DENDAM ARWAH SANGKEKASIH

DENDAM ARWAH SANGKEKASIH
BAB 25


__ADS_3

🍂🍂🍂


setelah puas melampiaskan kemarahannya kepada Salman, Arjuna mengangkat tubuh Asyifa di pundaknya.


dengan kasar Arjuna memasukan tubuh Asyifa kedalam bagasi mobil.


ternyata sakit hati, amarah, dan dendam bisa membuat seseorang yang lemah menjadi sangat bringas.


setelah Arjuna sampai di kediamannya, Arjuna langsung menyeret paksa tubuh Asyifa.


sebenarnya Asyifa tidak pingsan sepenuhnya, hanya saja tubuhnya begitu sakit untuk digerakkan.


kini Asyifa hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi kepadanya.


pagi telah menjelang...


Asyifa terbangun ditempat yang minim pencahayaan.


dia mencoba bangun, tapi tubuhnya begitu sakit.


"aawww, rasanya tubuhku remuk gara-gara perbuatan laki-laki bajingan itu"


Asyifa melihat kesekeliling tempat dia disekap.


dia mencoba mencari celah untuk bisa kabur dari tempat ini.


tapi sayang tak ada sedikitpun celah untuk dia bisa kabur.


seluruh jendela tertutup rapat oleh papan, hanya lubang pentilasi yang memancarkan cahaya dari luar hingga membuat ruangan itu sedikit terang.


Asyifa hanya bisa menangis meratapi nasibnya.


kejadiannya sangat cepat, orang yang dia anggap baik ternyata menyimpan dendam kepadanya dan juga mantan suaminya.


tiba-tiba sekelebat bayangan mengangetkan Asyifa.


tangisan anak kecil dan juga bau anyir darah menyeruak begitu saja di ruangan itu.


tiba-tiba darah segar menetes keatas kepala Asyifa.


"cairan apa ini?." hidung Asyifa mengendus aroma cairan itu.


"aaaaaakkhhhh ini darah." dia terduduk di lantai, tubuh Asyifa bergetar hebat.


tak sampai disitu bahkan sepasang bola mata yang entah darimana asalnya menggelinding tepat saat tangan Asyifa menyentuh lantai.


"benda apa ini, kenapa terasa kenyal sekali." dengan ragu Asyifa menggenggam bola mata itu dan mendekatkannya kearah wajah


sontak tangannya gemetar hebat, melihat benda apa yang kini ada ditangannya.


"kembalikan bola mataku kak."


suara anak kecil bicara tepat di telinga Asyifa yang membuat tubuh Asyifa semakin bergetar ketakutan.


dengan refleks Asyifa melempar bola mata itu kesembarang arah.


"siapa kamu, kenapa kamu mengganggu saya?."


"tolong saya kak, orang itu membunuh saya, jantung dan hati saya di ambil, bola mata saya dicongkel hihihihihi."

__ADS_1


"tolong pergi jangan ganggu saya." Asyifa terus berteriak tengan tubuh yang gemetar hebat.


hingga akhirnya Asyifa tak sadarkan diri.


dilain tempat, nek Marsih yang sedang bekerja diladang didatangi oleh Arjuna.


"akhirnya aku menemukanmu nenek tua hahahaha."


"pergi dari sini, jangan kamu ganggu kehidupan warga kampung ini lagi iblis."


"hahahaha, aku tidak akan mengganggu kalian, jika kalian mau bekerja sama denganku."


"apa yang kamu inginkan iblis."


"aku menginginkan wanita yang ada di rumahmu, kembalikan dia padaku nenek tua, aku tahu arwah adikmu telah menyelamatkannya dariku."


"jangan harap kamu bisa mendapatkan cucuku iblis."


"hahahaha kita lihat saja siapa yang akan menang, dia wanitaku jadi hanya aku yang berhak atas dirinya." Arjuna lalu pergi meninggalkan nenek Marsih begitu saja.


nenek Marsih yang ketakutan langsung berlari menuju rumahnya.


dia tahu jika kini keselamatan Mirna dan gadis-gadis di desanya sedang terancam.


sesampainya dirumah nek Marsih mencari-cari keberadaan Mirna.


tapi sayang Mirna tak ada dirumah itu.


nek Marsih kembali berlari keluar rumah guna mencari keberadaan Mirna.


beruntung seorang wanita memberi tahu dimana keberadaan Mirna.


dengan cepat nek Marsih berlari menuju kearah sungai yang lumayan jauh dari rumah mereka.


"nak Mirna ayo cepat pulang, kalian semua juga harus cepat pulang, sudah berapa kali nenek memberitahu kalian jika berbahaya keluyuran seperti ini."


Mirna dan para gadis yang melihat kemarahan nek Marsih langsung meminta maaf dan segera membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing.


tak ada percakapan diantara Mirna dan nek Marsih.


mereka larut dalam pikiran masing-masing.


hingga malam kembali menjelang.


kampung tempat tinggal Mirna kini terasa lebih sunyi dari biasanya.


lolongan anjing dan suara hewan malam semakin menambah kesunyian malam.


samar-samar telinga Mirna menangkap suara langkah kaki didekat rumah.


saat hendak bangun nek Marsih mengisyaratkan agar Mirna tetap diam ditempat tidur.


nek Mar langsung duduk bersila dilantai beralaskan tikar.


"nak, apapun yang terjadi jangan pernah kamu turun dari ranjang itu, karena ranjang itu telah nenek beri mantra pelindung."


"memangnya apa yang terjadi nek?."


"sudahlah, bukan saatnya untuk bertanya, lakukan perintah nenek."

__ADS_1


Mirna hanya mengangguk dan melihat nek Marsih yang mulai membaca mantra yang ntah apa artinya.


tiba-tiba rumah yang mereka tempati terasa berguncang dengan hebat, barang-barang berjatuhan dimana-mana, suara cekikikan seorang perempuan membuat bulu kuduk Mirna berdiri.


bahkan suara seperti cakaran dan geraman yang sangat menggelegar membuat nyali Mirna semakin menciut.


Mirna melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dia hapal berharap itu akan membantu nek Marsih dalam menghadapi mahluk halus yang kini mengganggu mereka.


tiba-tiba tubuh nek Mar terjungkal kebelakang dan ia memuntahkan cairan merah pekat.


Mirna yang khawatir hendak turun dari ranjang.


"tetap ditempat mu nak, jangan beranjak sedikitpun."


"tapi nek, nenek terluka parah, aku takut nenek kenapa-kenapa."


"tetaplah disana nak, dan terus bantu nenek dengan ayat-ayat suci Al-Qur'an."


Mirna hanya mengangguk menanggapi ucapan nek Marsih.


hingga akhirnya suara dentuman keras diatap rumah mengakhiri semuanya.


nek Marsih pingsan dalam keadaan lemah.


Mirna bingung harus melakukan apa.


ingin menolong tapi dia ingat dengan pesan yang di ucapkan oleh nek Marsih.


tapi membiarkan nek Marsih pingsan dalam keadaan seperti itu juga membuat dia semakin tak tenang.


Mirna mencoba meminta tolong, tapi sayang suaranya seakan tak terdengar oleh para tetangga


Mirna hendak turun dari ranjang tapi sebuah suara menghentikannya.


"tetap disana Mirna, aku akan mencoba membantu nenek ini."


"Marni, kamu disini?."


"ya Mirna tetaplah disana, iblis itu masih berkeliaran di dekat rumah ini dan juga didesa ini untuk mencari tumbal, biarkan nenek ini menjadi urusanku."


dengan segera arwah Marni mendekati tubuh lemah nek Marsih.


sebelum Marni sampai sebuah kekuatan menghempaskan arwah Marni.


terlihat Marni seperti tercekik, tubuhnya berontak kesana kemari.


"Marni, kamu kenapa? tolong jangan buat aku semakin takut Marni."


"te-tetaplah disana Mirna, tunggu sa-sampai nenek itu bangun, dia a-akan baik-baik saja."


tanpa diduga arwah Marni terbakar dan hangus.


Mirna menangis histeris melihat sodara kembarnya musnah.


dilain tempat Arjuna terlihat marah mengetahui jika arwah Marni telah musnah,


meski malam ini dia mendapatkan korban yang masih perawan tapi dia juga marah karena iblis-iblis suruhan bahubali hampir membunuh Mirna dan juga iblis itu berhasil memusnahkan arwah Marni.


...****************...

__ADS_1


🍂🍂🍂


Bersambung..


__ADS_2