
🍂🍂🍂
"*apa sebenarnya yang kamu mau Juna? apa salah aku, kenapa kamu perlakukan aku seperti ini?." Asyifa menangis terisak.
kini dia bertekad untuk pergi meninggalkan rumah Arjuna.
setelah mempersiapkan perlengkapan yang mungkin saja di butuhkan untuk menempuh perjalanan nanti, Asyifa pun lekas keluar rumah menuju hutan.
karena Asyifa tidak mungkin berjalan melalui jalan utama.
hari semakin sore tapi Asyifa belum menemukan jalan raya.
"sial, nyesel aku waktu kesini tertidur di mobil jadi ginikan susah cari jalan." Asyifa terus saja menggerutu tanpa sadar ada sepasang mata yang terus memperhatikan langkahnya sedari tadi.
di sisi lain.
terlihat seorang gadis kecil berumur sepuluh tahun tengah tertidur diatas altar pemujaan.
Arjuna datang dengan membawa sebilah pisau yang sangat tajam.
mulutnya komat-kamit membaca mantra.
tanpa menunggu lama Arjuna langsung menggorok leher anak itu dan menampung darahnya mengunakan wadah kecil
setelahnya pisau itu ia tancapkan tepat di dada anak malang itu.
Arjuna membelah dada anak itu dia mengambil jantung dan hatinya, tak cukup sampai disitu Arjunapun mencongkel kedua bola mata anak itu.
setelah selesai Arjuna memberikan organ tubuh anak itu kepada bahubali dan menaburkan darah korban di atas patung Mahesa.
setelah ritualnya selesai Arjuna langsung mengubur jasad anak yang tak berdosa itu di halaman belakan rumahnya.
...----------------...
"Nek Marsih sedang apa kok melamun? ini sudah malam nek."
sebuah suara membuyarkan lamunan nek Marsih.
"kamu ternyata nak, kenapa kamu belum tidur juga nak."
"nenek kok ditanya malah balik nanya sih."
"ntahlah nak, nenek merasakan iblis jahat yang dulu meneror kampung ini telah kembali."
"maksud nenek, keturunan Broto telah kembali untuk meneruskan pesugihan itu nek?."
"sepertinya begitu nak, kita harus hati-hati, nenek yakin para warga yang sudah tua seperti nenek pasti merasakannya juga."
__ADS_1
"apa yang harus kita lakukan nek jika benar keturunan Broto telah kembali."
"sama seperti dulu, kita harus membunuh keturunan terakhir Broto, jika tidak korban akan semakin banyak berjatuhan."
"yasudah nek, kita bicarakan ini besok ya, sekarang kita masuk aja kedalam rumah, ini sudah malam, aku takut nek."
tak ada jawaban dari nek Marsih tapi beliau juga tidak membantah ucapan Mirna.
kedua wanita beda usia itu kini telah tertidur dengan pulas.
setelah kejadian Arjuna mencari Mirna nenek Marsih memang meminta Mirna yang sudah ia anggap seperti cucunya itu untuk tidur bersamanya.
...----------------...
Asyifa terus saja berjalan menyusuri hutan belantara.
beruntung dia telah mempersiapkan segalanya.
meski takut Asyifa terus saja melangkah hingga dari kejauhan matanya melihat sebuah rumah.
"loh kok ada rumah ditengah hutan begini ya, sepertinya ada yang tinggal disana."
setelah sampai didepan rumah itu dia melihat jika rumah itu tidak di gembok.
Asyifa mencoba membuka pintunya.
kreeet...
pintu rumah itu terbuka.
mata Asyifa terbelalak melihat seorang laki-laki tengah terbaring dengan rantai dilehernya.
Asyifa mencari sesuatu untuk dijadikan senjata, Asyifa takut jika orang didepannya berbahaya.
Salman yang merasa tidurnya terusik langsung bangun.
"tolong jangan siksa saya lagi, ampuni saya, saya tahu saya salah, bunuh saja saya saat ini juga."
tubuh Asyifa menegang melihat orang yang ada di hadapannya.
tiba-tiba sebuah cairan bening lolos begitu saja dari mata Asyifa.
wanita itu berjalan mendekati Salman.
"mas, apa yang terjadi sama kamu? kenapa kamu jadi seperti ini?."
"dek, Asyifa, apa itu kamu dek?"
__ADS_1
"iya mas ini aku Asyifa."
"Asyifa tolong cepat kamu pergi dari sini, sebelum orang itu menemukan kamu disini?."
"apa maksud kamu mas? siapa yang kamu maksud?."
"Arjuna dek, Arjuna orang jahat dek, dia yang telah membuat aku seperti ini, aku yakin dia tidak akan mengampuni siapapun yang menghalangi niatnya."
" apa, jadi semua ini perbuatan Juna? termasuk mata kamu juga mas?."
"iya dek, laki-laki pesicopat itu telah mencongkel mata mas, setiap dia kesini dia pasti selalu menyiksa mas, hingga mas jadi seperti ini dek."
"tapi apa yang sebenarnya terjadi mas? kenapa dia begitu membenci kamu mas?."
dengan berat hati Salman menceritakan semua kejadiannya, termasuk kejahatannya yang telah membunuh Marni dan juga kejadian meninggalnya orang-orang terdekat Salman.
"jadi dia mencintai Marni? dan kini dia berniat membalaskan dendamnya sama kita mas?."
"tidak dek, bukan kita tapi cuma mas seorang."
"tidak mas, aku juga kini jadi incaran kejahatan laki-laki itu...."
prok...prok...prok...
"bagus, ternyata aku tidak perlu susah-susah untuk mencari kamu syifa, kamu sendiri yang datang menyerahkan diri hahahaha."
"Juna lepaskan istriku, jangan kamu sakiti dia."
"apa, istri? apa aku tidak salah dengar Salman? bukankan kamu dan Asyifa sudah bercerai?."
"tolong Juna lepaskan kami, kami minta maaf atas apa yang terjadi kepada Marni, kamu juga pasti tahu jika mas Salman tidak berniat untuk membunuh Marni."
plaak...
tamparan keras mendarat di pipi Asyifa.
"berani kamu menyebut nama wanita ku Syifa, apa permintaan maaf kalian bisa mengembalikan Marni hah?."
"Juna tolong jangan sakiti Asyifa, biarkan dia pergi, apa belum cukup kamu menyiksaku selama ini?."
"hahahaha aku tidak akan melepaskan kalian, sampai kapanpun tidak akan pernah."
Buuugggh... Buuugggh... Buuugggh
Arjuna kembali memukuli Salman dengan membabi buta.
Asyifa yang mencoba meneraipun tak luput dari pukulan Arjuna
__ADS_1
🍂🍂🍂
Bersambung*...