DENDAM ARWAH SANGKEKASIH

DENDAM ARWAH SANGKEKASIH
BAB 28


__ADS_3

Asyifa langsung mendekor kamar itu seindah mungkin.


setelah selesai Asyifa langsung menemui Arjuna dikamarnya.


"sekarang apa yang harus saya lakukan tuan?."


"kamu harus mendandani wanita di kamar belakang, ubah dia seperti pengantin."


"baik tuan"


Asyifa langsung pergi menemui Anita


Anita yang melihat kehadiran Asyifa awalnya bahagia karena dia yakin Asyifa akan menyelamatkannya.


tapi sungguh sangat disayangkan Asyifa tidak merespon setiap ucapan Anita


dia langsung menarik tangan Asyifa menuju kamar khusus untuk ritual nanti.


"apa yang akan kamu lakukan padaku?."


"diamlah, jika kamu tak ingin terluka." ucap Asyifa dengan nada datar.


Anita yang memang ketakutan hanya menuruti Asyifa.


Asyifa meminta Anita untuk membuka seluruh pakaiannya dan menggantinya dengan kain berwarna hitam, setelah selesai Asyifa membawa Anita menuju kamar mandi, disana sudah tersedia air untuk mandi Anita yang sudah dipenuhi bunga setaman.


ritual pensucian telah selesai dilakukan, lalu Asyifa memoles wajah Anita dan mengganti pakaian Anita menjadi pakaian khusus untuk pengantin.


"kenapa saya di dandani seperti ini?."


"diamlah dan tetaplah disini."


kemudian Asyifa kembali kekamar Arjuna.


sepeninggalnya Asyifa, Anita mencoba mencari celah untuk kabur dari tempat itu.


tapi sangat disayangkan tak ada sedikitpun celah untuk dia kabur dari tempat ini.


kini Anita hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi kepadanya nanti.


"tuan pekerjaan saya sudah selesai."


"bagus, sekarang kamu boleh kembali ke kamar."


Arjuna berjalan menuju kamar khusus yang ditempati oleh Anita sekarang.


setelah sampai dikamar itu tanpa basa-basi lagi Arjuna langsung mengikat tubuh Anita dan membekap mulutnya.


Anita


lalu Arjuna langsung melakukan ritual pemanggilan Mahesa.


asap mengepul di dalam kamar itu taklama munculah Mahesa dengan menggunakan baju ala-ala kerajaan.

__ADS_1


setelahnya Arjuna mendekati Amira dan menciptakan air diwajah gadis cantik itu, seketika Amira langsung tak sadarkan diri.


Arjuna langsung membuka ikatan di tangan dan kaki Anita.


"tugas hamba sudah selesai tuan."


"ambillah ini, kuberikan imbalan yang setimpal untukmu."


"terimakasih tuan Mahesa, hamba permisi dulu."


arjunapun pergi dan langsung menutup pintu kamar itu.


ntah apa yang terjadi dikamar itu hanya Mahesa yang tahu.


...----------------...


pagi harinya...


"nek, bagaimana keadaan nenek sekarang?" tanya Mirna.


"nenek baik-baik saja nak."


"syukurlah nek jika nenek sudah membaik, Mirna khawatir sama nenek."


"terimakasih nak, sebaiknya kamu segera pergi dari kampung ini nak, kampung ini sudah tidak aman lagi untuk kamu."


"tapi nek kemana Mirna harus pergi nek, Mirna tidak mungkin kembali ke kampung halaman Mirna."


"pergilah kemanapun endang pergi, anggap dia sebagai kakak mu nak."


"kamu harus pergi bersama endang nak, dia akan menjaga kamu."


"tapi nek, kak Endang tidak mungkin jugakan mau menjaga Mirna."


"endang pasti mau nak, jika sudah waktunya kamu harus kembali ke kampung ini, dan mengakhirinya semuanya, untuk saat ini, kami semua harus menyelamatkan kamu dulu nak."


pembicaraan mereka terhenti karena Abah Ahmad dan Endang datang kerumah mereka.


"nek, bagaimana keadaan nenek." ucap Endang kepada nek Mar.


"nenek baik-baik saja nak, sekarang kamu harus segera pergi bersama Mirna sebelum iblis itu mengetahui rencana kita."


"baik nek, Mirna segeralah kamu siap-siap bawa barang-barang yang penting saja.


"baik kak Endang."


setelah Marni pergi ke kamarnya nek Mar tak henti-hentinya menitipkan Mirna kepada Endang.


"endang janji nek, endang akan selalu menjaga Mirna, bahkan nyawa Endang sebagai taruhannya pun Endang rela nek."


"yasudah nak segeralah pergi bawa nak Mirna , ingat pesan Abah nak, jangan pernah ada yang terlewatka."


"baik Abah kami permisi dulu."

__ADS_1


"iya nak hati-hati."


"nek, nenek harus baik-baik ya disini, Mirna janji akan kembali lagi."


"jangan kamu khawatirkan nenek nak, keselamatan kamu lebih penting sekarang, nurutlah apa kata Endang nak."


"baik nek."


setelah berpamitan endang dan Mirna lekas pergi dari kamupung itu, mereka sengaja menyusuri hutan akar tak diketahui warga yang lain, endang takut jika ada warga yang sekongkol dengan Arjuna.


waktu sudah hampir malam tapi mereka belum sampai juga di kota.


dari kejauhan mereka melihat sebuah rumah kecil ditengah hutan.


saat mereka hendak melangkah, mereka tak sengaja melihat sebuah mobil berhenti tepat didepan rumah itu.


"tunggu kak, sepertinya Mirna kenal dengan mobil itu."


"benarkah Mirna?."


"iya kak, itu mobil Arjuna, Mirna tahu betul mobil itu."


tak lama seorang laki-laki yang mirnah kenal keluar dari sana dan memasuki rumah itu.


entah apa yang Arjuna lakukan disana, karena mereka hanya mendengar teriakan memohon ampun dari seorang laki-laki.


tak lama Arjuna kembali keluar dan pergi dari tempat itu.


setelah dirasa aman Mirna dan Endang bergegas masuk kedalam rumah itu.


mata mereka terbelalak melihat seorang laki-laki tergeletak tak berdaya.


banyak ceceran darah disana.


Mirna semakin menyipitkan matanya.


"astaghfirullah ya Allah tuan salman, apa yang terjadi?."


"Marni benarkah ini kamu? maafkan aku Marni aku menyesal telah melakukan hal bodoh itu Marni, maafkan aku."


"maaf tuan tapi saya Mirna bukan Marni, apa yang terjadi kenapa tuan bisa ada disini."


"Mirna, benarkah kamu Mirna? pergi Mirna pergi dari sini, selamatkan diri kamu, jangan sampai nasibmu sama seperti aku dan Asyifa, segeralah pergi Mirna."


"tapi tuan, apa maksud tuan, apa yang terjadi dengan Nyonya Asyifa?."


"pergilah Mirna pergi." karena merasakan sakit di sekujur tubuhnya Salman akhirnya tak sadarkan diri.


"Mirna belum saatnya kita tahu, lebih baik kita turuti apa kata orang ini, aku juga merasakan aura jahat di sekitar sini."


tanpa menunggu persetujuan Mirna, Endang langsung menarik tangan Mirna dan membawanya berlari sejauh mungkin dari tempat itu..


...----------------...

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2