
🍂🍂🍂
tiba-tiba Asyifa meloncat ke dalam kolam renang.
Salman seketika panik karena dia tau jika istrinya itu tidak bisa berenang.
Salman langsung ikut meloncat masuk kedalam kolam, saat dia sudah menggapai tubuh sang istri, Salman kembali dibuat terkejut karena yang saat ini berada dihadapannya bukanlah Asyifa melainkan arwah Marni.
tatapan mata Marni begitu mengerikan, kulit wajah yang mengelupas dan seringai menyeramkan menghiasi wajah hancur Marni.
Salman mencoba sekuat tenaga untuk berenang kembali kepermukaan, tapi sayang tangan Marni menahan tubuh Salman agar tak bisa bergerak.
sebuah tangan menarik Salman sampai ke tepi kolam.
Salman mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal.
dirasa sudah membaik, Salman mendongokkan wajahnya keatas.
mata Salman kembali terbelalak melihat Azam yang berdiri tepat dihadapannya.
Salman tak mampu lagi berdiri dia hanya merangkak mencoba menghindar dari Azam dan juga Marni.
Azam menarik tubuh Salman dan membenturkannya ke tembok dengan membabibuta, hingga darah segar mengalir di pelipis dan hidung Salman, dia juga memuntahkan darah segar dari mulutnya.
disela keputus asaan, Salman melihat istrinya berlari mendekatinya.
Asyifa menangis dan memeluk tubuh Salman, dia begitu khawatir melihat kondisi Salman saat ini,
meski Asyifa kebingungan dengan apa yang terjadi sekarang.
"Mirna, Mirna tolong saya Mir... mas apa yang terjadi, kenapa kamu jadi seperti ini?." teriak Asyifa disela Isak tangisnya.
"astaghfirullah nyah, itu tuan kenapa?."
"saya tidak tahu Mir, tolong bantu saya membawa tubuh suami saya kekamar ya, saya gak bisa kalau sendiri."
"iya baik nyah."
Mirna dan Asyifa terlihat kesusahan saat membopong tubuh Salman.
tapi mereka tidak menyerah, sampai akhirnya mereka sampai dikamar utama.
__ADS_1
"terimakasih Mirna, kamu bisa temani saya disini kan?."
"baik Nyonya."
"tolong kamu hubungi dokter Juna, minta dia agar cepat datang kemari."
"baik Nyonya, saya permisi dulu."
selang beberapa saat dokter Juna telah datang dan langsung memeriksa keadaan Salman.
dokter Juna heran karena samasekali tak ada luka dalam, sangat berbanding terbalik dengan keterangan Asyifa yang mengatakan jika Salman muntah darah.
dokter Arjuna hanya mengobati luka robek di pelipis Salman saja
"maaf Syifa, tapi saya tidak menemukan keanehan pada tubuh suami kamu selain luka di pelipisnya, mungkin suami kamu terpeleset dan kepalanya terbentur."
"nggak mungkin Juna, tadi mas Salman benar-benar muntah darah dari hidungnya juga keluar darah."
"tapi memang tidak ditemukan kejanggalan dalam tubuh Salman, ini saya sudah resepkan obat buat suami kamu, harus diminum dengan rutin, dan jika masih belum ada perubahan kita bawa dia untuk pemeriksaan lebih lanjut."
"baiklah Juna, makasih ya, maaf aku mengganggu kamu malam-malam begini."
"iya Juna, sekali lagi makasih ya."
Arjuna hanya mengangguk menanggapi ucapan Asyifa
———
"Mirna tolong kamu jaga rumah ya. saya sama suami saya mau keluar kota dulu, mungkin satu atau dua Minggu kami berada disana."
"kok tumben Nyonya perginya lama."
"iya Mir, soalnya sekalian mau konsul masalah kesehatan mas Salman."
"oh baik Nyah, kalau begitu hati-hati ya Nyah."
"iya Mir, saya pamit ya."
mobil yang di tumpangi oleh Salman dan keluarganya pergi meninggalkan rumah.
Mirna kembali kedalam rumah, ntahlah jiwa detektifnya meronta-ronta sekarang.
__ADS_1
Mirna melihat ke sekeliling rumah mencari tau sesuatu yang ntah apa, Mirnapun tak tau pasti, yang jelas pasti ada yang di sembunyikan majikan laki-lakinya itu.
dan nihil Mirna tak menemukan apapun dirumah itu, tapi pirasatnya mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan tuannya.
langkah kaki Mirna membawanya kesebuah pintu di belakang rumah yang Mirnapun baru mengetahuinya sekarang, karena memang dia tidak diperbolehkan untuk pergi lebih jauh lagi.
"isss serem banget sih disini, tapi aku juga penasaran apa isi didalam ruangan itu."
Mirna semakin mendekati pintu tersebut, sayang pintunya terkunci.
Mirna mencoba berbagai cara tapi semuanya tetap gagal.
saat Mirna akan kembali masuk kedalam rumah.
tiba-tiba terdengar suara pintu terbukA, Mirna membalikan badanya dan dia terkejut melihat pintu yang tadinya tertutup rapat kini terbuka dengan lebar.
dengan ragu dan kaki yang bergetar Mirna masuk kedalam ruangan tersebut, rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya.
saat menyalakan lampu tiba-tiba...
"astaghfirullah ya Allah, bukankah ini... apa jangan-jangan tuan memang tau tentang Marni, tapi kenapa tuan menyembunyikannya dariku, dan lukisan wanita itu begitu mirip dengan ku." Mirna bergumam sendiri.
Mirna terus saja mencari-cari sesuatu untuk dijadikannya sebagai petunjuk.
sampai akhirnya matanya tertuju pada sebuah kotak yang terhalang oleh barang-barang yang cukup berat, tapi dia berusaha menyingkirkan barang-barang tersebut, akhirnya kotak yang sedari tadi menarik perhatiannya kini sudah berada ditangannya.
pelan-pelan Mirna membuka kotak tersebut.
matanya membulat sempurna kotak yang dia pegang pun jatuh kelantai dan isi didalamnya berhamburan keluar.
Mirna tak kuasa menahan tagisnya saat dia mendapati Poto yang mirip dengannya tengah berpelukan dengan laki-laki yang dia kenal.
Ya. dia adalah Marni dan juga Salman.
"a-apa jangan-jangan Marni dan tuan Salman adalah kekasih, jika benar kenapa tuan merahasiakannya dariku, apa tuan juga tahu jika kini Marni telah meninggal, aku harus mencari tahu tentang semua ini, aku tidak boleh gegabah."
Mirna kembali memasukan semua barang-barang yang ada dalam kotak tersebut dan membawanya kembali kekamar..
🍂🍂🍂
Bersambung...
__ADS_1