DENDAM ARWAH SANGKEKASIH

DENDAM ARWAH SANGKEKASIH
BAB 29


__ADS_3

🍂🍂🍂


mentari pagi kini telah menyinari bumi.


Mirna terbangun dari tidurnya.


semalam dia dan Endang berlari hingga mereka benar-benar lelah dan memutuskan untuk beristirahat di pinggir sungai.


Mirna berjalan menuju sungai tanpa disangka seseorang membekap mulutnya dan menariknya menuju semak-semak.


beruntung dia sempat mengambil kerikil dan melemparkannya kearah Endang.


endang yang merasa tidurnya terganggu dengan sigap bangun dari tidurnya.


Endang panik karena Mirna tak ada di dekatnya.


beruntung Indra pendengaran Endang tajam,


telinganya mendengar suara di semak-semak.


dengan waspada dia segera merogoh pisau lipat yang selalu ia bawa di aku celananya.


dengan perlahan Endang berputar arah mencari jalan lain.


dengan gerakan cepat endang telah berada tepat di belakang orang misterius itu.


"lepaskan wanita itu, atau kamu akan menyesal."


"apa yang akan kamu lakukan jika saya tidak mau melepaskannya."


orang tersebut membalikan tubuhnya dan mencoba menyerang Endang.


dengan sigap endang mampu menghindari serangan dari orang tersebut.


tanpa disangka Endang dengan mudahnya mampu mengalahkan orang tersebut.


dengan cepat endang langsung membuka penutup wajah orang itu.


"siapa yang sudah menyuruh kamu."


"ampuni saya bang, saya hanya sedang berpetualang di hutan ini, tapi satu persatu teman saya menghilang, maafkan saya jika tadi saya mengira kalian dalang dibalik menghilangnya teman-teman saya."


setelah mendengar penjelasan dari orang itu, Endang langsung melepaskannya.


"berapa orang yang bersama kamu?."


"kami berenam bang, tapi kini hanya tinggal saya seorang, teman-teman saya menghilang setelah mereka mendengar nyanyian seorang wanita." jelas orang tersebut.


"siapa nama kamu?, dan kenapa kamu masih berada disini?, harusnya kamu kembali ke kota untuk mencari bantuan."


"saya Armand bang dan saya sudah mencoba untuk pergi, tapi saya terus saya kembali ketempat ini lagi."


setelah bercerita satu sama lain, akhirnya Armand sepakat untuk ikut dengan Endang dan juga Mirna.


setelah sarapan mereka melanjutkan perjalanan.


ditengah perjalanan tiba-tiba seseorang berpakaian serba hitam menghadang langkah mereka dengan mengacungkan parang.


"berikan gadis itu padaku, jika tidak mau mati di tanganku."


"aji benarkah ini kamu?."

__ADS_1


Armand hendak melangkahkan mendekati aji, tapi secepat kilat Endang menarik pergelangan tangannya.


"tetap di tempatmu Armand, dia bukan lagi temanmu, jiwanya telah digantikan oleh iblis yang menginginkan Mirna."


"apa maksud kamu bang?."


sebelum sempat menjawab pertanyaan dari Armand, Endang sudah diserang oleh aji.


tubuh Mirna bergetar ketakutan melihat betapa sengitnya perkelahian didepan matanya.


beruntung Armand sigap melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, Mirna yang mendengarnya juga mengikuti cara Armand.


tubuh aji terpental ke belakang dan tak lama dari itu dia pergi entah kemana.


"lebih baik sekarang kita cepat pergi, sebelum masalah kembali menghalangi jalan kita."


Mirna dan Armand hanya mengangguk dan segera mengikuti langkah Endang.


tak berselang lama mereka telah sampai di pinggir jalan.


"akhirnya kita sampai di jalan menuju kota." ucap Armand.


mereka bergegas melanjutkan perjalanan berharap pengikut Arjuna tak lagi menemukan mereka.


karena hari semakin siang mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak.


setelah mereka menemukan tempat yang pas untuk bersembunyi, tiba-tiba sebuah mobil melewati tempat itu, mobil itu adalah mobil yang begitu Mirna kenal.


beruntung mereka sempat bersembunyi.


endang terus saja berkomat-kamit membaca mantra.


karena Arman dan Mirna tidak mau mengganggu konsentrasi Endang mereka memilih untuk diam


"syukurlah iblis itu tidak bisa merasakan keberadaan kita."


"makasih bang sudah melindungi kita."


"jika perasaan kalian tak nyaman, segeralah membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an, saya yakin Arjuna Takan melepaskan kita begitu saja."


mereka berdua hanya mengangguk mendengar peringatan dari Endang.


"lalu bagaimana dengan nasib teman-teman saya bang?, apa mereka akan selamat?."


"kita tidak bisa berharap banyak Armand, kamu bisa lihat sendiri bagaimana keadaan salah satu teman kamu tadi."


Armand yang mendengar itu hanya menundukkan kepalanya.


dia bingung bagaimana menjelaskannya kepada keluarga sahabatnya nanti.


dirasa sudah cukup mereka kembali melanjutkan perjalanan.


hingga malam mulai menjelang mereka baru sampai di kota.


"sekarang kita harus kemana kak Endang, aku tidak punya tempat tinggal." ucap Mirna


"ntahlah Mirna, yang terpenting sekarang adalah kita jangan sampai terpisah."


"bang bagaimana jika kalian tinggal di rumahku, Abang dan Mirna tidak perlu khawatir karena aku hanya tinggal sendiri, disana juga Ada kamar kosong."


karena tak ada pilihan lain merekapun menyetujui saran dari Armand.

__ADS_1


sesampainya di rumah Armand, Endang merasakan jika rumah Armand diselimuti oleh aura positif itu akan sedikit aman bagi mereka untuk tinggal.


Arman dan Mirna heran karena mereka melihat Endang hanya diam saja saat melihat rumah Armand,


"bang kenapa melamun, apa rumah ini tidak nyaman?."


"tidak bukan begitu Armand, rumah ini nyaman aku yakin kamu orang baik."


"terimakasih bang, kalau begitu mari masuk, anggap saja ini rumah kalian."


setelah mereka memasuki rumah, Armand langsung menunjukan kamar kosong yang bersebelahan dengan kamarnya.


"Mirna kamu tidur disini gak apa-apakan?, kamarnya bersih kok, setiap hari aku selalu membersihkannya, hanya saja mungkin sekarang agak berdebu karena aku tak bisa keluar di hutan itu."


"tak apa Armand, terimakasih banyak atas bantuannya."


setelah mengatakan itu Mirna langsung masuk kedalam kamar itu karena dia sudah tidak tahan ingin segera membersihkan tubuhnya.


Armand dan Endang akan tidur dalam satu kamar yang sama.


saat tengah malam Armand bermimpi bertemu dengan para sahabatnya.


mereka seperti ditawan di suatu tempat yang gelap.


mereka meminta Armand untuk menyelamatkan mereka.


Arman terbangun dalam keadaan berkeringat dingin, di lantai terlihat endang sedang bersila sambil membaca mantra.


diluar terdengar suara Geraman yang sangat menggelegar, suara cekikikan dan cakaran di dinding begitu terdengar jelas.


Armand yang khawatir dengan keadaan Mirna langsung keluar kamar, dia yakin jika kini Endang tengan berjuang melawan para iblis itu.


saat sampai di depan kamar yang di tempati Mirna, samar-samar Armand mendengar suara tangisan dari dalam kamar.


beruntung kamar tersebut tidak di kunci.


mata Armand terbelalak melihat Mirna yang tengah terpojok menghindari sosok wanita yang begitu menyeramkan.


sigap Armand langsung membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an hingga mahluk itu menjerit dan hilang entah kemana."


"Mirna apa kamu baik-baik saja."


"ya Armand, aku baik-baik saja, makasih sudah menolongku."


mereka berdua segera keluar kamar dan kembali kekamar Armand, terdengar suara dentuman keras dari arah depan rumah.


saat Armand hendak melangkahkan kakinya menuju depan, suara endang menghentikan niatnya.


"tetap berada di kamar ini, itu adalah perlawanan dari iblis yang mencoba masuk kedalam rumah ini."


"tapi kenapa para iblis bisa tahu keberadaan kita bang?."


"itu semua karena aroma dari Mirna, ntah itu barang atau rambut yang tertinggal di rumah terkutuk itu, yang membuat mereka bisa menemukan kita dengan mudah."


"AstaghfirullahAlazim, lalu bagaimana caranya supaya mereka tidak bisa menemukan kita kak?."


" saya belum tahu, tapi teruslah dekatkan diri kita kepada yang maha kuasa, mudah-mudahan kita segera terhindar dari teror ini."


...----------------...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2