
🍂🍂🍂
Asyifa terdiam mendengar penjelasan dari Mirna.
dia mencerna setiap ucapan pembantunya tersebut.
kini dia baru ingat bahwa memang benar malam itu suaminya meminta Mirna untuk pergi kerumah sang ibu mertua.
jika dia bukan Mirna lalu siapa.
dan apa arti dari mimpi tersebut.
"Nyonya kenapa diam."
"Mirna tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur..."
Mirna sedikit gelisah dengan apa yang akan ditanyakan oleh majikannya itu.
"a-apa Nyonya?."
"apa kamu memiliki kembaran, dan nama wanita itu Marni."
"mak-maksud nyonya apa? ke-kembaran apa, nyonya juga tahukan jika saya sebatang kara disini."
"tolong jawab saya dengan jujur Mirna, waktu saya dinyatakan koma, saya bermimpi melihat wanita yang wajahnya mirip dengan kamu, tapi dia bernama Marni."
lalu Asyifa menceritakan saat dia melihat wanita yang mirip dengan Mirna sedang berdebat dengan suaminya.
"astaghfirullah, jadi benar jika kak Marni dibunuh oleh tuan Salman."
"apa maksud kamu Mirna? jadi benar kamu punya kembaran, dan apa maksud kamu dengan mengatakan jika suami saya membunuh Marni."
dengan ragu Mirna menceritakan semuanya kepada sang majikan, tak ada yang dia tutupi sedikitpun termasuk soal Azam.
"APaaa, jadi Marni sudah meninggal, dan Azam juga dibunuh oleh suami saya."
"itu yang saya tahu dalam mimpi yang sering saya alami Nyonya, dari cerita nyonya saya yakin jika tuan Salman terlibat pembunuhan itu."
"ya kamu benar Mirna, jika memang suami saya adalah pelakunya, maka kita harus hati-hati, satu lagi, kita harus rahasiakan ini dari Salman, kita harus pura-pura seperti tak mengetahui apa-apa."
"baik Nyonya."
———
dilain tempat ibu Lilis tengah duduk didepan meja rias.
tiba-tiba sekelebat bayang terlihat melintas dari pantulan cermin.
hal itu langsung membuat Bu Lilis ketakutan.
__ADS_1
tiba-tiba tercium bau anyir dah disertai bau busuk, Bu Lilis berdiri dan mengedarkan pandangannya kesegala penjuru kamar.
tak sengaja matanya menangkap sosok bayi yang sedang merangkak mendekatinya, bayi itu terus menangis.
tiba-tiba muncul hantu Marni dihadapan Bu Lilis, Bu Lilis langsung berlari menuju pintu, tapi sayang pintu seakan terkunci.
lampu mulai berkedip, Marni menggendong anaknya dan mendekati Bu Lilis.
"ampun Marni jangan ganggu saya, saya tidak terlibat dalam kejadian itu, saya tidak tahu apa-apa."
"hihihihihi Anda sudah tahu nyonya, tapi anda melindungi seorang pembunuh hihihihi."
Marni semakin mendekati Bu Lilis..
dia mencoba mencekik leher wanita itu.
Bu Lilis yang tak kuasa menahan ketakutannya langsung terduduk dilantai.
"tolong jangan ganggu saya."
kini Marni berada tepat dihadapan Bu Lilis.
Marni berjongkok dan meletakan bayinya di pangkuan Bu Lilis,
Bu Lilis semakin ketakutan melihat wujud menyeramkan Marni dan bayinya dari dekat.
"ini cucu mu Nyonya hihihihi."
hal itu membuat Marni marah.
dia berteriak kencang dan memuntahkan cairan berwarna merah pekat dan nanah bercampur belatung kepangkuan Bu Lilis.
mata marni seketika menjuntai keluar.
Marni mencekik leher wanita itu.
Bu Lilis semakin sesak, pasokan oksigen yang masuk kedalam paru-parunya semakin sedikit.
akhirnya Bu Lilis menghembuskan nafas terakhirnya di tangan Marni.
"kamu tunggu giliran kamu Salman, sekarang saya akan merenggut kebahagiaan kamu satu persatu hihihihihi."
arwah Marnipun menghilang digelapnya malam.
***
pagi harinya Salman mendapatkan kabar kematian ibunya.
dia bergegas kembali ke kota S.
__ADS_1
setelah sampai di kediaman orang tuanya, Salman bergegas masuk kedalam rumah.
saat melihat kondisi ibunya, Salman kaget karena kondisi ibunya sama seperti Mak Dasih.
Salman yakin jika ini perbuatan arwah Marni..
"tolong kepada ibu-ibu segera mandikan jenazah ibu Lilis, karena sepertinya hujan akan segera turun." ucap pak ustadz mengingatkan.
saat Salman dan keluarganya yang lain mencoba mengangkat tubuh Bu Lilis betapa terkejutnya mereka karena tubuh Bu Lilis begitu berat, padahal tubuhnya tidak terlalu gemuk.
mereka mencoba sekali lagi, dan akhirnya jenazah Bu Lilis bisa terangkat, meski mereka merasakan tubuh Bu Lilis begitu berat mereka tetap mengangkatnya.
setelah selesai dimandikan kini giliran jenazah Bu Lilis di kafani.
sungguh mereka semua terkejut melihat mata Bu Lilis terbuka lebar, seluruh tubuhnya bergetar hingga dari mulut, mata hidung, telinga dan bagian lainnya mengeluarkan darah.
mau tidak mau mereka kembali memandikan jenazah Bu Lilis, tapi tetap saja darah yang keluar tidak berhenti.
para pelayat semakin berbisik-bisik hingga terdengar oleh Salman.
"pak Ridwan bagaimana ini, apa kita langsung kafani saja jenazah dengan keadaan seperti ini atau bagaimana.?"
meski berat segenap keluarga mengikhlaskan Bu Lilis di kafani dan di kubur dengan keadaan seperti ini.
kini acara pemakaman Bu Lilis telah usai.
para pelayat masih saja tak hentinya membicarakan keburukan Bu Lilis semasa hidup.
"itu tuh yang namanya azab, iihh ngeri ya ibu-ibu, makanya kita harus pandai menjaga sikap jangan sampai melakukan hal-hal di batas wajar."
"iya, apalagi sampai harus menyakiti hati orang lain, berbuat zalim kepada sesama."
"sssuuutt, sudah jangan membicarakan orang yang sudah meninggal, gak baik." tegur salasatu pelayat.
Mirna dan Asyifa menyaksikan semuanya dari jauh. tentu saja tanpa sepengetahuan Salman, karena Salman masih mengira Asyifa masih koma.
setelah puas mereka berdua kembali kerumah sakit.
———
hari demi hari telah berlalu.
kini kehidupan Salman semakin rumit.
Asyifa yang biasanya pendiam dan nurut berubah menjadi seorang wanita pembangkang.
"Asyifa, kamu maunya apa sih..?."
"sudah berapa kali saya bilang jika saya mau cerai sama kamu."
__ADS_1
🍂🍂🍂
Bersambung....