
Semenjak Lionil datang ke dunia manusia, janin Vanila pun tenang, setelah menghancurkan sebagian gedung rumah sakit. Kapten Erik pun meminta anak buahnya untuk menyiapkan seluruh kebutuhan Lionil untuk menjaga keamanan rumah sakit. Para polisi pun setiap hari memberikan makan yang banyak untuk Lionil setiap 2jam sekali secara bergiliran.
"Sampai kapan kita harus menyiapkan makan ini?" tanya Eva mulai merasa malas harus menyiapkan makanan ini.
"Sabar, demi keamanan semuanya?" ucap Bintang sambil tersenyum.
Hati Eva benar-benar berdebar melihat Bintang tersenyum. Baru kali ini, Bintang tersenyum kepadanya. Namun, tetap saja, Bintang tak menyukainya.
Bintang memperhatikan, sikap Kapten Erik waspada semenjak Zazah selamat. Gerak-gerik Kapten Erik benar-benar mencurigakan. Bintang tak bisa menuduh bila tak ada bukti.
Jendral Marisa masih di dunia manusia, bukan tak ada tugas lagi, hanya saja ia masih ingin melihat Zazah. Walaupun wanita itu melupakannya. Namun, Jendral Marisa selalu mengingatnya setiap kejadian dari 50 tahun yang lalu sampai sekarang. Zazah masih sama seperti dulu.
Setelah mengantarkan makanan ke Lionil, Bintang menghampiri Jendral Marisa. "Jendral ada yang ingin aku bicarakan?" ucap Bintang pelan.
"Lewat letepati saja," ucap Jendral Marisa.
Bintang menganguk, bukan tanpa alasan Jendral Marisa menyuruh Bintang untuk berbicara melalui pikiran. Jendral Marisa tak mempercayai semua yang ada di sini. Jendral Marisa pernah dikhianati oleh sesama rekannya membuatnya tak bisa mempercayai mahluk lain lagi, saat ini hanya Bintang saja yang Jendral Marisa percayai, itu juga karna, Bintang di bawah kendalinya. Makanya Bintang tak akan bisa berkhianat kepadanya.
"Ada apa Bintang?" tanya Jendral Marisa berbicara dalam pikiran Jendral Marisa dan Bintang.
"Aku mencurigai Kapten Erik!"
"Kamu punya bukti?"
"Tidak? Tapi, dari awal aku datang ke dunia manusia gelagatnya aneh! Aku tak bisa berbicara kepada manusia lain di sini?"
"Cari bukti terlebih dahulu, baru melapor kepadaku?"
Bintang menganguk. Entah kenapa, Zazah bisa mendengar semua obrolan Jendral Marisa dan Bintang dalam pikirannya. Zazah benar-benar tak mengerti maksud dari ucapan Bintang tentang Kapten Erik. Zazah pun melirik Kapten Erik, Zazah bisa melihat aura dalam tubuhnya berwarna abu-abu. Zazah mulai memikirkan ucapan dari Bintang.
__ADS_1
Kapten Erik tak bisa berbuat macam-macam. Bintang mulai mencurigainya, semua sudah ia tinggalkan. Namun, tetap saja sisa-sisa dari kekuatan hitam masih merasuk jiwanya. Cepat atau lambat semuanya akan terungkap. Hanya tinggal menunggu waktu saja.
Kapten Erik hanya bisa tetap diam, selama bukti itu belum Bintang dapatkan. Selama itu juga ia merasa aman. Pandangan Kapten Erik teralihkan begitu melihat anak hantu bernama Trial. Ia begitu terkejut anak itu bisa selamat. Kapten Erik tak ingin melihat anak hantu itu. Takut kalau anak hantu itu mengenalinya.
Kemampuan Zazah bisa membaca dan mendengarkan setiap pikiran orang-orang yang ada disekitarnya. Tak hanya manusia, setiap hantu yang melewatinya pun bisa Zazah lihat masa lalunya sebelum ia meninggal.
Melihat masa lalu anak hantu itu, membuat Zazah menangis. "Kenapa nasibnya begitu malang?"
Melihat Zazah menangis, Bintang pun menghampirinya. "Kamu kenapa?" tanya Bintang.
Zazah mengelengkan kepalanya. Bintang pun memegang tangan kanan Zazah untuk melihat apa yang terjadi kepadanya? Begitu terkejutnya Bintang, kalau ternyata Zazah memiliki kemampuan Indra ke tujuh sama sepertinya.
"Sejak kapan kamu memiliki kemampuan ini?" tanya Bintang serius.
"Aku juga tak tau? Setelah aku bangun dari koma, aku memiliki kemampuan ini!" jawab Zazah sedikit ketakutan.
Bintang tersenyum, melihat wajah Zazah tegang seperti itu. "Santai saja, aku hanya menanyakan saja? Tak ada maksud lain!" ucap Bintang.
Arcid memperhatikan cinta segitiga mereka. Tak pernah ada yang tau kalau selama ini, Arcid mengagumi Eva. Perasaannya sekali ia pendam dalam hatinya.
Baru saja, Eva melangkah seseorang melepas pisau tepat kehadapannya, dengan sigap Eva menangkap pisau itu dengan tangannya. Eva melihat sekeliling. Tak ada siapapun? Melihat pisau yang melayang membuat Arcid, Afdal menghampiri Eva.
"Kamu tak apa-apa?" tanya Arcid khawatir.
"Aku tak apa-apa? Hanya saja, siapa yang melempar pisau ini?" jawab Eva mencoba membolak-balik pisau itu, berharap ada petunjuk.
Arcid melempar pisau itu segara. "Ada apa?" tanya Eva terkejut.
"Pisau itu, beracun!"
__ADS_1
Eva mengerut keningnya, Arcid mengenggam tangan Eva sambil membaca mantra-mantra untuk mengeluarkan racun dari tubuh Eva yang mulai menjalar. Tak butuh waktu lama, Eva pun muntah cairan hitam dalam mulutnya.
"Syukurlah kamu baik-baik saja," ucap Arcid merasa tenang.
Afdhal memperhatikan cairan hitam yang keluar dari mulut Eva. "Racun ini, sama dengan racun yang membuat wanita-wanita hamil itu tewas," guman Afdhal.
Eva menghembuskan nafas panjang, ia bersyukur nyawanya masih selamat. "Terima kasih Arcid, kalau bukan karnamu, mungkin nyawaku akan tamat!" ucap Eva merasa lega.
Zazah dan Bintang menghampiri mereka bertiga saat mereka membicarakan wanita hamil.
"Pak, apakah yang kamu katakan itu benar?" tanya Zazah serius.
"Yah, yang meyerang kalian dan Eva tadi orang yang sama," jawab Afdhal serius.
Mengingat itu, membuat Zazah meneteskan air matanya lagi. Zazah teringat dengan bayi yang belum sempat ia lahirkan harus tewas di dalam perutnya.
Zazah begitu marah dan murka. Bila bertemu dengan mahluk itu, tak akan pernah ia beri ampun.
Bintang memperhatikan ada mahluk lain yang memperhatikan mereka. Bintang yang menyadari itu, segera mengejarnya diikuti oleh Arcid. Namun, lagi-lagi mahluk itu, lolos.
Afdhal memperhatikan Zazah. Dilihat dari manapun Zazah berbeda dengan manusia. Aura yang Afdhal rasakan begitu kuat, apalagi saat bersama Bintang keduanya memiliki aura yang tak bisa di kalahkan.
Zazah tau, pemikiran Afdhal tentangnya. Semuanya selalu mengaitkannya dengan Bintang. Membuat ia semakin penasaran dengan Bintang. Apa yang terjadi antara Bintang dengannya di masa lalu?
Eva benar-benar cemburu. Afdhal memperhatikan Zazah. Setiap rekanya selalu melihat Zazah. Bila dipikir lagi, Zazah begitu cantik dengan kulit putihnya. Zazah tak begitu tinggi seperti Eva. Namun, aura kecantikan Zazah begitu memancar pesonanya sampai setiap laki-laki yang melihatnya selaku kagum terhadapnya.
Sebenarnya Eva cantik, badanya ramping dan dadanya besar. Banyak yang menyukainya. Hanya saja, sikap Eva yang judes membuat mereka selalu sembunyi-sembunyi memperhatikan Eva.
Zazah tersenyum mendengar apa yang Eva ucapkan di dalam pikiranya? Tentangnya! Zazah tak bisa berkomentar? Rasanya aneh kalau Eva cemburu kepadanya. Eva gadis yang sempurna, mana bisa dibandingkan dengannya. Zazah merasa, tak bisa di cemburui oleh Eva tak pantas saja. Zazah ingin. mengatakan ini. Eva selalu menghindarnya.
__ADS_1
Bersambung...