
🍂🍂🍂
setah kembali kerumah, Salman kembali uring-uringan sebab hingga kini Asyifa dan Mirna tak kunjung kembali, bahkan kabarpun tak ia dapatkan dari istrinya.
Salman mencoba mencari petunjuk siapa tahu ada setitik harapan.
dikamar nya tak ada petunjuk yang berarti.
Salman segera berjalan menuju kamar Marni.
dia mencoba mencari sesuatu.
deg....
matanya melotot melihat gelang Marni tergeletak di bawah tempat tidur Mirna.
"sial, apa perempuan itu marni..!!! tapi bagaimana dia bisa selamat. tidak tidak itu pasti hanya mirip saja, tapi bagaimana gelang itu ada disini."
Salman langsung berlari menuju gudang belakang.
Salman terlihat heran, pasalnya pintu masih tertutup rapat seperti saat dia menguncinya.
kini Salman semakin dibuat frustasi.
semenjak dia memaksa Marni menggugurkan kandungannya, kesialan seakan tak mau pergi darinya.
kehilangan Marni wanita yang dia cintai.
kedua orangtuanya meninggal dengan tragis.
calon anaknya dengan Asyifapun tak bisa terselamatkan.
apa ini karma karena dia membunuh anak yang dikandung Marni.
tapi egonya tetap mengalahkan segalanya, alih-alih menyerahkan dirinya kepada polisi, Salman malah semakin murka kepada semua orang yang telah mengetahui kejahatannya.
———
dikota B, Arjuna dan Asyifa sedang berbicara serius, entah apa yang direncanakan oleh mereka berdua, setiap Mirna mendekat mereka selalu mengalihkan topik pembicaraan kearah yang lain, seakan-akan Tak mengizinkan Mirna mengetahuinya.
semakin hari semakin membuat Mirna tak nyaman.
__ADS_1
hati kecilnya mengatakan ada hal yang mereka sembunyikan.
"mbak bagaimana rencana kita untuk membalas dendam kepada Salman, ini sudah hampir satu bulan tapi kita sama sekali belum punya rencana."
"sabar Mirna, belum waktunya untuk kita bertindak, nanti jika sudah waktunya kamu juga akan tahu." jawab Arjuna.
"yasudah, ayo Juna kita harus selesaikan urusan kita dulu, biarkan Mirna tetap disini menunggu."
"kak Syifa sama Juna mau kemana?."
"kita ada urusan sebentar, kamu tunggu saja disini ya." setelah mengatakan itu Juna dan Asyifa pergi meninggalkan Mirna.
tak ada yang banyak dilakukan oleh Mirna dia hanya berdiam diri dirumah itu.
rumah yang terpencil jauh dari keramaian.
karena bosan Mirna mencoba kelur rumah,
saat diluar Mirna melihat gadis kecil menatapnya, Mirna mencoba mendekati anak itu, seakan sadar jika Mirna semakin mendekatinya gadis kecil itupun berlari masuk hutan, Mirna mencoba mengikuti gadis itu, kini Mirna tak sadar bahwa kini dia sudah masuk lebih dalam kearah hutan.
sesampainya ditengah hutan Mirna tak bisa menemukan gadis kecil itu, dia hanya kebingungan mencari jalan untuk kembali.
ditengah keputusasaan suara nenek-nenek mengagetkannya.
"nek, nenek siapa?, ke-kenapa ada ditengah hutan seperti ini."
"nenek salasatu penduduk didekat hutan sini nak, nenek sedang mencari kayu bakar."
"nek, boleh Mirna minta tolong, Mirna harus kembali kerumah majikan Mirna, tapi Mirna gak tahu jalan."
"memang rumah majikan nak Mirna dimana?."
"rumah mewah dipinggir hutan nek."
"apa nak Mirna sampai disini mengikuti gadis kecil berbaju biru?."
"iya nek, kok nenek bisa tahu?."
"sebaiknya kamu jangan kembali kerumah itu lagi, bahaya nak, lebih baik nak Mirna ikut sama nenek, disana nek Mirna bisa aman, mari nak."
"maksud nenek apa? berbahaya gimana maksudnya nek? majikan saya orangnya baik nek, mereka tidak mungkin orang jahat."
__ADS_1
"penampilan bisa menipu nak, mari ikuti nenek, nanti nenek ceritakn kenapa tempat itu berbahaya."
Mirna terpaksa mengikuti langkah nenek misterius itu, dia juga tidak mau terus berada ditengah hutan belantara.
setelah lama berjalan akhirnya Mirna sampai disebuah kampung yang begitu asri, meski sepertinya jauh dari kota, bahkan listrikpun tak ada.
setiap berpapasan dengan warga kampung, mereka menatap heran kepada Mirna, entah apa yang ada difikirkan mereka kini.
Mirna terus berjalan mengikuti langkah nenek tersebut hingga langkah nenek itu terhenti di sebuah rumah sederhana tapi cukup nyaman untuk ditinggali.
"mari masuk nak, ini rumah nenek, nenek tinggal disini sendirian, tak usah sungkan ya."
Mirna hanya mengangguk menanggapi ucapan nenek tua itu.
"duduklah nenek buatkan minum dulu."
"tak usah nek, jangan repot-repot."
"tak apa nak hanya minum, sebentar ya."
"kasian sekali nenek itu, disaat usia nya sudah renta dia harus bekerja sendiri." Mirna bergumam dalam hati.
tak lama nenek itu telah kembali dengan membawa dua gelas minuman.
"silahkan diminum nak."
"terima kasih nek, o iya nama nenek siapa?."
"nama nenek Marsih, panggil saja nenek Mar, seperti warga kampung hegarasih ini, mereka memanggil nenek dengan sebutan nek Mar."
"oh baik nek, terimakasih sudah mau mengajak Mirna kerumah nenek."
"iya nak sama-sama anggap saja nenek sebagai nenekmu sendiri ya."
"O iya nek, masalah tadi dihutan, apa yang membuat nenek mengatakan jika rumah itu berbahaya, dan siapa anak kecil berbaju biru itu nek.
"sudahlah nak, lebih baik sekarang kamu mandi dan istirahat hari sudah mulai sore, dan itu kamar bekas cucu nenek, kamu boleh memakainya disana juga ada baju bekas cucu nenek pasti cocok ditubuh kamu, dan kamar mandinya ada di dekat dapur."
nenek Marsih pun pergi masuk kedalam kamarnya.
meski heran tapi Mirna tetap menuruti perintah nek Mar.
__ADS_1
🍂🍂🍂
Bersambung...