
🍂🍂🍂
plaak...
tamparan keras mendarat di pipi mulus Asyifa.
"kamu sudah gila Asyifa, kamu meminta cerai kepada saya tanpa alasan."
"tanpa alasan kamu bilang, aku sudah tahu semuanya mas, kamu selama ini telah berselingkuh, dan kamu juga sudah...... ahhh lupakan, pokonya aku minta cerai." Asyifa pun berlalu pergi meninggalkan Salman.
deg..
Salman tercengang mendengar ucapan Asyifa.
"selingkuh.... tahu semuanya, apa maksud dari Asyifa, apa jangan-jangan dia tahu semuanya tentang Marni, bahaya ini benar-benar bahaya, tidak tidak aku tidak akan menceritakan Asyifa."
dengan setengah berlari Salman mengejar Asyifa, dengan amarah yang memuncak Salman mendobrak pintu kamar.
braaak...
"kamu Takan bisa bercerai dengan ku Syifa."
Salman langsung menampar Asyifa dan membenturkan kepala wanita malang itu ke dinding.
Asyifa terkulai lemas dengan bersimbah darah.
Mirna yang menyaksikan kejadian tersebut begitu syok.
bergegas dia mencari benda untuk digunakan melawan Salman yang tengah kalap.
dengan sekali pukulan, Mirna mampu membuat Salman tak sadarkan diri..
Mirna langsung menghubungi dokter Arjuna.
sebelum kedatangan dokter Arjuna Mirna sudah mengemas barang-barang berharga dan aset-aset penting lainnya.
meski berasal dari kampung tapi Mirna tidak bodoh.
dokter Juna langsung berlari menuju kamar sahabatnya itu.
Arjuna begitu terkejut melihat kondisi Asyifa.
dia bergegas membawa tubuh Asyifa menuju mobil, Mirna terus mengikuti langkah Juna.
__ADS_1
meski Juna begitu ingin menanyakan banyak pertanyaan kepada pembantu sahabatnya itu tapi ia urungkan mengingat sekarang nyawa Asyifa dalam bahaya.
Arjuna membawa Asyifa dan Mirna menuju rumahnya, dia tidak mau hal buruk kembali menimpa sahabatnya.
setelah memberikan pertolongan kepada Asyifa Arjuna kini duduk berdua dengan Mirna.
"Mirna apa yang terjadi kepada Asyifa, kenapa Salman bisa melakukan hal tersebut."
Mirna menceritakan semuanya termasuk kejahatan Salman yang telah tega membunuh kembarannya dan juga kakak angkat Marni.
"gila, aku harus melaporkan kasus ini kepada polisi, saya tidak mau orang seperti Salman berkeliaran bebas diluar sana."
"tunggu tuan, tapi kita tak ada bukti tentang kejahatan tuan Salman, saya yakin dia akan dengan mudah mengelak."
"kamu benar Mirna, kita harus membalasnya dengan cara kita sendiri."
"iya tuan, saya benar-benar tidak terima dia telah membunuh kakak saya."
"Mirna tolong jangan panggil saya tuan,
panggil saja nama saya, saya risi mendengarnya."
"tapi tuan, ehh ju-juna."
Mirna hanya mengangguk menyetujui rencana dari Arjuna..
———
dilain tempat sebuah mobil telah mengalami kecelakaan tunggal yang menewaskan seorang laki-laki.
laki-laki yang diketahui barnama Ridwan itu tewas ditempat, badannya terhimpit body mobil.
Salman yang saat ini masih dalam kondisi perawatan di salasatu rumah sakit kembali harus menelan pil pahit bahwa sang ayah telah meninggal dalam kecelakaan tunggal.
dia segera meminta izin kepada dokter untuk segera pulang, setelah mendapatkan izin Salmanpun bergegas pulang kerumah orang tuanya.
disana sudah banyak kerabat yang menunggu, jenazah dari pak Ridwan pun sudah dikafani, hanya menyisakan bagian wajah saja, untuk yang terakhir kalinya Salman mencium wajah sang ayah.
tapi tiba-tiba wajah itu berubah menjadi wajah Azam.
"aaaaaakkhhhh..." Salman berteriak dan terjungkal kebelakang.
semua orang yang menyaksika kejadian itu dibuat heran, pasalnya mereka tak melihat ada keanehan hanya Salman yang tiba-tiba berteriak.
__ADS_1
"sudah Salman ikhlaskan, kamu harus sabar kami tahu kamu semakin terpukul dengan kejadian ini."
"kenapa om, kenapa ini terjadi kepada Salman, kuburan mamah saja masih basah, baru Salman juga kehilangan calon anak Salman dan kini ayah juga meninggal, apa salah Salman om, hingga Salman mendapatkan cobaan bertubi-tubi seperti ini."
"karena kamu juga telah membunuh kami Salman, kamu membunuh aku, membunuh anak ku dan juga kakak ku Salman." Marni berbisik tepat di telinga Salman.
"aaaaaakkhhhh pergi kamu jangan ganggu saya."
sialnya hanya Salman yang bisa melihat dan mendengar bisikan itu.
hingga membuat semua orang yang berada disana menganggap jiwa Salman telah terguncang.
salasatu kerabat Salman membawa Salman masuk kedalam kamar dan menenangkannya.
setelah itu acara pemakaman pak Ridwan segera dilaksanakan..
———
seminggu telah berlalu, kini kondisi Asyifa semakin membaik, Asyifa, Mirna, dan Arjuna pergi kesuatu tempat untuk sejenak menghindar dari Salman, karena mereka yakin Salman akan mencari mereka.
"Asyifa apa kamu yakin dengan rencana kamu itu? aku takut kamu dan juga Mirna malah celaka, aku tidak mau lagi ada korban."
"aku yakin Juna, lagian tidak ada cara lain selain itu, tenang saja Mirna bisa aku andalkan, sekarang dia bukan lagi pembantuku tapi dia adalah saudara perempuan ku."
Mirna yang mendengar pengakuan dari Asyifa kaget pasalnya dia sama sekali tidak menyangka akan dianggap keluar oleh Asyifa.
"terimakasih Nyonya sudah menganggap saya bagian dari Nyonya."
"udah dong Mir, jangan panggil aku nyonya terus aku kakak mu sekarang, ingat kita harus berjuang untuk mendapatkan keadilan, agar arwah Marni dan juga Azam tenang, yah meski dengan cara kita sendiri."
"baik kak, kita harus menyusun rencana dengan matang, aku tidak mau bajingan itu hidup enak sedangkan keluargaku menderita." ucap Mirna dengan penuh amarah.
"pasti, kita pasti akan membalaskan dendam sodara kita." ucap Juna..
———
dilain tempat.
Salman tengah uring-uringan paslnya dia dipecat dari kantor tempat dia bekerja,
semenjak kejadian teror itu dan juga satu demi satu keluarganya meninggal, membuat Salman menjadi kurang fokus dalam bekerja, yang membuat kinerjanya berkurang.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Bersambung...