
Pagi-pagi sekali Eva, Arcid dan Afdhal sudah siap merasa di air terjun pelangi. Tinggal dua warga lagi, Nila dan Gingga.
Kini dimulai dengan warna nila, tantangannya kali ini. Harus masuk gua dalam air terjun berwarna nila. Sudah sekitar seratus tahun tak ada yang sampai ke gua air terjun berwarna nila. Entah apa di dalam, Faruk sendiri tak tau!
Arcid, Eva dan Afdhal harus bisa masuk ke dalam. Ariel, Faruk dan Rasmi hanya bisa menunggu di luar gua saja.
Eva, Arcid dan Afdhal pun mulai melangkah ketiganya pun merasakan aura yang cukup besar di dalamnya. Entah moster apa yang ada di dalam. Baru juga sampai di mulut gua terdengar suara dari dalam.
Aura besar membuat Arcid, Eva dan Afdhal pun terhempas ke luar sampai tengelam ke dalam danau. Ketiganya tak tau moster apa yang di dalam.
Arus dalam danau air terjun berwarna nila itu pun begitu teras sampai membuat ketiga manusia itu masuk dalam pusaran air di dasar danau Eva, Arcid dan juga Afdhal tak tau akan di bawa ke mana mereka.
Ketiganya pun masuk dalam aliran sungai yang tak berujung seperti sedang bermain perosotan air di Waterboom. Ketiganya tak tau di mana ujung dari pusaran ini. Ketiganya mengikuti air yang mengalir terus ke dalam masuk kedalam perut bumi.
Sampai ketiganya pun jatuh ke dalam sungai di dalam perut bumi. Sungai itu tak tau di mana asalnya. Ketiga manusia ini pun sudah basah kuyup membuat tubuh Eva terlihat jelas membuat Arcid dan Afdhal memalingkan wajahnya. Bukan saat nya melihat Eva seperti itu.
"Kalian tak boleh berbalik," bentak Eva menyuruh kedua temannya untuk berbalik badan membelakanginya.
"Kalian tak boleh berbalik sampai aku menemukan benda untuk menutupi tubuhku!" seru Eva bingung.
Arcid dan Afdhal pun menunduk. Eva pun memperbaiki baju tradisional Suku Yina untuk dimodifikasi dengan dedaunan agar tak terlihat lagi bentuk tubuhnya lagi. Hampir satu jam Eva memperbaiki baju tradisional itu yang sudah sobek.
Setelah selesai. Eva pun memperbolehkan Arcid dan Afdhal untuk berbalik. Arcid dan Afdhal pun benar-benar terpukau melihat Eva yang terlihat lebih cantik dari biasa.
Apalagi Arcid sedari tadi jantungnya pun berdebar kencang saat melihat rambut Eva yang terurai panjang.
__ADS_1
"Sudah, kita harus bekerjasama mencari jalan untuk pulang," guman Eva melihat sekitar.
Arcid dan Afdhal pun tersenyum. Dua laki-laki itu pun mulai melihat ke atas. Begitu tinggi mereka terjatuh tadi. Sekarang bagaimana cara untuk pulang.
Dari arah lain terdengar suara desis ular yang tak terlihat sama sekali. Hanya sebagai kecil cahaya yang masuk ke dalam gua sampai mereka tak tau ada bintang apa di dalam gua ini.
Arcid mulai membaca mantra yang ia bisa untuk melihat moster apa yang sedang bersembunyi. Arcid pun menyuruh semua mundur. Ternyata itu seekor ular hitam dengan ukuran yang cukup besar. Selama bertahun-tahun ia terjebak di sini sampai ukuran sebesar itu.
Afdhal pun berpikir bagaimana cara menghadapi ular besar itu. Karna, ia benar-benar tak bisa bergerak.
"Bagaimana ini?" tanya Eva mulai waspada.
Sebenarnya ular itu tak berbahaya sama sekali hanya seekor ular biasa dengan ukuran yang besar. Ular itu pun kesakitan karna, sudah bertahun-tahun terjebak dalam gua ini.
Ternyata tubuh ular itu yang menutupi jalan. Perlahan Afdhal membuat cahaya dari sihir yang ia buat api yang melayang di udara untuk menerangi gua yang gelap karna, sudah tak ada cahaya masuk saat masuk gua yang ditutupi oleh tubuh ular besar tadi.
Sebelum melangkah, Arcid pun memeriksa sekitar untuk mengetahui ada apa di dalam. Tak ada apa pun di dalam namun, tetap saja Arcid, Eva dan Afdhal pun waspada.
Dari atas danau, Ariel, Faruk dan Rasmi pun menunggu kehadiran Arcid, Eva dan Afdhal. Namun, yang keluar malah seekor bulat berwarna hitam dengan ukuran yang kembali menjadi besar.
Faruk, Ariel dan Rasmi pun terkejut. Ular itu ular biasa. Rasmi pun membaca mantra-mantra agar ular itu bisa berbicara untuk mengetahui apa yang terjadi di bawah sana.
"Saya terjebak di bawa selama bertahun-tahun membuat ukuran tubuh saya membesar dan terjebak di dalam sana. Dan tiga orang manusia jatuh ke bawah dan menyelematkan Saya sampai saya berada di atas sini," ucap ular itu.
"Apakah ada monster lain di bawah?" tanya Ariel.
__ADS_1
"Entahlah saya tak ke mana-mana karna, dibawah begitu banyak makanan sampai saya tak beranjak dari tempat saya terjatuh," jawabnya lagi.
"Baikah aku namakan Mamo. Aku Rasmi, ini suamiku Faruk dan Ini Ariel dan ketiga manusia itu, Eva, Arcid dan Afdhal sebagai murid dari Ariel yang sedang berlatih di sini," ucap Rasmi.
"Aku sangat berterima kasih sekali kepada tiga manusia itu. Dan aku berjanji tak akan memangsa manusia," ucapnya.
"Tapi, Mamo bila kamu di sini, kamu akan dimangsa oleh penduduk Suku Yina," ucap Rasmi.
"Aku harus ke mana?" tanya ular itu.
"Lebih baik kamu datang ke pulau ular di sebrang pulau ini, agar tak dimangsa oleh manusia," ucap Rasmi.
Sebelum ular itu pergi, Faruk membaca mantra-mantra untuk membuat Mamo tak terlihat untuk sampai di pulau ular. Beberapa kali ular itu berterima kasih kepada manusia yang baik seperti mereka. Setelah itu pun ular itu pun pergi.
Balik lagi ke dasar gua, Arcid, Afdhal dan Eva masih mencari jalan untuk pulang. Entah berapa lama mereka sudah berjalan menyusuri gua bawah ini.
Tiba-tiba saja di depan mereka beberapa ulat bulu berwarna nila muncul begitu banyak. Semua bingung kenapa ada ulat bulu di dasar gua! Biasanya ulat bulu ada di pohon bukan di dasar gua.
Ketiganya terdiam tak bingung bagaimana cara melewati ribuan ulat bulu ini. Faruk, Ariel dan Rasmi selalu berpesan tak boleh melukai binatang yang ada di sini.
Tak ada jalan ini, Afdhal pun mengambil satu ulat bulu itu, tiba-tiba saja keluar ulat bulu raksasa yang tertutup ulat bulu kecil itu. Afdhal pun menjatuhkan ulat bulu itu, tak tau kalau ada induknya di sini. Induk ulat bulu itu pun mulai mengeluarkan jaring yang begitu lengket sampai tak bisa terlepas. Jaring itu pun terkena kaki Eva membuatnya berusaha melepaskan jaring itu dengan kemampuannya.
Bersambung....
Jangan lupa like dan komen yah untuk meninggalkan jejak kalian dan mampir juga ke novel Author yang lain. Terima kasih.
__ADS_1