DEPARTEMEN KEAMANAN SUPRANATURAL

DEPARTEMEN KEAMANAN SUPRANATURAL
DUA PULUH ENAM


__ADS_3

Belum juga Arcid berkonsentrasi, dari dalam tanah keluarlah Induk cacing yang ukurannya lebih besar dari moster cacing-cacing tadi. Melihat semua itu membuat mereka bertiga semakin bingung harus bagaimana?


Sedangkan Ariel dan Pratiwi memperhatikan dari atas jendela dekat ruang UGD. "Kita tebak apakah mereka bisa menghadapi Moster cacing-cacing itu!" seru Ariel masih memperhatikan kemampuan dari tiga manusia khusus itu.


"Mereka hebat orang-orang yang terpilih dari ribuan peserta yang mendaftar di akademi. Aku yakin mereka bisa menghadapi Moster itu," ucap Pratiwi bangga kepada tiga anak didiknya.


"Benarkah, kita lihat saja kemampuannya mereka?" Aku tak yakin dengan kemampuan mereka masih jauh dari Zazah dan Bintang!" seru Ariel sengaja mengkompori Pratiwi.


"Kamu hanya belum tau saja kemampuannya mereka," ucap Pratiwi tak berpengaruh sama sekali.


"Oke, kita lihat seberapa besar kehebatan dari anak didikmu itu?" tantang Ariel masih memperhatikan.


Ketiga manusia khusus itu masih melayang di udara, rasanya tak ada celah untuk bisa melawannya moster cacing-cacing itu. Ketiganya berpikir cukup lama. Karna, moster cacing-cacing itu tak berbuat apa pun selain memenuhi halaman rumah sakit.


Arcid pun kembali menjaga keseimbangan tubuhnya untuk melayang di udara. Ia pun menutup matanya. Ternyata moster cacing itu tak ada niat untuk menyerang. Induknya baru saja melahirkan anak-anaknya kondisi Luna begitu lemah.


Setelah melihat itu, Arcid pun membuka matanya. Terilhat tatapan dari Afdhal dan Eva melihat ke arahnya.


"Kita harus memindahkan mereka?" guman Arcid.


Eva dan Afdhal pun mengerutkan keningnya. Eva membaca apa yang Arcid pikirkan tadi. "Oke kita bawa mereka ke hutan," ucap Eva mengerti.


"Tunggu, aku masih tak mengerti!" seru Afdhal.


"Induk moster cacing ini baru saja melahirkan. Kondisinya masih lemah. Sebisa mungkin kita harus pindahkab mereka dari sini. Sebelum mereka hancurkan tempat ini," tutur Arcid.


"Baikah, kenapa kita akan memindahkan mereka?" tanya Afdhal.

__ADS_1


"Ke hutan! Hanya itu tempat paling luas di kota ini," ucap Eva memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Afdhal.


"Baiklah serahkan kepadaku," guman Afdhal lagi.


"Tunggu, kamu tak akan melukai mereka kan?" tanya Eva khawatir.


"Percaya saja padaku," ucapnya sambil tersenyum.


Evan dan Arcid pun mengangguk. Tak tau apa yang akan dilakukan oleh Afdhal.


Perlahan Afdhal pun meloncat ke bawah. Ia pun menyilangkan kedua tangannya membaca bacaan Matra yang menurut Arcid aneh karna, baru pertama kali mendengar bacaan mantra yang Afdhal ucapkan.


Afdhal pun mengeluarkan rantai gaibnya matra-matra yang keluar dari mulutnyanya pun berkumpul menjadi satu mengikat moster cacing-cacing itu tanpa melukainya serakah semua berkumpul. Afdhal pun membaca mantra yang lain dengan warna yang berbeda dari warna Matra tadi. Kedua warna matra itu pun samping berdampingan untuk mengangkat moster cacing-cacing itu sampai beberapa meter dari tanah. Afdhal pun melempar rantai gaibnya pada bagian Matra yang berwarna itu. Tak lama setelah itu keluarlah cahaya dan seketika moster cacing-cacing itu pun menghilang dari halaman rumah sakit khusus.


Semua terkejut dengan apa yang Afdhal lakukan kali ini? Setelah moster cacing-cacing itu menghilang. Arcid dan Eva pun turun ke tanah. "Kemana moster cacing-cacing itu?" tanya Eva serius.


"Ke hutan!" jawab Afdhal.


"Yah, Matra tadi seperti teleportasi dengan mengunakan matra. Kan mempermudah kerjaan kita," ucapnya santai melangkah terlebih dahulu.


Eva dan Arcid pun saling melihat satu sama lain. Terkadang Afdhal selaku memberikan kejutan yang terduga. Kedua manusia itu pun melangkah di belakang Afdhal.


Dari jendela tempat Ariel dan Pratiwi keduanya masih memperhatikan. Terlihat Ariel masih terkejut karna, baru kali ini melihat teleportasi dari Matra yang begitu asing baginya.


"Bagaimana?" tanya Pratiwi membuyarkan lamunan Ariel yang masih memikirkan Afdhal tentang kemampuannya ini.


"Waw, aku acungkan jempol pada anak didikmu!" guman Ariel mengagumi kemampuan yang Afdhal miliki.

__ADS_1


"Aku sudah bilang, ketiga manusia itu lebih tangguh dari yang terlihat. Kamu jangan meremehkan mereka!" seru Pratiwi melangkah meninggalkan Ariel.


Dari jauh, Ben masih memperhatikan istrinya Pratiwi. Ia merasa cemburu karna, Ariel. Namun, Ben begitu mempercai dari Pratiwi.


Lagi-lagi seseorang yang tak dikenalinya masih memperhatikan kemampuan dari anggota Departemen Keamanan Supranatural yang katanya berjumlah lima orang tangguh. Hari ini, menjadi hari bahagia untuknya karna bisa melihat secara langsung dari anggota keamanan itu.


Seseorang itu pun menghilang dari sana. Untuk melaporkan apa yang dilihatnya hari ini kepada bos-nya?


Sedari tadi Marisa memperhatikan mereka dari jendela tempatnya dirawat. Arcid, Afdhal dan Eva benar-benar bukan orang biasa. Tak salah Pratiwi memilih mereka.


Marisa melihat tangannya yang mulai keriput. Laba-laba raksasa itu benar-benar melukai Marisa saat ini. Luka dalamnya begitu dalam sampai perlahan sel-sel yang menjaga kemudaannya pun mulai hilang. Jika dilihat umur manusia Marisa sekitar 75 tahun. Tapi bila di dunia lain umurnya lebih dari segitu.


Kondisi tubuhnya sekarang benar-benar tak bisa ditolerir lagi. Mungkin sudah saatnya. ia menyusul Ronal yang beberapa hari ini selalu datang dalam mimpinya. Lagi pula sudah tak ada yang bisa ia lakukan lagi. Zazah sudah bersama Bintang. Ia yakin Bintang akan mejaga Zazah.


Marisa pun menutup matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang benar-benar lelah. Rasanya sudah tak ada tenaga lagi. Benar-benar merasa lemah dan tak berdaya.


Marisa sudah siap bila harus pergi dari sini. Sesaat ia menutup mata seseorang datang berusaha menyalurkan energi yang ia punya dalam tubuhnya. Ia tak mau melihat Marisa mati begitu saja.


Marisa harus hidup sampai nanti. Air matanya terus mengalir membasahi pipi dari laki-laki itu. Ia terus membaca mantra-matra agar Marisa selamat dan menghilang seluruh racun dari laba-laba raksasa yang sempat meracuninya.


Sekuat tenaga ia berusaha untuk mengeluarkan racun itu. Ia bukan tenaga medis. Namun, ia akan berusaha untuk menyembuhkan Marisa dengan segenap jiwa raganya.


Ia benar-benar tak mau kehilangan Marisa lagi. Cukup Laki-laki ini kehilangannya di masa lalu. Sekarang jangan lagi, ia rela ditukar nyawanya untuk menyembuhkan Marisa.


Perlahan keajaiban pun muncul Marisa kembali muda tak seperti nenek lagi. Ia pun bersyukur kepada Tuhan, Marisa kembali selamat. Sekarang Marisa sudah amat jauh dari kritis. Separuh kekuatannya hampir terkuras habis. Laki-laki itu tak menyesal sama sekali.


Dalam pikirannya kini, Marisa selamat. Hanya itu saja yang ia mau. Bila Marisa melupakannya pun ia sudah siap. Baginya hanya keselamatan dari Marisa yang lebih utama. Akhirnya Laki-laki itu pun berasil mengeluarkan racun dalam tubuhnya Marisa.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya tinggalkan jejak kalian yah dan mampir juga ke karya Author yang lain Terima Kasih


__ADS_2