
🍂🍂🍂
"aaaaaakkhhhh dek kamu kenapa? wa–wajah kamu penuh da–darah apa yang terjadi dek?." teriak Salman panik melihat Asyifa seperti ini.
"Kenapa kamu melakukannya mas? kenapa kamu tega membunuh kami? apa salah kami mas?." Asyifa terus mengikis jarak antara dirinya dan juga Salman, lelaki itu terus mundur hingga tubuhnya tak bisa lagi mundur karena terhalang oleh dinding.
"apa ma–maksud kamu Asyifa?"
tiba-tiba wajah Asyifa berubah menjadi wajah Marni
"Aku bukan Asyifa mas, aku Marni, apa kamu sudah lupa kepadaku?." dengan seringai yang sangat mengerikan.
Marni terus saja mendekat, hingga jarak diantara mereka hanya satu jengkal saja.
bau anyir darah disertai bau bangkai kini sangat menusuk indra penciuman Salman saat ini.
hawa dingin begitu mendominasi, tubuh Salman bergetar hebat, peluh membanjiri seluruh tubuh Salman.
"maafkan a–aku Marni, aku ti–tidak bermaksud membunuh kamu, aku hanya tidak ingin anak itu lahir dan menghancurkan se–semuanya."
"hahahaha kamu akan mendapatkan balasan untuk apa yang telah kamu perbuat kepadaku dan juga anak ku Salman, KAMU HARUS MATI..." teriak Marni seraya mencekik leher Salman dengan begitu kuat.
tiba-tiba...
"aaaaaakkhhhh....." Salman terbangun dari tidurnya.
"sial, ternyata itu hanya mimpi, tapi kenap tersa sangat nyata sekali." Salman masih mengatur nafas dan ritme jantungnya.
saat Salman merana lehernya, dia merasakan perih dan ada cairan kental menempel di tangannya.
saat Salman melihat telapak tangannya, dia begitu kaget karena ada darah yang masih segar disana.
Salman buru-buru berlari menuju kamar mandi dan melihat kearah cermin.
mata Salman terbelalak lebar, pasalnya ada luka yang masih meneteskan darah dilehernya.
Salman bergegas membersihkan luka tersebut dan kembali ketempat istrinya yang tengah tertidur pulas.
"sial, kenapa mimpiku menjadi kenyataan, tidak tidak itu hanya mimpi, dan leherku terluka mungkin terkena pinggiran ranjang tepat Asyifa dirawat, bukan karena hantu si Marni." Salman terus saja meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.
***
Pagi harinya...
"mas woy bangun, kenapa anda tidur disini."
"maaf anda siapa? kenapa anda ada disini?."
__ADS_1
"haduh... Anda itu gimana sih mas, ya jelas saya ada disini mas, orang saya kerjanya di kamar mayat." jelas seorang laki-laki kepada Salman
"A–apa ka–kamar ma–mayat."
"iya kamar mayat, noh liat banyak mayat yang belum sempat saya urus." jelas laki-laki tersebut seraya menunjuk mayat-mayat yang terbaring kaku di tempatnya.
sontak Salman membelalakkan matanya, degup jantungnya kembali berdetak cepat.
Salman segera berlari keluar dari kamar mayat tersebut dan mencari ruangan tempat istrinya dirawat.
"lahh, itu orang kenapa ya, dia yang tidur disini dia juga yang ketakutan aneh sekali." ucap petugas khusus mayat tersebut.
setelah Salman tiba diruangan tempat istrinya dirawat, dia begitu senang karena istrinya sudah sadar.
"kamu darimana aja sih mas, aku takut dari tadi sendirian." ucap Asyifa yang langsung menangis dalam pelukan sang suami.
"maafkan mas dek, tadi mas ada keperluan mendadak, mas kira kamu masih dalam pengaruh obat makanya mas pikir kamu masih tidur."
"keperluan apa sih mas aku lagi sakit aja kamu masih mikirin yang lain." ucap Asyifa seraya melepaskan pelukannya.
"maafkan mas dek tadi benar-benar ada kepen..." belum sempat Salman menyelesaikan ucapannya Asyifa langsung memotong ucapan Salman
"mas itu leher kamu kenapa? kok berdarah gitu? tanya Asyifa dengan panik.
"mas gak kenapa-kenapa kok dek, oiya gimana keadaan kamu sekarang? apa sudah baikan?." salam mencoba mencari topik pembicaraan yang lain.
"dek kamu ngomong apa sih, jelas-jelas kamu yang mencekik leher kamu sendiri."
"maksud mas apa? mas gak percaya sama aku gitu? mas aku tuh gak bohong ada wanita yang mau bunuh aku mas." tangis Asyifa semakin kencang Salman langsung memeluk dan menenangkannya.
"iya iya sudah ya, mas percaya kok sama kamu dek."
tak lama terdengar pintu diketuk, Salman langsung melepas pelukan dari istrinya dan melangkah menuju pintu dan membukanya.
terlihat seorang dokter dan perawat datang untuk memeriksa keadaan Asyifa.
"giman keadaan istri saya Dok?."
"istri bapak baik-baik saja, dia harus banyak istirahat dan jangan di biarkan sendirian.
"apa istri saya sudah boleh pulang Dok?."
"iya pak sudah, nanti saya berikan resep obat untuk istri bapak."
Salman masih terus memperhatikan Dokter itu yang terus melirik ke arah sudut ruangan.
"Dokter apa ada yang salah dengan sudut kamar itu? perasaan dari semalam saya lihat Dokter terus saja melihat kearah pojokan sana." akhirnya Salman memberanikan diri untuk bertanya kepada Dokter tampan itu.
__ADS_1
"maaf pak Salman bisa kita bicara berdua di ruangan saya." pinta sang Dokter
"ada apa ya Dok? apa ini soal istri saya?
"lebih baik pak salman Kitu saya ke ruangan saya, nanti saya jelaskan disana saja, mari pak."
"Baik Dok, dek mas ke ruangan dokter dulu ya kamu disini ditemani sama suster aja gak apa-apakan?."
"iya mas nggak papa."
akhirnya Salman dan dokter tersebut berlalu pergi menuju ruangan pribadi Dokter Danu.
"mari pak Salman, silahkan masuk dan silahkan duduk." ucap Dokter Danu
"iya Dok, terima kasih, jadi ada hal penting apa Dok mengenai istri saya." tanya Salman tanpa basa-basi.
"maaf pak sebelumnya, saya bukan mau ikut campur urusan bapak tapi..." Dokter Danu yang menggantung kata-katanya membuat Salman penasaran..
"tapi apa Dok, tolong jangan buat saya penasaran."
"tapi ada arwah seorang wanita yang menggendong bayi terus berada dekat dengan istri anda." jelas Dokter Danu
"ma–maksud Dokter apa? arwah pe–permpuan menggendong bayi?."
"iya pak, sepertinya arwah itu ingin membalas dendam, karena terlihat dari cara dia menatap, tatapannya penuh dengan kebencian dan dendam."
sontak pernyataan Dokter Danu membuat jantung Salman berdegup dengan kencang.
dia yakin jika arwah itu adalah Marni.
"baiklah sok terima kasih, saya permisi dulu." pamit Salman dan segera menemui istrinya dia takut arwah Marni akan kembali mencelakai istrinya.
***
"loh tuan dan nyonya darimana, tadi ada yang nyariin." tanya Mirna
"Mirna bukanya kamu tau jika saya nganter istri saya berobat."
"hah... maaf tuan tapi saya nggak tau, dari tadi pagi saya gak liat tuan sama nyonya keluar rumah." jawab Mirna dengan raut wajah bingungnya.
"loh bukanya semalam kamu habis jenguk teman kamu dirumah sakit, lalu kamu samperin saya dan menanyakan keadaan istri saya."
"maaf tuan tapi saya dari semalam gak kemana-mana, saya juga gak punya teman yang sedang dirawat dirumah sakit."
Sontak penjelasan Mirna membuat salman kaget bukan main.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Bersambung...