DEPARTEMEN KEAMANAN SUPRANATURAL

DEPARTEMEN KEAMANAN SUPRANATURAL
DELAPAN


__ADS_3

Bruk.


Sebuah tinju mendarat di pipi Afdhal, membuatnya sampai ambruk ke tanah. Laki-laki itu masih belum menyadari kalau pikiran kotornya diketahui oleh seorang gadis bernama Vanila.


Afdhal masih begong, tak mengerti, "Kak aku salah apa?" tanyanya.


Vanila berjalan mendahului manusia mesum itu, hatinya begitu kesal, tak akan mudah untuk menenangkannya, ketika ia marah.


"Kamu masih berani bertanya kepadaku, salahmu di mana!" seru Vanila murka.


Laki-laki itu mengelengkan kepalanya, masih tak mengerti dengan ucapan dari Vanila.


"Aku membaca pikiran kotormu tentangku, awas saja, berani kau berpikir seperti itu," ucap gadis dari dunia lain berlalu.


Afdhal tersenyum kecut, ia lupa gadis itu bukan manusia, sampai pikirannya pun diketahui olehnya.


Eva memperhatikan Vanila yang duduk disampingnya begitu kesal, gadis itu tau semua ini pasti ulah Afdhal, "Laki-laki mesum itu, sekalu membuat ulah," pikir gadis itu.


Afdhal pun berjalan menuju ruangan Bintang dan juga Arcid keduanya masih di rawat di rumah sakit, seorang anak hantu pun menabraknya, "Maaf kak,?" ucapnya.


Afdhal memperhatikan, anak itu. Ada yang aneh dengannya. Anak itu pun berlalu meninggalkan Afdhal. Begitu banyak bermacam-macam hantu di sini. Namun anak kecil itu terlihat berbeda.


Vanila masih kesal dengan Afdhal, ia berpaling. Sedangkan laki-laki itu menunduk karna, malu. Laki-laki itu pun duduk di samping Eva, "Aku merasa anak hantu itu berbeda!" serunya mulai serius.


"Yah dia, Trial," jawab Eva.


Laki-laki itu, memperhatikan gadis itu. Lagi-lagi gadis ini tau terlebih dulu sebelumnya, "Siapa anak hantu itu?" tanyanya lagi semakin penasaran.

__ADS_1


"Dia korban dari persembahan Shaddaw," ucapnya lagi.


Vanila menoleh ke arah gadis itu, saat Eva mengatakan tentang Shaddaw, "Kok bisa pas dengan kasus yang sedang kita selidiki," ucap Vanila tiba-tiba.


Eva dan Afdhal melirik ke arah Vanila, "Maksudnya Kak, bisa dijelaskan," tanya Eva semakin penasaran.


"Ketujuh korban wanita hamil ini, di perut mereka terdapat huruf-huruf yang membentuk data kata Shaddaw, dan dari ketujuh wanita hamil ini hanya dua yang selamat. Bintang dan Arcid mencari korban ke rumah sakit jiwa yang bernama Siska namun keduanya malah menjadi korban," tutur Vanila menjelaskan.


Eva mengerutkan keningnya, "Separah apakah tempat itu?" tanya Eva.


Bruk Bruk Bruk.


Suara gaduh pun terjadi, benda tak kasat mata saling berjatuhan. Hanya ketiga orang ini yang mendengar semua ini, "Sebaiknya kita tak membicarakan ini di sini," guman Afdhal pelan.


Eva dan Vanila mengangguk.


🍀🍀🍀🍀🍀


Laki-laki itu berjalan tanpa arah, beberapa barang sedang bertarung, Terlihat wanita itu, melawan beberapa mahluk yang begitu kuat dan juga jahat. Ia ingin menolong wanita itu, namun sebuah dingding penghalang membatasinya untuk bisa ke sana. Dingding itu, tak bisa ia tembus.


Mimpi Bintang pun sama dengan Zazah, gadis itu begitu lelah bertarung melawan beberapa moster sebuah tangung, ia pun berpikir aneh, kenapa ia bisa berada di tempat yang tak di kenalinya ini. Namun gadis itu berpikir dalam mimpi bisa menjadi siapapun.


Berbeda dengan Siska, ia melihat ke lima wanita yang sama dengannya di rawan di satu ruangan yang tak tau itu berada di mana. Siska berhasil di tangkap, ia meronta-ronta tak ingin menjadi seperti ke lima wanita itu, menjadi santapan dari mahluk itu, tubuhnya bergetar. Wanita itu begitu ketakutan, sampai seseorang datang menariknya dari sana.


🍀🍀🍀🍀🍀


Bintang, Zazah dan Siska membuka mata bersamaan, tinggal Arcid yang masih tertidur dalam mimpinya.

__ADS_1


Zazah memegang perutnya, ia pun menjerit. Membuat Eva, Vanila dan Afdhal datang menghampirinya. Sedangkan Siska hanya terdiam, tanpa ada ekspresi.


Wanita bernama Zazah itu, menangis tersedu-sedu, ia kehilangan semuanya. Tak ada yang tersisa untuknya kali ini. Eva dan Vanila bingung harus bagaimana? Kedua gadis ini masih lajang. Tak tau rasanya kehilangan bayi itu seperti apa? Yang bisa mereka lakukan hanya menenangkan wanita itu.


Bintang mendengar suara jeritan itu, namun tubuhnya tak bisa digerakkan sama sekali, ia melihat Arcid masih terbaring tak sadarkan diri. Ia mengingatkan setiap kejadian sebelumnya ia kehilangan kesadaran. Ia tak menyangka di dunia manusia ada tempat berbahaya seperti itu. Laki-laki itu pun mulai mengkhawatirkan Arcid.


Bintang pun menutup matanya, ia mencoba berkonsentrasi, untuk melihat apa yang terjadi kepada Arcid. Laki-laki itu tak melihat apapun! Ia berpikir, "Apakah karna, tubuhnya lemah sehingga ia tak bisa melihat Arcid."


Laki-laki itu pun mencoba berkonsentrasi kembali, namun lagi-lagi tentang Zazah yang terlihat. Ia bingung kenapa dengan wanita itu? Hingga pada akhirnya ia membuka matanya kembali. Laki-laki itu tak berbuat apapun.


Keadaan malah semakin parah, bila ia terus memaksakan diri. Ia mulai berpikir tentang wanita itu lagi. Ia merasa tak mengerti, kenapa ia memikirkan wanita itu? Ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Namun apa itu?


Laki-laki tersebut melirik Arcid. Ia kasihan dengan manusia ini. Harusnya ia bisa sadar, kenapa dia belum juga sadar?


Arcid masih bermain-main di alam bawah sadarnya, keadaannya sudah membaik. Bila ia terluka, Kakeknya selalu datang untuk menyembuhkannya. Kali ini, luka yang ia terima cukup parah. Sehingga laki-laki itu, membutuhkan waktu yang lama untuk bisa bangkit kembali.


Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan mereka semua di rumah sakit, seseorang memakai jubah hitam.


Zazah masih menangis, dan kemudian pingsan lagi, membuat kedua gadis ini panik. Afdhal pun memanggil Dokter untuk meheyiksa keadaan wanita itu.


Afdhal memperhatikan wanita yang bernama Siska, ia diam tanpa ekspresi. Laki-laki itu pun memegang tangannya, ia ingin mengetahui apa yang terjadi dengan wanita ini? Dari penglihatannya, jiwa wanita ini, tergoncang. Ia hanya syok dengan apa yang terjadi kepadanya. Namun karna, dia seperti ini, akan mudah dirasuki. Laki-laki itu mengerti. Rasa kehilangan itu tak mudah untuk bisa di lupakan. Namun tetap saja wanita ini harus melanjutkan hidupnya.


Laki-laki itu pun membaca beberapa mantra, untuk mengikat jiwanya dan juga tubuhnya, agar tak bisa dirasuki oleh siapapun lagi. Mantra pengikat jiwa ini, hanya Afdhal yang bisa membukanya. Karna hanya ia yang memiliki wewenang untuk ini.


Namun kondisinya masih seperti itu, membuat laki-laki ini semakin khawatir. Harusnya setelah di baca mantra-mantra pengikat jiwa ini, wanita itu akan kembali seperti semula. Tapi tidak dengan Siska, wanita ini tetap sama. Ia masih diam tanpa ekspresi.


Vanila memperhatikan manusia laki-laki itu, tak hanya mesum, namun Laki-laki itu juga bisa diandalkan, perlahan gadis itu mulai mengagumi itu, tanpa di sadarinya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2