DEPARTEMEN KEAMANAN SUPRANATURAL

DEPARTEMEN KEAMANAN SUPRANATURAL
TIGA PULUH EMPAT


__ADS_3

Setelah berhasil melepaskan diri, Eva pun mencoba mundur, Arcid pun membaca mantra-mantra hipnotis untuk membuat ular bulu raksasa itu pun menyemprot jaringannya ke tubuhnya sendiri.


Setelah mengenai tubuhnya sendiri. Arcid, Eva dan Afdhal pun berjalan cepat sebelum ulat bulu raksasa itu sadar.


Setelah melewati ribuan ulat bulu itu. Ketiganya dikejutkan dengan tumbuhan rambat. Di dalam gua yang ketiganya lewati pun berubah menjadi hutan belantara, membuat Arcid, Eva dan Afdhal bingung. Sebenarnya ini ada di mana?


Banyak tumbuhan dan sinar matahari masuk entah dari mana? Masuk ke sini seperti masuk ke dunia yang baru membuatnya semakin bingung.


Eva, Arcid dan Afdhal melihat sekitar bingung ke mana mereka harus melangkah. Arcid pun memutuskan untuk bersemedi bersama Afdhal dan Eva. Ketiganya berkonsentrasi penuh untuk meminta ditunjukan jalan pulang.


Arcid tak melihat apa pun di sini selain hutan belantara di dalam gua ini. Arcid membuka matanya. Terlihat Afdhal dan Eva tertidur karna, lelah sedari tadi berjalan tanpa arah.


Sebelum Arcid ikut tidur, Arcid pun membaca mantra-mantra untuk melindungi ketiga dari moster atau mahluk apa pun yang ada di tempat ini.


Eva pun sudah terlelap begitu juga Afdhal dan juga Arcid. Seseorang pun datang menghampiri mereka untuk memberikan mimpi yang indah sampai ketiga tak bisa meninggalkan tempat ini untuk diserap jiwa-jiwa mereka.


Selama ini, jarang ada yang sampai ke air terjun berwarna Nila karna, air yang berwarna nila dari ketujuh air terjun pelangi ini sering terhenti tanpa sebab. Karna, sebelum mengalir air berwarna nila itu keburu ditarik dari Hulu sungai oleh kekuataan hebat yang tersembunyi.


Tak ada yang tau Karna, setiap yang datang ke air terjun pelangi. Hanya sampai ke warna ungu. Dua warna lagi tak pernah dipakai karna, kekuatan dari dalam saking menarik. Bila dipaksakan kekuatan kita yang akan terhisap habis.


Namun, lima tahun terakhir semenjak Faruk menjadi Kepala Suku Yina, air yang mengaliri air terjun berwarna Nila dan Gingga pun mengalir deras sampai sekarang. Makanya, Faruk tak tau apa yang terjadi di dalam.


Dalam mimpi Eva.


Eva membuka matanya terlihat Bintang sudah ada disampingnya. Eva bingung ada di mana sekarang. Bintang mengatakan kalau sudah lama Eva menyelesaikan tantangan itu, kini saatnya hari pernikahannya dengan Bintang.


Eva bingung dengan semua yang terjadi kepadanya. Beberapa kali, Eva mencubit pipinya berharap ia tak mimpi. Namun, ini benar-benar nyata.


Pernikahan pun berlangsung meriah. Bintang berpaling melihat Zazah. Membuat Eva yakin kalau Bintang sudah mencintainya.


Eva masih belum menyadari kalau semua ini mimpi yang begitu bahagia sampai Eva tak mau bangun.


Di Mimpi Afdhal.


Ia terkejut saat membuka matanya terlihat ia masuk ke dunia modern yang begitu canggih. Semua yang ia mimpikan menjadi nyata. Afdhal bisa keluar masuk dunia dengan waktu yang cepat.

__ADS_1


Afdhal berhasil mengalahkan juara dunia dalam permainan game internasional. Pundi-pundi uang pun kini berhasil ia dapatkan. Afdhal pun menjadi polisi yang paling dikagumi seluruh wanita.


Sampai sebuah teman-temannya cemburu kepadanya. Melebihi kepopuleran dari Bintang dan Arcid. Ia pun tertawa bahagia.


Dalam mimpi Arcid.


Begitu membuka matanya Arcid sudah berada di atas pelaminan. Terlihat Eva begitu cantik memakai baju pengantin. Arcid melihat sekitar, bingung dengan apa yang terjadi?


Eva sudah ada dihadapannya. Arcid pun memegang pipi Eva. Semua terasa aneh, kenapa Eva mau menikah dengannya? Padahal Eva tak tau bagaimana perasaan kepada Eva.


Merasa ada yang tak beres dengan semua ini. Dalam hatinya, ia membaca mantra-mantra yang ia bisa. Untuk mengetahui apa yang terjadi di sini. Begitu terkejutnya ia, saat melihat kenyataan kalau yang ia nikahi bukan Eva melainkan ulat bulu.


Sebisa mungkin Arcid membuka matanya. Begitu terkejutnya ia saat sebagai tubuhnya sudah dipenuhi ulat bulu. Arcid berusaha mengusir ular bulu itu dari tubuhnya dan tubuh dua temannya Eva dan Afdhal.


Berusaha untuk membuat keduanya bangun dari mimpi indah mereka sebelum jiwanya dihisap habis oleh ular bulu itu yang ternyata penghisap jiea dari manusia melalui mimpi.


Eva dan Afdhal sudah pucat karna, terbuai mimpi indah mereka sampai keduanya tak mau bangun.


Beberapa ulat bulu itu mulai menyerang Arcid yang hanya sendiri. Karna, Eva dan Afdhal sudah tak sadarkan diri.


Arcid masih berkonsentrasi penuh mencari cari tau dimana kelemahan dari ulat bulu berwarna nila itu. Sampai Arcid pun melihat seseorang wanita yang keluar dari kelopak bunga. Arcid tak tau siapa dia? Namun, ia yang mengendalikan ulat bulu yang berwarna nila ini.


Arcid membuka matanya wanita yang ada dalam penglihatannya itu kini ada dihadapannya.


Wanita itu pun bertepuk tangan. Karna, Arcid berhasil keluar dari ilusi yang ia ciptakan. "Waw, kamu benar-benar hebat," pujinya lagi. Baru kali ada yang berhasil keluar dari ilusi yang ia ciptakan.


"Siapa kamu?" tanya Arcid karna, tak bisa melihat dari masa lalu wanita ini.


"Aku bagian dari terjun pelangi, kamu bisa memanggilku Nila. Lihatlah dunia yang aku ciptakan," gumannya banga.


"Aku harus bisa keluar dari disini untuk menyelesaikan semua tantangan ini," ucap Arcid lagi.


"Waw, aku tak tau."


"Di mana kamu berasal?"

__ADS_1


"Sepenting itu kah, untuk menyelesaikan tantangan itu."


"Yah, di luar sana aku dan tiga rekanku harus menghadapi masalah yang begitu banyak. Aku tak bisa tinggal di sini. Banyak orang yang menunggu kita di sana."


"Kamu tak berbohong tapi, aku sudah menyukaimu."


"Maafkan aku karna, aku tak bisa."


"Karna, gadis ini."


Arcid tak mau menjawab.


"Baiklah aku akan melepaskan dua temanmu, tapi, kamu tinggal di sini."


"Aku tak bisa."


"Aku akan memberikan apa pun yang kamu mau?"


"Tidak."


"Ayolah, di duniamu tak senyaman dunia yang aku ciptakan."


"Bila, aku di sini aku bosan."


"Apa maksudmu?"


"Dunia ini terlalu damai. Aku tak suka."


Wanita itu pun berubah menjadi ular bulu raksasa tadi yang Arcid hipnotis. Arcid pun mulai waspada. Beberapa kali ia keluarkan jaring racun itu. Arcid pun bisa menghalaunya.


Dalam pikirannya saat ini, ia harus keluar hidup-hidup bersama Eva dan Afdhal. Arcid tak mau menyelamatkan dirinya sendiri. Bagi Arcid, Eva dan Afdhal rekan satu tim. Bila mereka tak bisa pulang berarti ia pun tak akan pulang. Datang bersama dan pulang pun bersama. Seperti itu prinsipnya saat ini. Arcid tak bisa mengandalkan orang lain selain dirinya sendiri.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya untuk meninggalkan jejak kalian dan mampir juga ke karya Author yang lain terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2