DENDAM ARWAH SANGKEKASIH

DENDAM ARWAH SANGKEKASIH
BAB 3


__ADS_3

"Aaaaaakkhhhh SETAAAAN..." Salman berteriak dengan begitu kencang.


sesaat kemudian diapun ambruk tak sadarkan diri.


beberapa warga yang berada disana membopong tubuh Salman kembali kedalam rumah Mak Dasih.


selang beberapa waktu Salmanpun tersadar dari pingsannya.


"syukurlah Aden sudah sadar, apa yang terjadi den.? kenapa Aden berteriak setan..? tanya seorang lelaki tua.


Salman hanya menggelengkan kepala lalu beranjak dari kursi tempatnya berbaring dan berlalu pergi, dia begitu terkejut ternyata mayat Mak Dasih belum dikuburkan, mayat Mak Dasih masih berbaring dengan hanya ditutup menggunakan kain jarik.


"gimana ini... pak ustadz juga belum datang, gimana kita mau memandikan jenazah Mak Dasih." salasatu warga berujar dengan bingung.


"iya Bu gimana ya, soalnya mayatnya berat banget" ucap seorang wanita yang sontak membuat tubuh Salman menegang..


Salman gegas keluar dari rumah dan masuk kedalam mobilnya, perasaannya menjadi cemas apakah yang dia lihat benar² arwah Marni atau hanya halusinasi semata.


lamunan Salman buyar ketika mendengar dering ponsel yang begitu nyaring.


Salman terkejut karena nama Marni yang tertera di layar ponselnya.


sontak Salman mematikan panggilan tersebut dan menonaktifkan ponselnya.


dia bergegas pulang kerumahnya karena perasaannya sudah mulai tak enak..


setelah sampai Salman bergegas masuk kedalam rumahnya.


Salman terduduk di kursi, dia merasa letih dengan apa yang terjadi.


semuanya begitu cepat,

__ADS_1


teror itu, kematian Mak Dasih,, apa semuanya disebabkan oleh Marni.


kalau iya dia harus segera mencari orang pintar dia tidak mau mati sia-sia.


"mas kenapa kamu melamun.? kamu dari mana aja sih mas sekarangkan hari libur kenapa pulangnya hampir sore begini, aku nelpon kamu dari tadi gak diangkat-angkat, malah dimatiin nyebelin banget sih." pertanyaan Asyifa sontak membuat Salman terlonjak kaget pasalnya dia tidak menyadari kedatangan Asyifa..


"astaga dek kamu tuh ngengetin mas aja."


"ihh aku gak ngagetin kamu mas, aku hanya bertanya, kamu aja yang kaget." hal itu membuat Asyifa cemberut.


"mas tadi dari rumah Mak Dasih dek, dia meninggal dunia dek, tadi mayatnya ditemukan oleh warga, mas juga belum memeriksa HP mas dari tadi" Salman menjelaskan kepada sangistri agar Asyifa tak curiga padanya.


"inalillahi wa innailaihi'radziun,, terus jenazah Mak Dasih udah dikubur mas."


"Sudah dek makanya mas pulangnya sore." kilah Salman.


"yasudah mas mandi gih, katanya pamali kalau gak langsung mandi suka di ikutin mahluk halus."


Salman bergegas masuk kedalam kamar.


beruntung istrinya polos jadi dia bisa dengan mudah membohongi Asyifa..


hari-hari berjalan kembali seperti semula tak ada lagi teror yang membuat Salman hampir gila dibuatnya..


"sayang mas berangkat kerja dulu ya."


"iya mas hati-hati ya."


Salman mencium kening sang istri dan beranjak pergi dari meja makan.


saat Salman membuka pintu utama dia begitu terkejut dengan kehadiran seorang wanita yang berdiri tepat dihadapannya.

__ADS_1


"permisi tuan, apa betul ini rumanya nyonya Asyifa..?"


Salman masih mematung di tempatnya, pikirannya masih melayang ntah kemana


"maaf tuan, apa benar ini rumahnya nyonya Asyifa..? wanita tersebut masih bertanya sambil melambaikan tangan di hadapan sang tuan rumah.


sontak Salman tersadar dari lamunannya.


"ka...kamu ma...masih hi...hidup."


"maaf tuan maksud tuan apa ya.?


wanita itu kebingungan dengan pertanyaan sangtuan rumah.


"Bukannya ka...kamu sudah..."


"Ada apa mas, katanya mau berangkat kerja kok masih berdiri disituh." tanya Asyifa yang tiba-tiba muncul didekatnya.


"i...itu dek a...ada." Salman tak mampu melanjutkan kata-katanya dia hanya menunjuk kearah wanita yang masih setia berdiri di tempatnya.


Asyifa langsung berjalan dan melihat dimana Salman menunjuk kearah depan, karena memang dari dalam Asyifa tidak bisa melihat apa yang ada di depan pintu.


"Ohh.. itu yang membuat mas bingung daritadi.? ini Mirna mas waktu itu aku ketemu sama dia di pasar kebetulan dia sedang cari kerja dan kita juga butuh pembantu, yaudah aku suruh dia datang kesini. Maaf ya mas, aku lupa cerita sama kamu." jelas Asyifa kepada Salman.


"jadi dia Mirna dan kamu suruh Keja disini.? kamu sudah tau latarbelakangnya dia seperti apa.? jangan sembarangan mempekerjakan orang asing dirumah kita."


Salman sebenarnya sedikit lega karna perempuan itu bukan Marni tapi dia juga masih merasa cemas karena Marni dan Mirna begitu mirip.


"ya meskipun aku belum tau latarbelakangnya Mirna tapi aku yakin kalau dia itu baik mas, boleh ya mas dia kerja di sini, aku cape harus ngurus rumah sendirian." bujuk Asyifa dengan manja kepana suaminya.


"yasudah terserah kamu aja dek, mas berangkat kerja dulu ya." Salman mencium singkat kening istrinya dan berlalu pergi..

__ADS_1


__ADS_2