DENDAM ARWAH SANGKEKASIH

DENDAM ARWAH SANGKEKASIH
BAB 14


__ADS_3

🍂🍂🍂


tiba-tiba Asyifa merasakan perutnya begitu sakit, dia mencoba memanggil Mirna tapi tak ada jawaban. Asyifa berusaha berjalan meski tertatih menuju pintu, sayang pintunya terkunci.


Asyifa mencari-cari dimana handphone miliknya, lagi dan lagi handphone miliknyapun tak tahu dimana.


Asyifa merasakan sesuatu yang hangat mengalir disela-sela kakinya.


Asyifa berteriak histeris melihat darah yang mengalir mulai membanjiri lantai yang dia pijak.


seakan tak memiliki kekuatan Asyifa ambruk begitu saja.


disisa ambang kesadaran, Asyifa melihat sosok seorang wanita yang tengah tersenyum mengerikan, wanita itu juga menggendong seorang bayi.


dan pada akhirnya Asyifapun pingsan.


jam menunjukan pukul dua siang.


Mirna mengetuk pintu kamar sang majikan tapi tak ada jawaban, Mirna terus berusaha tapi tetap tak ada jawaban.


dengan perasaan panik Mirna langsung kembali turun ke lantai bawah dan mencoba menghubungi nomor Salman.


"hallo tuan, maaf saya mengganggu waktunya."


"ada apa Mirna? kenapa kamu panik?."


"anu tuan, Nyonya tuan, sepertinya dari pagi belum keluar kamar, saya sudah mencoba memanggilnya tapi tak ada jawaban."


"yasudah, saya pulang sekarang."


Salman memutuskan sambungan telepon secara sepihak,


dia bergegas berlari menuju parkiran.


dan melesat pergi menggunakan mobilnya, beruntung jalanan hari ini cukup lancar jadi Salman bisa sampai rumah dengan cepat.


sesampainya dirumah salman langsung berlari menuju kamarnya.


terlihat Mirna yang masih berdiri didekat kamar mereka.


Salman mencoba mendobrak pintu kamar,


setelah mencoba beberapa kali akhirnya pintu kamar bisa dia dobrak.


sesaat setelah pintu kamar terbuka, mata Salman dan Mirna terbelalak lebar melihat keadaan Asyifa yang tergeletak dengan bersimbah darah.


dengan cepat Salman membopong tubuh sang istri menuju mobilnya.


dan meminta Mirna juga ikut serta kerumah sakit.


sesampainya dirumah sakit, Asyifa langsung mendapatkan penanganan.


Salman terlihat mondar-mandir tak karuan di depan ruang perawatan, mengingat nyawa istri dan anaknya dalam bahaya.


setelah sekian lama pintu ruangan terbuka, telihat seorang dokter wanita yang begitu lesu.


"dok bagaimana keadaan anak dan istri saya?."


"maaf pak, kami sudah berusaha sebisa mungkin tapi anak dalam kandungan istri anda tidak bisa diselamatkan, dan keadaan istri anda sendiri kini sedang keritis."


"bagaimana bisa dok. apa penyebab istri saya mengalami keguguran."

__ADS_1


"sepertinya istri anda meminum obat penggugur kandungan."


"maksud anda istri saya tidak menginginkan anak kami, dan mencoba menggugurkan kandungannya?."


"maaf pak, bukan begitu maksud saya, tapi setelah pemeriksaan terdapat zat obat penggugur kandungan."


"apa ada yang sengaja memberikan obat itu pada istri saya dok?."


"maaf tuan saya tidak tahu, anda bisa memastikannya setelah istri anda sadar, kalau begitu saya permisi dulu."


setelah mengatakan itu dokter itupun pergi meninggalkan Salman.


Salman bergegas masuk kedalam ruangan tempat dimana istrinya dirawat.


kini dia menyesal karena terkadang dia mengabaikan istrinya.


"dek bangun, maafkan mas yang lalai menjaga kamu."


"Mirna, tak ada orang lain selain kamu, apa yang kamu inginkan, kenapa kamu mencelakai istri saya."


"maaf tuan, maksud tuan apa, bukanya semalam tuan meminta saya pergi kerumah nyonya besar, karena nyonya besar sedang sakit, jadi bagaimana bisa saya mencelakai Nyonya Asyifa, bahkan kamarnya pun terkunci dari dalam." jelas Mirna panjang lebar.


Salman yang baru sadar, semakin dibuat heran, jika bukan Mirna lalu siapa, tidak mungkin jika Asyifa mengugurkan kandungannya sendiri, Salman tahu betul bahwa kehamilan ini telah lama Asyifa inginkan.


———


seminggu sudah Asyifa koma.


tak banyak yang bisa Salman lakukan,


dia terus saja berada disamping sang istri berharap Asyifa segera sadar.


di alam bawah sadar, Asyifa melihat seorang perempuan yang sangat mirip dengan Mirna.


tapi sebelum Asyifa berhasil mendekat, seorang laki-laki menarik tubuh wanita itu dengan kencang.


"kamu jangan bercanda Marni, ini tidak lucu."


"apa maksud kamu mas, apa kamu tidak percaya jika aku kini tengah mengandung anak kamu."


"pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus gugurkan anak itu."


"apa kamu gila mas, ini anak kamu, apa kamu tega membunuhnya?."


"dengar Marni, aku tidak mau anak itu merusak hubungan kita nantinya apalagi jika Asyifa tahu."


"aku tidak mau mas, aku akan tetap mempertahankan anak kita, dengan atau tanpa adanya kamu."


"dengar Marni, aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilangan kamu, tapi jujur aku tidak menginginkan anak itu, setidanya untuk saat ini, jadi aku minta sama kamu tolong gugurkan anak dalam kandungan kamu."


"kamu jahat mas..."


plaak...


sebuah tamparan mendarat di pipi Marni.


dengan perasaan kecewa Marni berlari pergi meninggalkan Salman..


setelah kepergian Marni, Salman langsung menghubungi Mak Dasih memintanya untuk membuat ramuan penggugur kandungan dan mencari tempat yang sesuai untuk melakukan abo*si ilegal itu..


Asyifa yang mendapatkan penglihatan itu begitu terkejut, pasalnya dia tidak mengira Salman selama ini telah berselingkuh dibelakangnya.

__ADS_1


di alam nyata, Salman begitu bahagia pasalnya istri menunjukkan tanda-tanda akan sadar.


Salman segera memanggil perawat.


tak lama dua orang perawat dan dokter datang keruangan Asyifa, dan langsung memeriksakan kondisi Asyifa.


"maaf pak tapi istri anda masih koma." ucap dokter wanita itu.


"tapi dok, tadi saya lihat jari-jarinya bergerak dan dari sudut matanya juga mengeluarkan air mata."


"semoga itu pertanda baik pak, tapi untuk saat ini istri anda belum siuman, saya permisi dulu, anda bisa panggil saya atau perawat jika membutuhkan bantuan."


"baik dok terimakasih."


setelah kepergian dokter dan kedua perawat itu, Salman langsung menghubungi Mirna.


Salman meminta Mirna untuk menemani Asyifa di rumah sakit selagi dia kerja.


sebab besok Salman harus bertugas keluar kota untuk beberapa hari.


Mirna yang mendengar langsung setuju, dia langsung bersiap-siap dan segera pergi menuju rumah sakit.


"tolong kamu jaga istri saya, jika terjadi sesuatu langsung hubungi saya."


"baik tuan."


———


tiga hari sudah Salman diluar kota, tiga hari juga Mirna menemani Asyifa di rumah sakit.


tiba-tiba Asyifa membuka matanya, Mirna yang kaget langsung memanggil dokter.


setelah di periksa keadaan Asyifa semakin membaik, hanya butuh istirahat untuk beberapa waktu.


"saya kenapa dok." tanya Asyifa dengan suara yang masih lemah.


"anda mengalami keguguran beberapa Minggu lalu dan anda mengalami koma."


"a-apa, keguguran dok."


"iya Bu, kami sudah berusaha tapi Tuhan berkehendak lain."


Asyifa yang mendengar kabar tersebut langsung berteriak histeris.


dia tidak menyangka jika kebahagiaan yang selama ini dia nantikan harus sirna begitu saja


"Mirna apa saya boleh bertanya kepada kamu."


"silahkan Nyonya."


"apa kamu memasukan obat penggugur kandungan dalam susu yang saya minum tempo hari."


"maaf nyonya, saya tidak mungkin melakukannya."


"tapi saya mengalami pendarahan hebat setelah saya meminum susu yang kamu buat."


"maaf Nyonya, tapi hari itu saya pergi kerumah Nyonya besar pagi-pagi sekali, jadi saya tidak sempat membuatkan susu untuk Nyonya."


"kamu jangan bohong Mirna, jelas-jelas kamu memberikan saya susu dan mengunci saya dalam kamar, kamu juga sudah mengambil handphone saya supaya saya tidak bisa menghubungi siapapun iyakan?."


"maaf Nyonya, tapi waktu itu saya benar-benar berada dirumah Nyonya besar, saat saya kembali kerumah Nyonya, semuanya masih sama seperti saat saya pergi, makanan sama sekali belum tersentuh, karna merasa khawatir saya langsung naik ke lantai atas, saya sudah mencoba berkali-kali memanggil nyonya tapi tak ada jawaban sampai akhirnya saya menghubungi tuan, dan kamar Nyonya juga terkunci dari dalam, jadi bagaimana saya bisa masuk Nyonya." jelas Mirna panjang lebar.

__ADS_1


🍂🍂🍂


bersambung...


__ADS_2