DEPARTEMEN KEAMANAN SUPRANATURAL

DEPARTEMEN KEAMANAN SUPRANATURAL
DELAPAN BELAS


__ADS_3

Lionil sudah bersiap melawan penyusup itu. Ia sudah siap meyerang dengan kemampuan yang Lionil miliki. Seseorang dengan jubah hitam mulai mengeluarkan angin dari telapak tangannya. Lionil pun bisa menangkis serangan ini.


Walaupun energi Lionil di serap oleh janin dalam kandungan Vanila. Namun, ia cukup kuat untuk melawan dia yang auranya tak begitu kuat menurut Lionil.


Seseorang itu terus saja menyeng Lionil karna, ia tau keadaan Lionil sedang tak stabil membuatnya merasa bisa melawan Lionil. Akan tetapi, dia salah memperkirakan semua itu. Lionil masih tetap kuat walaupun energinya terkuras habis.


Seseorang itu pun kabur setelan mendapatkan serangan balik dari Lionil yang membuatnya tak bisa berkutik sama sekali. Kecoa kecil itu pun lari tanpa meninggalkan jejak. Cukup jera untuk tak berani melawan Lionil lagi.


Tubuh Lionil pun ambruk. Energinya Benar-benar terkuras habis. Untung ada Bintang yang merasa ada yang tak beres dengan Lionil. Bintang pun menemukan Lionil yang tak sadarkan diri di tanah.


Bintang pun mengangkat tubuh Lionil untuk di baringkan di ranjang dekat Vanila. Biarlah keduanya bersatu dalam satu ruangan. Bintang pun mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk membuat Lionil atau Vanila merasa aman dalam kantung nutrisi yang akan menjaga keduanya. Para petugas yang memberikan makan untuk Lionil pun harus memasukan makanan-makanan ini ke dalam kantung nutrisi yang dibuat Bintang.


Bintang pun membacakan mantra-mantra yang membuat Vanila ataupun Lionil aman dalam kantung nutrisi tesebut. Siapapun yang berbuat jahat tak akan bisa masuk kedalamnya?


Mengeluarkan kemampuannya itu membuatnya lelah. Sekarang yang bisa ia lakukan mencari makan agar eneginya pulih kembali.


Bintang pun berjalan mencari makanan untuk mengisi energinya kembali. Di depan masih ada penjual nasi goreng. Bintang pun masuk ke warung nasi goreng itu. Di dalam ada beberapa petugas polisi yang sedang makan malam. Mereka pun tersenyum melihat Bintang.


Rumah sakit markas ini, tak sembarang petugas polisi yang masuk. Di rumah sakit ini juga, menyediakan alat-alat yang lebih canggih dari rumah sakit pada umumnya. Biasanya rumah sakit ini tempat menampung orang-orang yang terkena moster bukan penyakit pada manusia.


Hanya orang-orang yang memikij kemampuan khusus saja yang bisa melihat atau masuk rumah sakit ini. Manusia biasa tak akan bisa masuk.


Beberapa petugas polisi yang tak mengenal Bintang pun mengerutkan keningnya. Seragam polisi yang Bintang kenakan beda dari yang lain. Membuat seorang yang bernama Idanz pun bertanya kepadanya.


"Maaf Pak? Sedari tadi aku melihat Bapak berbeda dari yang lain. Bapak dari devisi mana?" tanyanya.


Bintang tersenyum. "Aku dari D.K.S," jawabnya.

__ADS_1


Laki-laki itu pun mengerutkan keningnya. Baru kali ini ia mendengar divisi itu. "Maaf Pak? Aku baru mendengar divisi itu?" tanyanya lagi.


"Kamu sendiri divisi mana?" tanyanya tak ingin memperpanjang pertanyaannya.


"Aku baru pindah seminggu lalu. Saya Idazn dari devisi Kriminal untuk pelindung wanita," jawabnya.


"Seperti tindakan K.D.R.T," ucap Bintang lagi.


"Yah, semacam itu."


"Kamu suka menjadi polisi?" tanya Bintang lagi sembari menyantap nasi goreng yang dipesannya.


"Suka sekali Pak? Cita-cita aku dari kecil. Aku ingin menjadi seperti Komandan Bintang."


Mendengar ucapan itu, membuat Bintang terbatuk-batuk. Rasanya aneh ada seseorang yang ingin menjadi sepertinya.


"Kata Nenekku, komandan Bintang sudah menyelamatkannya ketika ia masih muda. Namun, sayang Komandan Bintang harus tewas karna, pertempuran itu," ucapnya terlihat sedih.


Obrolan ini semakin menarik membuat Bintang penasaran dengan cerita dari polisi muda ini. "Coba kamu ceritakan tentang Komandan Bintang yang kamu ceritakan tadi? Aku pun ingin mendengar kehebatan dari idolamu itu?"


Idzan tersenyum. "Aku tak tau detailnya gimana sih? Hanya saja, Nenek saya sering menceritakan tentang Komandan Bintang. Nenek saya mempunyai hutang budi kepadanya. Sekitar 50 tahun yang lalu, Komandan Bintang sudah menyelamatkan Nenek saya yang hampir tertimpa reruntuhan gedung. Menurut nenek saya, Komandan Bintang begitu kuat dan hebat."


Mendengar ucapan Idzan membuat Bintang teringat kejadian 50 tahun yang lalu. Ketika seorang gadis yang terjebak di area pertempuran. Bintang pun menolongnya seorang gadis yang pingsan. "Apakah gadis itu yang menjadi nenek dari Idzan?" pikir Bintang membuatnya teringat dengan masa lalu.


"Pak-pak?" tanya Idzan membuyarkan lamunan Bintang.


"Iya?"

__ADS_1


"Bapak kenapa?"


"Tak apa-apa? Hanya saja saya ingin mengucapkan terima kasih kepada nenekmu," ucap Bintang beranjak keluar dari dalam warung penjual nasi goreng itu. Setelah membayar kepada penjual nasi gorengnya.


Idzan tak mengerti maksud dari Bintang. "Tunggu pak?" tahannya.


Bintang pun menoleh. "Apa?" tanyanya sambil tersenyum.


"Nama Bapa siapa?" tanyanya lagi.


"Bintang."


Idzan pun tersenyum, nama polisi itu sama dengan idolanya komandan Bintang. Idzan belum pernah bertemu Komandan Bintang. Akan tetapi Neneknya selalu berharap kalau cucunya ada yang menjadi polisi seperti Komandan Bintang idolanya. Hari ini keberuntungannya. Karna, Idzan bertemu kembali dengan seseorang yang bernama Bintang juga.


Perlahan ingatan tentang masa lalunya mulai terbuka. Bintang tak tau apa yang terjadi kepadanya? Hanya saja, melihat polusi muda itu membuat Bintang semakin semangat. Bintang menjadi inspirasi polisi muda lainya.


Semua ini membuatnya aneh. Gadis yang ditolongnya berubah menjadi tua. Namun, Bintang dan Zazah masih sama saat 50 tahun yang lalu. Tak terilhat tua sama sekali. Bintang dan Zazah malah seperti berusia 23 tahun.


Memikirkan ini membuatnya semakin pusing. Semuanya terasa aneh dan tak bisa dimengerti. Bukanya ingin menjadi tua. Hanya saja tubuh Bintang menolak tua. Bintang masih seperti ini.


Pangdangannya teralihkan begitu ia melihat wanita yang bernama Zazah itu. Hatinya berdebar walau hanya melihat saja. Tak hanya Bintang yang merasa debaran itu. Zazah pun mengalami hal yang sama seperti Bintang. Namun, Zazah berusaha menepis semuanya. Zazah berusaha berpaling melihat Bintang.


Hatinya terasa begitu sakit. Jurang pemisah itu membuat Zazah mau pun Bintang bingung. Untuk kembali memulai rasa yang tak bisa keduanya mengerti. Zazah pun tak tau apa yang ia rasakan terhadap Bintang. Sebuah rasa yang tak bisa ia mengerti.


Keduanya hanya bisa merasakan perasaan yang tak bisa mereka sentuh. Cinta dalam hatinya begitu sulit ditepiskan. Walau rasa itu sudah ada sejak lama. Tapi keduanya berusaha untuk menolak.


Sampai lammunan keduanya buyar saat seorang polisi ditusuk oleh panah dari arah yang tak terlihat sama sekali. Zazah dan Bintang berlari ke arah polisi yang ambruk itu. Zazah berusaha melepaskan anak panah dari polusi itu. Namun, Bintang melarangnya. Anak panah itu, bukan anak panah biasa yang bisa sembarang dicabut begitu saja. Zazah pun menunggu perintah dari Bintang. Harus bagaimana ini?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2