DENDAM ARWAH SANGKEKASIH

DENDAM ARWAH SANGKEKASIH
BAB 22


__ADS_3

🍂🍂🍂


tiba-tiba sesosok bayi terlihat merangkak mendekati Asyifa.


"Marni aku tahu kamu ada disini, tolong jangan ganggu aku dengan kehadiran anak kamu, aku tidak salah apa-apa Marni." Asyifa berteriak kencang..


lampu tiba-tiba gelap, hawa dingin semakin mendominasi ruangan itu.


Asyifa mencoba memundurkan tubuhnya, tapi arwah bayi tersebut malah memegangi kaki Asyifa.


"tolong Marni, jangan ganggu aku." Asyifa hanya bisa menangis


"pergi dari sini."


suara bisikan di telinga Asyifa semakin membuat tubuhnya gemetar hebat,


sebuah tangan dingin menggenggam tangan Asyifa.


dengan sisa keberanian yang ada Asyifa melirik kearah tangannya.


sebuah tangan yang membusuk dan mengeluarkan belatung membuatnya menjerit histeris, Asyifa berlari menuju pintu kamar, tapi tangan itu tak mau lepas dari pergelangan tangannya.


"hihihihihihi kamu membawa tanganku Asyifa."


Asyifa yang mendengar itu sontak berhenti dan sekilas melihat kearah sumber suara.


ya. tubuh hantu wanita itu tetap berada didekat ranjang, sedangkan tangannya begitu kuat mencengkram tangan Asyifa.


tiba-tiba arwah Marni sudah berada dihadapan Asyifa.


mata Asyifa terbelalak lebar melihat pemandangan yang begitu mengerikan.


ingin rasanya Asyifa pingsan saat itu juga.


Marni kembali mengambil tangannya, dia membelai wajah Asyifa.


seakan tersengat aliran listrik dengan kekuatan besar tubuh Asyifa terpelanting kembali kearah ranjang.


Marni terus saja cekikikan melihat Asyifa tak berdaya, tubuh bayi itu melayang dan duduk di dada Asyifa, bayi itu terus menepuk-nepuk wajah Asyifa, lalu jari jemari mungil yang nyaris hancur itu menerobos masuk kedalam mulut Asyifa.


seakan terpaku, Asyifa tak bisa berontak.


hingga lampu kembali menyala, dan sebuah suara memanggil nama Asyifa.


"hey, Asyifa apa yang kamu lakukan? jika ingin bunuh diri jangan disini."


Asyifa melirik kearah sumber suara.


terlihat Arjuna tengah berdiri diambang pintu.


"apa maksud kamu Juna, aku tidak mungkin bunuh diri, aku diganggu oleh arwah wanita itu dan juga anaknya." teriak Asyifa tidak terima.


"kau lihat sendiri apa yang hendak kamu lakukan."


Asyifa melihat sekelilingnya, betapa terkejutnya dia saat mendapati dirinya hendak bunuh diri dengan cara menggantung dirinya sendiri.


Asyifa yang kaget langsung terjungkal kebelakang yang membuat kakinya terkilir.

__ADS_1


mau tidak mau Juna menghampiri Asyifa yang tengah menangis kesakitan.


"merepotkan saja."


"yasudah jika aku merepotkan kamu pergi dari sini."


"diam."


bentakan Juna mampu membuat Asyifa bungkam.


Juna menggendong tubuh Asyifa dan membaringkannya diatas tempat tidur.


dan mengambil balsem di nakas dekat ranjang.


setelah selesai mengobati kaki Asyifa yang penuh denan drama, Arjunapun kembali pergi meninggalkan Asyifa.


ditempat lain..


Salman tengah tidur meringkuk kedinginan.


Salman sudah mencoba berbagai cara agar bisa lolos dari tempat itu, sayang, semuanya hanya berakhir dengan sia-sia.


hujan deras diluar membuat suasana semakin terasa dingin.


sebuah tangan sedingin Es memegang pergelangan kakinya.


Salman sontak rebangun dari tidurnya.


mata Salman celingak-celinguk melihat keadaan sekitar.


"apa kamu merindukan aku sayang."


sebuah suara tepat ditelinga Salman membuatnya terlonjak kaget.


mata Salman semakin celingukan.


tiba-tiba arwah Marni menampakan dirinya dihadapan Salman, meski Marni menampakan dirinya dalam wujud wanita cantik sama seperti semasa hidupnya, tetap saja itu membuat nyali Salman menciut.


"tolong Marni jangan ganggu aku."


"kenapa mas? apa kamu tidak merindukan kamu berdua?." ucap Marni sambil menunduk.


"tapi Marni, kita sudah beda alam, jadi tolong jangan ganggu aku lagi."


"karna kamu, aku dan anak kita jadi begini mas."


"maafkan aku Marni, aku tidak bermaksud membunuhmu, aku hanya belum siap menerima kehadiran anak itu."


"kamu egois Salman."


tiba-tiba Marni kembali kewujud aslinya,


dia mencakar wajah Salman hingga berdarah.


Salman terjungkal kebelakang, tepat diatas kepala Salman sosok Azam menampakan dirinya.


Salman mencoba berdiri, tapi dadanya di injak dengan begitu kuat oleh Azam.

__ADS_1


hingga Salman memuntahkan darah dari mulutnya.


tak sampai disitu sosok bayi mengerikan itu duduk diatas perut Salman.


bayi itu mencakar-cakar perut Salman hingga isi perut Salman keluar.


Salman terbangun dari tidurnya, napasnya terengah-engah, keringat dingin mambanjiri seluruh tubuhnya.


"syukurlah ternyata ini hanya mimpi, tapi kenapa mimpinya terasa seperti nyata, bahkan aku merasakan sakit di seluruh tubuhku."


Salman merasakan pipinya terasa perih, saat Salman meraba pipinya, terasa seperti ada cairan kental yang sedikit kering.


saat salman melihat telapak tangannya terdapat darah disana.


Salman heran kenapa mimpinya bisa sampai melukai pipinya.


Salman mencoba kembali memejamkan matanya tapi rasa perih dipipinya membuatnya tak bisa kembali tertidur.


hingga pagi menjelang Salman tetap tak bisa memejamkan matanya.


kini bukan hanya perih di pipinya saja, bahkan Salman demam sejak semalam, mungkin luka di pipinya telah terinfeksi.


pintu ruangan terbuka, terlihatlah Juna berdiri dengan gagah disana.


Juna melihat tubuh Salman yang menggigil.


kakinya melangkah mendekati sosok yang tergeletak itu.


"ternyata kamu Tek setangguh yang aku kira Salman."


"tolong aku Juna, pipiku sakit, mungkin sekarang ini pipiku telah terinfeksi."


"hahahaha baru segitu saja kamu sudah mengeluh, kamu bayangkan saja bagaimana menderitanya wanitaku saat itu."


saat mengingat Marni amarah Juna kembali memuncak.


segera dia mengambil obat-obatan dan segera mengobati pipi Salman.


dengan kasar Arjuna mengobatinya, membuat Salman berteriak histeris, beruntung sebelum mengobati Salman, Juna sudah mengikat tangan dan kaki Salman, sehingga membuat Salman tak bisa berontak selain berteriak.


"apa kamu tak bisa diam Salman? telingaku sampai sakit mendengar teriakan kamu."


setelah selesai Juna kembali kemobil dan membawa beberapa kantong keresek berisi makanan dan beberapa baju untuk Salman.


setelah selesai Arjunapun kembali meninggalkan tempat itu.


Salman kembali menangis mengingat perbuatan sadisnya kepada Marni dan Azam.


kini dia harus menerima siksaan dari Juna.


meski tidak terbilang sadis tapi tetap saja itu semua membuat Salman menderita.


"itu belum seberapa Salman, tunggu saja hingga tiba waktunya, bahkan kamu akan memilih mati daripada hidup dalam cengkraman ku."


🍂🍂🍂


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2