu, jika tadi mereka mengubur janin, apa jangan-jangan janin itu..."


aku terus meyakinkan diriku sendiri jika apa yang aku pikirkan tidaklah benar, meski apa yang aku pikirkan bertolak belakang dengan apa yang aku lihat.


terdengar suara gaduh di dalam gubuk, tak lama setelah itu, aku melihat Salman menggendong seorang wanita di pundaknya.


jantungku semakin tak karuan melihatnya.


wanita itu adalah wanita yang aku sayangi selama ini.


aku terus mengikuti mereka dari belakang.


hingga aku melihat Salman melempar Marniku ketengah danau.


dadaku semakin bergemuruh melihat itu semua.


terlihat Salman dan wanita tua itu telah kembali ke gubuk.


ntah apa yang mereka lakukan hingga tak lama mereka keluar dan pergi dari gubuk itu.


aku langsung pergi menuju danau dan mencari keberadaan jasad Marni.


mareka begitu jahat membunuh Marniku dengan cara seperti ini.


aku membawa jasad Marni dan anaknya.


aku akan menguburkan mereka dengan layak.


aku terus memantau gerak gerik Salman dan keluarganya.

__ADS_1


hingga kejadian naas kembali terjadi.


aku menemukan kak Azam dalam keadaan tak bernyawa.


andai saja aku tidak terlalu fokus kepada keluarga Salman mungkin kak Azam tidak bernasib sama dengan Marni.


dendamku semakin sesak melihat kondisi jasad kak Azam.


aku yakin Salman telah menyiksa kak Azam


aku hendak membawa jasad kak Azam,


tapi sial suara deru mesin mobil mengalihkan perhatianku.


secepat kilat aku bersembunyi dari tempat itu.


beruntung mobil milik ku selalu aku sembunyikan di tempat aman.


dari kejauhan aku melihat Salman mengubur kak Azam dan pergi begitu saja.


aku kembali menggali kuburan itu dan segera membawa jasad kak Azam untuk di kuburkan dengan layak.


beruntung profesi ku sebagai dokter memudahkan semuanya.


aku memulai balas dendam ku dengan membunuh ibu dari Salman.


saat aku masuk rumah keluarga Salman keadaan sangat sepi, dan itu menjadi kesempatan baik untuk ku.


saat aku masuk kedalam kamar ibunya Salman aku melihat dia tergeletak tak berdaya,


saat aku memeriksanya wanita itu masih hidup.


dengan amarah dalam dada aku langsung membunuh wanita itu.


hingga suatu hari teman seprofesi ku di panggil untuk menangani wanita yang mengalami keguguran.


aku sedikit kaget karena wanita itu adalah Asyifa.


sebenarnya saat itu kondisi Asyifa tidak terlalu parah tapi aku membuatnya menjadi tertidur dalam waktu beberapa hari.


hingga Asyifa dinyatakan koma.


hal yang membuat aku semakin kaget adalah wanita yang menemani Asyifa, dia begitu mirip dengan Marni ku.


aku terus mendekati Asyifa sampai suatu hari aku mendapatkan informasi dari orang suruhanku yang memata-matai ayah Salman.


jika beliau akan segera pulang dari luar kota.


aku meminta anak buah ku untuk membunuh ayah Salman Tanpa menyentuhnya.


ternyata anak buah ku cerdik juga, dia membuat ayah Salman mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat.


hingga kejadian-kejadian yang aku alami kembali membawa aku kerumah peninggalan ibuku.


disana aku menemukan fakta yang sangat mengejutkan.


hingga mau tidak mau aku harus bersekutu dengan iblis.


tapi aku juga puas karena berhasil membuat Asyifa berada dibawah kendali ku.


juga membuat Salman menderita di sisa hidupnya.


meski aku harus kehilangan Mirna kembaran dari Marni.


tapi aku berjanji akan terus mencari Mirna.


aku tidak mau kehilangan wanita ku lagi.


aku tidak perduli jika dia adalah wanita yang berbeda, tapi bagiku dia adalah Marni ku yang telah kembali.


🍂🍂🍂


...----------------...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2