
🍂🍂🍂
sesampainya dikamar Mirna kembali terisak mengingat kembarannya itu.
"begitu malang nasibmu kak, aku berjanji, aku akan membalaskan dendam mu, apalagi jika terbukti bahwa tuan Salman terlibat dalam pembunuhan itu, akan sangat mudah bagiku membalaskan dendam mu."
Mirna kembali membuka kotak yang berisi barang-barang Marni.
disana bukan hanya Poto tapi juga gelang dan kalung yang dia yakini adalah milik Marni.
malam harinya Mirna kembali bermimpi tentang Marni tapi disana Marni tidak sendiri dia bersama seorang laki-laki yang memperkenalkan dirinya sebagai Azam kakak angkat dari Marni.
"kak coba tolong katakan saja siapa yang membunuh kalian berdua, dan beritahu aku dimana jasad kalian."
"maafkan aku Mirna, aku tidak bisa memberitahu kamu, karena jiwaku akan langsung hancur jika langsung memberitahu semuanya, kami berdua hanya minta tolong sama kamu, selidiki siapapun yang kamu curigai."
"tapi kak Marni, itu akan sangat lama."
"tak apa, kami berdua akan tetap menunggu sampai pelaku dan jasad kami ditemukan."
"aku lapor polisi aja ya kak, supaya bisa cepat selesai."
"tidak Mirna jangan lakukan itu, saya tidak mau kamu menjadi korban berikutnya." ucap azam
setelah mengatakan itu Marni dan Azam kembali pergi masuk kedalam hutan.
diwaktu yang sama Mirna terbangun dari mimpinya.
———
dilain tempat, Salman kini tengah berbicara serius dengan sang ibu.
mereka berdua membicarakan tentang keanehan yang sering dialami oleh Salman.
Bu Lilis mendesak anaknya untuk jujur
__ADS_1
meski ragu Salman menceritakan semuanya kepada sang ibu tanpa ada yang terlewat.
"APaa, kamu gila Salman, benar benar gila, mamah tidak bisa membantu kamu jika masalah itu, mamah gak mau mati konyol seperti pembantu kamu."
"tapi mah, belum tentu juga Mak Dasih mati gara-gara Marni, bisa jadi kan Mak...."
"bisa jadi apa? semuanya sudah jelas Salman, bahkan akhir-akhir ini kamu juga sering mendapat terorkan, apalagi kamu sampai terluka dan muntah darah, pokoknya kamu selesaikan masalah ini sendiri mamah gak mau ikut campur." Bu Lilispun pergi meninggalkan anaknya begitu saja.
tiba-tiba Salman melihat arwah Marni berdiri dipojok kamar tepat menghadap kearahnya.
Marni melangkah semakin mendekat kearah Salman, tubuh Salman membeku ditempat. dia tak bisa menggerakkan tubuhnya bahkan untuk bicarapun sulit.
"sayang apa kamu merindukan aku hihihihi, lihat anak kita begitu tampan hihihihihi." ucap Marni.
meski Marni menunjukkan wujudnya seperti manusia normal, tapi tetap saja itu membuat Salman takut.
"pe-pergi ka-kamu Marni jangan ganggu aku lagi."
tiba-tiba Marni menunjukan wujud aslinya, wajah yang hancur, salasatu bola mata menjuntai keluar, mulut Marni mengeluarkan darah kental dan juga nanah yang berbau sangat busuk, belatung yang ikut keluar bergelantungan dibola mata yang menjuntai.
"pembunuh.. kamu yang membuatku seperti ini Salman, kamu harus bertanggungjawab, kamu harus mati." Marni berteriak seraya memuntahkan darah dan nanah yang dipenuhi belatung kearah tubuh Salman.
seketika Salman berteriak dan berlari keluar kamar.
semua orang yang ada di luar kamar heran melihat Salman yang berlari sambil berteiak.
mereka semua mencoba menghampiri Salman, tapi dipenglihatan Salman mereka semua bukan manusia melainkan hantu yang sangat menyeramkan.
Salman hendak berlari menuju lantai bawah, tapi kakinya ditarik oleh arwah Marni yang membuatnya terjerembab, dan kepalanya terbentur ujung meja dengan keras yang membuatnya seketika tak sadarkan diri.
semua orang panik melihat Salman.
ayah dan paman Salman langsung menggotong tubuh salaman kembali masuk kekamar.
kebetulan adik dari ayah Salman adalah seorang dokter.
__ADS_1
Salman segera mendapat perawatan.
Asyifa tak berhenti menangis, dia begitu syok dengan perubahan sikap Salman akhir-akhir ini.
apa lagi, sudah berkali-kali Salman terluka oleh kepanikannya sendiri.
dua Minggu telah berlalu kini mereka kembali ke kota S, tempat mereka tinggal.
Mirna menyambut kedatangan mereka dengan antusias, tanpa salaman dan Asyifa sadari, bahwa kini Mirna telah memiliki rencana untuk mencari tahu kematian kakaknya.
"Mirna tolong kamu bawa barang-barang saya kekamar ya, soalnya suami saya belum benar-benar pulih."
"baik Nyonya."
———
hari demi hari telah berlalu, kini usia kandungan Asyifa telah memasuki bulan ke lima.
"nyonya ini susunya diminum dulu, tadi tuan berpesan agar nyonya tidak telat minum susu."
"makasih Mirna. taro saja dulu susunya dimeja nanti saya minum."
"maaf nyonya tapi tuan meminta saya memastikan agar nyonya benar-benar meminum susunya."
"baiklah, mana sini susunya saya minum sekarang."
Asyifa langsung meminum susu pemberian Mirna hingga tak tersisa.
setelah memastikan Asyifa meminum susunya, Mirnapun pamit undur diri.
selepas kepergian Mirna,
tiba-tiba....
🍂🍂🍂
__ADS_1
Bersambung..