
🍂🍂🍂
"DASAR PEMBOHONG...."
Buuugggh..
Azam memukul tepat dipipi Salman,
Salman tersungkur ketanah, dan darah segar mengalir disudut bibirnya.
"saya tau, kamu kenal dengan Marni, KATAKAN DIMANA MARNI." teriak Azam kepada Salman.
"baik saya akan katakan dimana Marni berada, Ayo kita pergi dari sini, akan saya tunjukkan dimana Marni."
saat Azam lengah, Salman langsung memukul Azam bertubi-tubi, sampai akhirnya Azampun tak sadarkan diri.
sudah pasti Azam akan kalah, sebab Salman memang memiliki ilmu bela diri yang lumayan.
saat Salman tau Azam pingsan, dia bergegas membopong tubuh Azam kedalam mobil dan membawanya ke gubuk tempat dimana Marni dipaksa melakukan abo*si.
20 menit berlalu, kini ia sudah sampai di gubuk itu.
Salman langsung membawa tubuh Azam yang masih pingsan.
setelah sampai didalam, Salman langsung mengikat Azam dengan kuat.
dia langsung menyiram wajah Azam dengan segelas air.
Azam seketika sadar dari pingsannya, dia merasakan seluruh tubuhnya begitu ngilu.
"kamu... lepaskan saya BERENGSEK."
"hahaha, tidak semudah itu, jangan harap kamu akan saya lepaskan,"
"sial, lepaskan saya, cepat katakan Diaman adik saya."
"Marni dan anaknya sudah mati."
"ma–maksud kamu apa? anak, anak siapa? Marni belum memiliki anak BERENGSEK."
"bodoh, kamu memang kakak yang sangat bodoh, jika kamu memang sayang kepada adikmu harusnya kamu menyadari jika adikmu itu tengah hamil saat dia pergi."
"lalu dimana sekarang Marni dan anaknya?."
"sudah saya katakan, Marni dan anaknya sudah mati, awalnya saya hanya akan menggugurkan kandungan Marni, tapi sangat di sayangkan Marni mengalami pendarahan hebat yang membuat dia tak tertolong." saat mengatakan itu terdengar nada penyesalan disana.
"BAJINGAN, KAMU MEMANG BAJINGAN, KAMU BUKAN MANUSIA KAMU ADALAH IBLIS." teriak Azam dengan amarah yang memuncak, tapi sayang dia tidak bisa berbuat banyak, tali yang mengikat tubuhnya begitu kuat.
"kau tau, Marni dan anaknya meninggal ditempat ini, dan lambat laun kamu juga akan menyusul mereka, tapi tidak sekarang karena saya belum puas bermain-main denganmu, hahahaha."
__ADS_1
tawa Salman begitu menggelegar, dia segera menyumpal mulut Azam dengan sangat kuat, supaya Azam tak bisa kabur, dan dia berlalu pergi dari tempat itu.
***
Mirna yang memutuskan untuk pulang kampung kini telah sampai di tempat kelahirannya, beruntung sang majikan memberikan izin Mirna untuk pulang kampung.
Mirna disambut hangat oleh keluarganya,
sebenarnya Mirna sangat ingin langsung menanyakan kepada Mbah Sadi masalah kembarannya itu.
tapi dia urungkan karena badannya begitu lelah.
malamnya Mirna kembali bermimpi didatangi oleh kembarannya.
didalam mimpi itu Marni meminta Mirna untuk segera menyelesaikan tugasnya dan kembali secepatnya kekota.
bukan hanya itu, Marni juga menunjukan sepenggal kejadian yang dia alami saat dia dipaksa meminum sesuatu yang membuat dia keguguran. tapi disana wajah kedua pelaku tidak jelas.
Marni hanya ingin memberitahu Mirna betapa menderitanya dia saat itu.
Marni berharap Mirna mau membantunya.
Mirna terbangun dari tidurnya dengan nafas yang memburu
"mbak kenapa? mbak mimpi buruk ya?." tanya sari cucu dari Mbah Sadi.
"lah mbak, kalau ditanya itu jawab bukan malah nanya balik."
"iya sari, mbak tadi mimpi buruk, dan kamu kenapa ada disini?."
"gimana aku gak kesini coba, orang mbak teriak-teriak, ( jangan, jangan lakukan itu ) gitu mbak, mana kenceng banget Ampe kedengeran kamar aku loh." jelas sari
"masa sih Sar mbak sampai teriak-teriak?."
"lah mbak gak percaya sama Sari? kalau gak percaya mbak tanya aja sama Simbah."
"yasudah, Sanah balik lagi kekamar kamu, mbak mau tidur lagi."
"eeeehhh mbak tunggu..."
"ada apa lagi sari? Mbang ngantuk ini."
"mbak tuh lihat sudah jam berapa, masa mau tidur lagi."
setelah mengatakan itu, Sari langsung berlalu meninggalkan kamar Mirna
dengan spontan Mirna mengikuti instruksi sari.
mata Mirna terbelalak kaget, pasalnya sekarang sudah memasuki waktu Subuh.
__ADS_1
Mirna heran karena baru saja sebentar dia tertidur tapi sekarang sudah hampir pagi.
Mirna langsung pergi kekamar mandi dan melakukan rutinitasnya.
saat kembali kekamar, dia sepintas melihat seorang wanita berjalan menuju kearah halaman belakang.
saat hendak mengikuti wanita tersebut, sebuah tepukan tangan di pundaknya membuat dia berhenti melangkah.
"mau kemana nak, diluar masih gelap." ucap mbok Ratmi istri dari Mbah Sadi
"eehhh mbok ngagetin aja, itu mbok saya mau nyusul sari, tadi dia pergi halaman belakang deh."
"ngaco kamu Mir, tuh kamu liat, si sari lagi beres-beres diruang depan."
"ma–masa sih mbok."
"ya kalau gak percaya juga nggak apa-apa." ucap mbok Ratmi dan berlalu pergi menuju dapur.
***
siang harinya..
"Mirna, simbok sama Sari mau pergi kepasar kamu mau ikut atau disini saja menemani Mbah mu."
"iya mbok, sepertinya Mirna dirumah saja mbok."
"yasudah, mbok sama Sari berangkat dulu ya."
"iya mbok hati-hati dijalan."
sari dan mbok Ratmipun pergi, dan ini akan menjadi kesempatan buat Mirna bertanya tentang kembaranya kepada Mbah Sadi.
"Mbah, Mirna mau tanya boleh?."
"tanya apa nak? sepertinya serius sekali."
"Mbah, maaf sebelumnya ya, anu...eeemm itu... a–apa Mirna punya kembaran Mbah? tolong jawab jujur Mbah."
Mbah Sadi terlonjak kaget, dia tidak menyangka jika keponakannya akan menanyakan hal tersebut.
Mirna merasakan suasana menjadi canggung.
terlihat Mbah Sadi menghela nafas berkali-kali.
"Mbah.... apa Mbah baik-baik saja?."
🍂🍂🍂
Bersambung...
__ADS_1