
🍂🍂🍂
"astaghfirullah mengerikan sekali kisah masa lalu rumah itu nek." Mirna tercengang mendengar penjelasan nek Mar.
"maka dari itu nenek meminta kamu ikut kesini nak, beruntung gadis berbaju biru itu membawa mu ke tengah hutan, hingga kamu bertemu dengan nenek."
"nek, apa sejauh ini sudah ada korban lagi setelah kedatangan Arjuna, maksud Mirna lelaki yang menempati rumah itu."
"Alhamdulillah nak sejauh ini belum, tapi kami tetap akan waspada, takut kejadian yang dulu terulang lagi."
"semoga saja ya nek Arjuna bukan keturunan dari Broto, O iya nek, kenapa nenek begitu tahu semuanya tentang rumah dan juragan Broto? apa jangan-jangan nenek."
"iya nak nenek adalah wanita yang saat itu dikejar oleh anak buah Broto, dan gadis kecil yang menolongmu waktu itu adalah adik nenek yang menjadi korban keserakahan Broto."
"astaghfirullah nek, maafkan Mirna nek, jika tahu arwah gadis itu adalah adik nenek, mungkin kemarin-kemarin Mirna gak akan memaksa nenek untuk cerita."
"tak apa nak, yasudah lebih baik kita pulang sekarang, sepertinya hujan akan turun."
kedua wanita beda usia itu kini berjalan menuju kediamannya.
———
Salman masih terikat di sebuah ruangan.
dia berusaha melepaskan diri.
akhirnya Salman bisa keluar dari ruangan tersebut melewati plafon rumah itu.
Salman begitu terkejut karena rumah itu berada di tengah hutan didekat danau tempat dulu dia melempar mayat Marni.
Buuugggh..
tiba-tiba tubuh Salman tersungkur ketanah.
dengan kesadaran yang kian menipis Salman melihat Juna menyeret tubuhnya kembali masuk kedalam rumah kecil itu.
hingga kini tubuh Salman kembali diikat oleh Juna.
"Takan semudah itu kamu lepas dari ku Salman.
"apa hu-hubungan kamu dengan Marni BERENGSEK..."
"hahahaha ternyata kamu sudah tahu jika aku melakukan ini demi Marni wanita yang telah kamu bunuh.." ucap lelaki itu dan duduk dihadapan Salman.
"apa kamu tahu Salman, dulu aku berniat menikahi Mirna meski aku tahu dia tengah mengandung anak kamu, tapi sayang wanita malang itu lebih memilih kamu, hingga dia meregang nyawa di tangan orang yang paling dia cintai."
"dari mana kamu tahu jika Marni telah mati."
__ADS_1
"aku tahu semuanya Salman, bahkan dimana kamu membuang jasadnyapun aku tahu, kamu tahu Salman jika yang membunuh pembantu kamu itu adalah saya, Mak Dasih mati ditangan saya."
"BERENGSEK,, apa yang kamu mau Juna?."
"bodoh, kamu bener bener bodoh ternyata Salman, tentu saja aku akan membuat kamu menderita, aku akan membalas penderitaan Marni, dan bagaimana rasanya kehilangan orang yang kamu sayangi?."
"apa maksud kamu Juna."
Buuugggh.. Buuugggh.. Buuugggh..
pukulan pukulan keras terus mendarat di uluhati salman.
"kamu pikirkan saja sendiri."
setelah puas menyiksa Salman arjunapun kembali mencari keberadaan Mirna.
dia tidak ingin kembali kehilangan wanita yang dia sayang.
meski Arjuna tahu jika dia bukan Marni.
tapi wajahnya yang begitu mirip membuat dia tetap menganggap jika itu adalah Marni.
hingga pencariannya membawanya kesebuah kamupung yang kini di tempati oleh Mirna.
orang-orang memandang heran kepada laki-laki itu.
"maaf tuan ini siapa ya."
"saya pemilik rumah di dekat hutan sana pak, saya juga baru tahu ternyata disini ada pemukiman."
para warga yang mendengar tempat tinggal Juna langsung merasa ketakutan dan berlari kembali masuk kedalam rumah mereka masing-masing.
Juna semakin dibuat heran dengan tingkah para warga disini.
"kenapa mereka ketakutan setelah aku mengatakan tempat tinggal ku, ada apa sebenarnya ini."
kabar kedatangan Arjuna langsung menyebar cepat keseluruhan warga kampung, hingga membuat dia semakin sulit menemukan informasi tentang Mirna.
Arjuna kembali kerumah kecil tempat dia menyekap Salman.
Juna mendapati Salman tengah terbaring lemas, ntah Salman tidur atau pingsan Juna tak peduli.
Juna langsung mengganti ikatan tali ditangan Salman menjadi rantai yang tersambung kearah jeruji besi didekat sana.
Juna mengalungkan rantai itu dileher salam, persis seperti hewan peliharaan.
Juna juga memberikan makanan agar Salman tidak mati kelaparan.
__ADS_1
dan membuka pintu kamar mandi agar Salman bisa melakukan aktivitasnya.
sebenarnya Juna tidak tega melakukan ini semua, tapi jika dia mengingat kembali kelakuan bejad Salman terhadap Marni membuat amarahnya kembali memuncak.
Juna meninggalkan rumah itu dan kembali menemui Asyifa.
"Juna kamu sudah kembali, mana Mira apa dia belum kamu temukan."
"belum Syifa, aku belum bisa menemukan Mirna."
"astaghfirullah, bagimana ini, aku takut terjadi sesuatu yang buruk kepadanya."
"sedahlah, kita berdoa saja semoga dia baik-baik saja."
"Juna sepertinya kamu menyukainya, benarkah itu."
"itu bukan urusan kamu, lebih baik kamu kembali kekamar."
Asyifa yang kaget mendengar bentakan dari Juna hanya bisa berjalan dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
setelah sampai dikamar, Asyifa menangis sejadi-jadinya.
"bodoh kamu Asyifa, apa yang kamu harapkan lagi dari Juna, kamu sudah melukai hatinya dulu, lalu apa masalahnya dengan kamu jika kina Juna mencintai wanita lain." Asyifa merbicara kepada dirinya sendiri.
Juna hanya mematung melihat kepergian Syifa.
"apa benar jika wanita itu menangis, tapi kenapa? apa karena bentakan tadi, ahhh sudahlah aku tidak peduli, yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana cara menemukan wanitaku." Juna dibuat bertanya-tanya karena sekilas dia melihat airmata syifa
sekelebat bayangan membuyarkan lamunan Arjuna. lelaki itu mengikuti kemana bayangan itu pergi.
hingga langkahnya terhenti disebuah dinding.
Arjuna heran pasalnya dinding ini tak seperti dinding seperti biasanya.
saat Juna menyentuhnya tak sengaja telapak tangannya tergores batu tajam dan membuatnya terluka.
tetesan darah yang tertinggal di dinding itu membuat dindingnya bergetar, Juna yang kaget sontak memundurkan tubuhnya.
saat dindin itu terbuka, mata Juna terbelalak lebar tubuhnya mematung.
matanya menatap lurus pada sosok misterius yang berada didalam kurungan besi.
"akhirnya kamu datang juga, setelah sekian lama aku menunggu, selamat datang tuan."
🍂🍂🍂
Bersambung...
__ADS_1