
🍂🍂🍂
Arjuna dan Asyifa yang baru sampai dibuat heran, karena Mirna tak ada di kamarnya.
mereka berdua mencari keseluruh penjuru rumah, nihil, mereka tidak menemukan keberadaan Mirna.
Arjuna terlihat begitu panik melebihi kepanikan Asyifa.
"Juna gimana ini, kemana kira-kira perginya Mirna, aku takut terjadi sesuatu kepadanya."
"tenanglah Syifa, aku akan coba mencari keberadaan Mirna, kamu tunggu disini aku akan mencari dia didekat hutan, siapa tahu karena bosan dia pergi kesana"
"aku ikut Juna, aku gak mau berdiam diri seperti ini."
"tunggulah disini Syifa, aku akan segera kembali sebelum malam."
setelah mengatakan itu Arjuna mencoba mencari keberadaan Mirna di dekat hutan, nihil Juna tak juga mendapat petunjuk dimana keberadaan Mirna.
kini waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam tapi Juna juga tak kunjung kembali, itu membuat Asyifa semakin khawatir.
tak berselang lama, Arjuna kembali kerumah tapi tanpa Mirna bersamanya.
"Juna mana Mirna, jangan kamu bilang wanita itu tidak ketemu, bisa gawat nantinya."
"tenanglah Syifa, aku yakin cepat atau lambat dia juga akan kembali kesini, karena rumah ini begitu terpencil."
"apa kamu yakin Juna kalau Mirna akan baik-baik saja dan kembali kerumah ini?."
"aku tak yakin, tapi semoga saja dia cepat kembali, aku juga gak tahu mau cari dia kemana."
dikediaman nek Marsih, kini Mirna tengah duduk menikmati makan malamnya bersama nek Mar.
"nek, pasakan nenek enak sekali, meski sederhana tapi begitu nikmat."
"apa kamu suka nak?."
"iya nek, Mirna suka."
"syukurlah jika kamu menyukainya nak."
Mirna hanya tersenyum menanggapi ucapan nek Mar.
setelah selesai nek Mar hendak kembali masuk kedalam kamarnya, tapi langkahnya terhenti saat suara Mirna tertangkap oleh Indra pendengarnya..
"nek, bisa kita bicara sebentar."
"kamu mau bicara apa nak, ini sudah malam lebih baik kamu tidur."
"tapi nek Mirna begitu penasaran dengan sejarah rumah megah itu yang kata nenek berbahaya.."
"besok saja nak, saat ini nenek sangat capek."
"tapi nek, Mirna...."
tanpa mendengar ucapan Mirna nek Marsih langsung masuk kedalam kamarnya.
Mirna merasa curiga dengan gelagat nek Mar, tapi dia tidak bisa berbuat banyak, terlebih dia tidak mengenal daerah sini..
dengan memendam banyak pertanyaan Mirnapun melangkahkan kakinya menuju kamar cucunya nek Mar.
kamarnya memang tidaklah besar hanya ada ranjang dan juga lemari kecil.
tapi kamar ini terasa nyaman untuk ditempati.
———
kini Salman semakin terpuruk, rumah yang dia tempati bersama Asyifa dulu, kini bukan lagi miliknya, seseorang telah mengaku sebagai pemilik baru rumah tersebut, awalnya Salman tidak percaya dan masih kekeh bahwa ini adalah rumahnya, hingga orang-orang itu menunjukkan bukti-bukti jika rumah itu memang sudah dijual kepada mereka. dengan berat hati Salman kembali kerumah kedua orangtuanya.
didalam kamar Salman meratapi kesedihannya, dalam kurun waktu yang sangat dekat semuanya sudah berubah bahkan dia sudah kehilangan orang-orang yang dia sayangi.
saat Salman memejamkan matanya bayangan masa lalu bersama Marni kembali terbayang dalam ingatannya.
flashback on.
"maaf mbak saya tidak sengaja, apa mbak tidak apa-apa?."
__ADS_1
"iya mas tak apa kok, saya baik-baik saja."
"maaf mbak, sepertinya baju mbak basah, lebih baik mbak ganti baju dulu, mari saya anterin kesalasatu toko baju terdekat dari sini."
"tak perlu mas tidak apa-apa kok, baju saya juga basahnya cuman sedikit."
"Salman."
"hah."
"Salman mbak, nama saya Salman."
"oh, nama mas Salman saya kira tadi mas nyebut artis Bollywood yang terkenal itu, hehehee"
"kamu ada-ada saja, o iya nama kamu siapa?."
"nama saya Marni mas."
"nama yang indah seperti orangnya."
"ahhh, mas bisa saja." jawab Marni dengan tersipu malu.
hari demi hari hubungan mereka semakin dekat.
malam itu Salman mengungkapkan perasaanya kepada Marni.
Marni yang juga merasakan hal yang sama kepada Salman tanpa berpikir panjang langsung menerima cinta Salman.
kini hubungan mereka sudah teramat jauh satu tahun sudah mereka menjalin hubungan.
"mas, gak kerasa ya kita pacaran sudah satu tahun, kapan dong kamu mau nikahin aku?."
"sabar ya sayang, setelah urusan mas selesai, mas janji tak akan lama lagi kita akan menikah."
"kamu janji janji Mulu, sampai sekarang masih betah aja pacaran."
"sayang kamu kan tahu sendiri pekerjaan mas seperti apa, jadi sabar dulu ya."
satu bulan telah berlalu bahkan Salman jarang memberinya kabar, Marni yang tak kuasa menahan rindu kepada pujaan hatinya itu selalu mencari informasi tentang tempat tinggal Salman, hingga suatu hari tak sengaja dia melihat Salman di pusat perbelanjaan.
Marni terus berusaha menghubungi nomor handphone kekasihnya itu.
tersambung tapi tak di angkat, hingga sebuah notifikasi pesan dari Salman membuat sedikit kegalauan hatinya berkurang.
@salman
[maaf sayang aku akhir-akhir ini aku sibuk banget, sampe lupa ngasih kabar kamu]
@marni
[sibuk terus, sampai lupa sama aku, apa jangan-jangan kamu selingkuh]
@salman
[kamu ngomong apa sih sayang, siapa juga yang selingkuh, kamu juga tahu kan jika aku cintanya sama kamu doang]
@marni
[bohong, kemarin aku lihat kamu sama cewe lain di mall, mana mesra banget lagi, apa coba kalau bukan selingkuh]
@salman
[maaf sayang, nanti aku jelasin semuanya sama kamu, jalan yuk, nanti aku jemput kamu dirumah]
@marni
[jangan dirumah mas, lagi ada kakak aku, ditempat biasa aja ya.]
@salman
[yasudah siap-siap gih, jangan lupa dandan yang cantik ya sayang]
siang harinya Marni sudah rapih dan cantik, Marni berpamitan kepada kakaknya untuk pergi menemui kekasihnya itu.
"aduh adek kesayangan kakak mau kemana nih, udah cantik dan rapih."
__ADS_1
"hehehe aku mau main sama temen dong kak, aku pergi bentar ya kak."
"mau pergi kemana dek, Kakak anter ya."
"iisshhh, apaan sih kak, aku udah gede yah, gak usah dianter-anter segala, ya sudah aahhh kak aku pergi dulu udah telat soalnya"
"hati-hati dek, pulangnya jangan terlalu malem ya."
"siap bos."
setelah Marni sampai ditempat yang dijanjikan, ia disambut hangat oleh Salman.
Salman mengajak jalan-jalan kekasih hatinya itu.
saat mereka menikmati makan siang yang sebenarnya sudah telat tiba-tiba Marni merasakan perutnya begitu mual, dia segera berlari menuju toilet.
lima menit telah berlalu tapi Marni tak kunjung kembali, Salman yang merasa khawatir langsung menyusul kekasihnya itu.
Salman menanti didepan toilet.
selang beberapa menit munculah orang yang sedari tadi dia tunggu.
Salman begitu kaget melihat wajah Marni yang begitu pucat.
"sayang kamu kenapa? apa kamu sakit?."
"aku tidak tau mas, tiba-tiba saja perutku begitu mual, badanku lemes, kepalaku juga pusing."
"ya sudah, kita kedokter ya, aku gak mau kamu kenapa-kenapa."
Marni yang sudah lemas hanya bisa mengangguk menanggapi ucapan Salman.
setelah sampai dirumah sakit Marni langsung diperiksa.
"bagaimana keadaannya dok, apa semua baik-baik saja?."
"semua baik-baik saja pak, selamat ya istri anda sedang mengandung, diperkirakan usia kandungannya sudah memasuki Minggu kelima."
"mak-maksud dokter dia hamil?."
"iya pak, istri bapak sedang hamil, ini saya sudah resepkan obatnya, tolong nanti di tebus di apotik ya."
Salman hanya mengangguk.
sedangkan Marni hanya diam membisu, tubuhnya begitu lemas, airmata tak dapat dia bendung lagi.
Salman segera mengajak Marni masuk kemobil dia membawa Marni kesebuah tempat yang jarang dikunjungi oleh orang-orang.
"bagaimana ini bisa terjadi Marni, aku kan sudah sering bilang kamu jangan sampai hamil."
"memangnya kenapa jika aku hamil mas, ini juga anak kamu, kamu tinggal tangung jawab saja dan semuanya beres."
"maaf Marni aku tidak bisa menikahi kamu, kamu harus gugurkan kandungan kamu."
"apa maksud kamu mas?, dan kenapa tidak bisa nikahin aku mas ?, ini anak kamu, apa kamu tega mau membunuhnya."
"dengar Marni aku memang mencintai kamu tapi aku sudah punya istri, dan aku tidak mungkin bisa menikah sama kamu."
"a-ap is-istri, sejak kapan kamu punya istri mas? jawab aku mas."
"jauh sebelum aku mengenal kamu, aku sudah menikah, jadi aku minta tolong sama kamu gugurkan kandungan kamu"
plaak...
"Marni jangan ngeyel kamu, ini juga demi kebaikan kita."
"aku tidak mau mas, biarkan anak ini hidup dia tidak berdosa."
"gugurkan kandungan kamu, atau aku yang akan melakukannya."
perdebatan tak bisa lagi dihindarkan hingga akhirnya kejadian naas itu menimpa Marni.
flashback off..
🍂🍂🍂
__ADS_1
Bersambung...