DENDAM ARWAH SANGKEKASIH

DENDAM ARWAH SANGKEKASIH
BAB 4


__ADS_3

"Yasudah terserah kamu aja dek, mas berangkat kerja dulu ya." Salman mencium singkat kening istrinya dan berlalu pergi untuk bekerja.


Asyifapun mengajak Mirna untuk masuk kedalam rumah dan menjelaskan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh Mirna.


setelah selesai menjelaskan pekerjaan untuk Mirna Asyifa pun menunjukan kamar di bagian belakang rumah mereka.


"Semoga kamu betah ya Mir."


"iya nyonya, insya Allah."


"yasudah kamu instirahat aja dulu, nanti sore mulai kerja ya."


"baik nyonya, terima kasih."


Asyifa melangkah pergi meninggalkan Mirna,


dia kembali kedalam kamarnya dan kembali beristirahat, karena memang tubuhnya masih nyeri akibat kejadian semalam.


saat Mirna hendak masuk kedalam kamar, tiba-tiba dia melihat sekelebat bayangan yang masuk kedalam rumah sang majikan.


Mirna berpikir mungkin itu hanya halusinasinya saja, dia kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar dan segera beres-beres, setelah selesai dia langsung bergegas membersihkan diri, kebetulan kamar mandi ada didalam kamar jadi dia tidak perlu repot-repot untuk keluar.


kerjaan yang harus ia lakukan juga sangat mudah dan tak harus menguras tenaga berlebih.


waktu masih menunjukan pukul 13:15 WIB.


masih ada waktu untuk istirahat.


Mirna langsung merebahkan dirinya di atas kasur empuk yang cukup nyaman.


selang beberapa saat diapun terlelap.


didalam alam bawah sadar, Mirna bermimpi bertemu dengan seorang wanita di tepi danau yang tengah duduk membelakanginya sambil menggendong seorang bayi.

__ADS_1


wanita itu menangis tersedu-sedu, Mirna memberanikan diri untuk mendekatinya, Mirna duduk di sampingnya dan bertanya kepada wanita tersebut


"kamu siapa? kenapa ada disini sendirian?.."


tak ada jawaban, wanita itu hanya diam menunduk dan terus menangis.


"mbak kenapa? apa ada yang bisa saya bantu?.." Mirna kembali bertanya kepada wanita tersebut karena dia yakin wanita itu sedang ada masalah.


Mirna memberanikan diri memegang tangan wanita itu.


Mirna begitu kaget karena tangan wanita itu begitu dingin.


seketika wanita itu mengangkat wajahnya dan memandang Mirna.


Mirna sontak terlonjak kaget karena wajah wanita itu begitu mirip dengannya.


"ka...kamu si...siapa? ke...kenapa wajah kita begitu mirip? dan kenapa wajahmu sangat pucat?."


"tapi kamu siapa? dan aku harus membalaskan dendam kamu kepada siapa.?" Mirna begitu kebingungan pasalnya dia tidak mengenal wanita tersebut.


"BALASKAN DENDAM KU MIRNA." teriak Marni dan menghilang begitu saja.


sontak Mirna terbangun dari tidurnya, keringat dingin membasahi tubuhnya.


dia masih kebingungan dengan mimpi tersebut,


"Siapa wanita itu? kenapa wajahnya begitu mirip denganku, kenapa dia memintaku untuk membalaskan dendamnya kenal juga nggak." Mirna masih menggerutu di tempatnya.


setelah tenang dia kembali mandi karena hari sudah mulai sore dia harus segera memasak takutnya sang tuan rumah akan memarahinya.


setelah selesai dengan rutinitasnya Mirnapun bergegas pergi kedapur dan bersiap-siap untuk memasak.


Setelah cukup lama berkutat di dapur akhirnya pekerjaannya selesai juga, Mirnapun langsung menyiapkan hasil masakannya keatas meja makan.

__ADS_1


"Akhirnya selesai juga, mudah-mudahan majikanku suka dengan masakanku."


"Wah pasakan kamu wangi banget Mirna." puji Asyifa.


"terimakasih nyonya, mudah-mudahan rasanya tidak mengecewakan."


***


malampun tiba.


"gimana mas pasakan Mirna enak gak?." tanya Asyifa kepada sang suami.


"lumayan."


"berarti aku gak salah ya mempekerjakan Mirna disini.?"


"heemm."


"isss nyebelin banget sih, masa jawabnya Hem doang."


"dek mas lagi makan jangan nanya terus, nanti kalo mas tersedak gimana."


"iya deh maaf."


merekapun meneruskan acara makan malamnya.


tiba-tiba sekelebat bayangan mengangetkan Salman yang seketika membuat dia tersedak.


pasalnya bayangan itu berhenti tepat di dekat meja makan


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2