
🍂🍂🍂
Tiba-tiba sekelebat bayangan mengangetkan Salman, yang seketika membuat dia tersedak. pasalnya bayangan itu berhenti tepat didekat meja makan.
"aduh mas pelan-pelan dong makannya, nih Minum dulu." kata Asyifa sambil menyodorkan gelas berisi air Putih.
Salman menerima dan langsung meminumnya.
"makasih dek."
"sama-sama mas."
saat Salman kembali melihat ke arah bayangan itu berhenti, sosok itu sudah tak ada di tempatnya.
"kemana bayangan itu pergi, apa hanya halusinasi ku saja." batin Salman bermonolong.
"mas kamu kenapa sih, kok malah bengong?." pertanyaan Asyifa membuat Salman kembali tersadar dari lamunannya.
"mas gak kenapa-kenapa kok dek, mas sudah kenyang mas tidur dulu ya." salaman pun beranjak dari meja makan dan berlalu pergi menuju kamarnya.
Asyifa yang heran dengan tingkah sang suami buru-buru menyelesaikan makannya dan mengejar Salman.
setelah Asyifa sampai dikamar dia langsung merebahkan tubuhnya didekat sang suami dan langsung memeluknya.
"mas kamu sakit ya? kok tubuh kamu dingin banget."
tak ada jawaban Salman masih diam membelakangi Asyifa.
Asyifa yang heran langsung membalikan tubuh Salman.
betapa kagetnya dia saat mendapati Salman berubah menjadi seorang wanita dengan wajah yang begitu mengerikan, mukanya hancur dipenuhi darah dan belatung.
"Aaaaaakkhhhh SETAAAAN...." teriak Asyifa dengan begitu kencang
"KALIAN HARUS MATI..." teriak hantu wanita itu dan langsung mencekik Asyifa.
"si—apa ka—mu, apa salah ku, kenapa kamu mau mem—bunuh aku.." tanya Asyifa dengan napas yang mulai tersengal karena cekikan hantu wanita itu begitu kuat.
hantu itu terus saja mencekik Asyifa, seakan dia tak akan membiarkan Asyifa untuk bernafas.
"astaga dek kamu kenapa mencekik leher kamu sendiri." teriak Salman panik dan langsung menghampiri istrinya yang sudah mulai memucat.
dengan sekuat tenaga salaman melepaskan cengkraman tangan di leher sang istri.
setelah cekikan itu terlepas Asyifa langsung tak sadarkan diri.
__ADS_1
Salman panik karena istrinya tak biasanya bersikap seperti itu.
"dek bangun, astaga apa yang terjadi? kenapa kamu begini?."
gegas Salman membopong tubuh istrinya keluar rumah dan masuk kedalam mobil,
kendaraan roda empat itupun maju membelah jalanan menuju rumahsakit terdekat.
setelah sampai disana istrinya segera mendapat penanganan dari dokter, beruntung karena rumahsakit sedang sepi.
saat dokter sedang memeriksa Asyifa di dalam, Salman menunggu diluar dengan perasaan khawatir juga bingung apa yang menyebabkan istrinya seperti itu.
"permisi tuan, bagaimana keadaan nyonya Asyifa sekarang." seorang wanita bertanya tepat disebelah Salman.
"Ka–kamu sedang apa disini? dan ka–kamu tau darimana jika istri saya sedang tidak baik-baik saja Mirna." bukanya menjawab Salman malah kembali bertanya kepada Mirna, pasalnya dia bingung sebab dia tidak memberitahukan kepada Mirna jika istrinya pingsan.
"maaf tuan, tadi pas tuan masuk, kebetulan saya baru mau keluar habis jenguk teman." jawab Mirna dengan tatapan kosong dan wajah yang pucat.
"Mirna apa kamu sakit? kenapa wajah kamu begitu pucat?."
"tidak apa-apa tuan, saya hanya kedinginan."
"Mirna apa kamu punya kem..."
belum sempat Salman meneruskan pertanyaannya, Sura seorang wanita menghentikan ucapannya.
"saya suaminya sus."
"silahkan masuk pak, dokter ingin bertemu."
"Baik sus terimakasih."
"baiklah pak saya permisi dulu." pamit suster tersebut.
suster itupun berlalu pergi dari ruangan tersebut.
sebelum Salman masuk ruangan dimana istrinya dirawat, Salman sempat melihat kearah pembantunya itu. nihil pembantunya tak ada disana.
"kemana perginya si Mirna? aahh sudahlah mungkin dia sudah pulang, untuk apa juga aku mikirin dia." ucap Salman dalam hati.
setelah sampai di samping dimana istrinya seorang dokter tengah berdiri menunggu Salman.
"Permisi dok saya suami dari pasien, bagaimana keadaan istri saya?"
"istri anda baik-baik saja, dia hanya syok saja, tapi sepertinya istri anda mengalami ketakutan yang hebat, apa ada orang yang mau mencelakainya pak? soalnya sedari tadi pasien berteriak mengatakan jangan bunuh saya." jelas dokter tampan tersebut
__ADS_1
"sepertinya tidak dok, soalnya istri saya pingsan tepat setelah saya masuk kamar."
"maaf pak sebaiknya Anda waspada saja, maaf saya terlalu ikut campur dalam urusan pribadi bapak, takutnya hal serupa akan terulang kembali."
"baik dok terimakasih."
"Baiklah saya permisi dulu, besok istri bapak boleh pulang."
sebelum dokter itu pergi dia sempat melihat kearah pojokan kamar, dokter itu seperti sedang melihat sesuatu.
Salman yang sedari tadi melihat dokter itu merasa aneh dengan tingkah dokter tersebut yang terus melihat kearah pojokan kamar.
"dokter apa ada yang salah?." tanya Salman yang membuat dokter tersebut melihat kearahnya.
"tak apa pak, saya permisi dulu."
dokter itupun berlalu pergi dari ruangan Asyifa.
"dek, kamu kenapa sebenarnya?." ucap Salman sambil terus memegang tangan sang istri.
malam semakin larut, tapi Salman tidak bisa memejamkan matanya.
dia mendengar seperti ada seseorang yang mengetuk pintu, meski heran Salman tetap melangkah menuju pintu takutnya itu suster yang akan memeriksa keadaan istrinya.
kosong.. tak ada orang di depan pintu, Salman kembali masuk kedalam kamar tempat istrinya dirawat.
belum sempat Salman duduk, dia kembali mendengar ketukan pintu, dia kembali berjalan menuju pintu, keadaan tetap sama, tak ada orang di sana.
Salman kembali masuk kedalam.
saat membalikan badannya Salman begitu terkejut karena dia melihat istrinya tengah berdiri di dekat kamar mandi dan membelakanginya.
"sayang kamu sudah sadar, kenapa gak panggil aku kalau mau kekamar mandi."
Salman berjalan mendekati istrinya.
istrinya tetap diam meski dipanggil berkali-kali.
"sayang..."
saat Salman membalik tubuh sang istri,
tiba-tiba...
"aaaaaakkhhhh....."
__ADS_1
🍂🍂🍂
bersambung...