
Semuanya telah pulang ke kota Anggrek. Di air terjun pelangi tak hanya ilmu Ariel, Eva, Arcid dan Afdhal pun mendapatkan pelajaran yang begitu berharga. Sampai Konta Anggrek pun keempat orang itu melihat Zazah dan Bintang sedang melawan moster berkepala sembilan.
Tubuh Zazah dan Bintang sudah digenggam oleh moster itu yang siap melahap keduanya. Ariel, Eva, Arcid dan Afdhal pun segera menghampiri mereka.
Dengan cepat Afdhal memotong tangan moster berkepala sembilan itu dengan rantai gaibnya. Secepat kilat Eva menangkap tubuh Zazah. Arcid memotong tangan moster satu lagi agar ia melepaskan tubuh Bintang yang segera ditangkap Ariel.
Terlihat Zazah dan Bintang sudah kelelahan menghadapi moster hampir seluruh kota kacau-balau tak berbentuk lagi. Moster berkepala sembilan itu sudah memporak-porandakan seluruh kota sebagai korban luka-luka terkena reruntuhan gedung. Sebagian korban sudah di bawa ke rumah sakit terdekat sebagai lagi dinyatakan hilang.
Moster berkepala sembilan itu murka tangannya yang sudah patah pun kembali tersambung dengan cepat. Eva pun mengeluarkan listrik dari genggaman tangannya dan menghempas listrik tepat ke salah satu kepala moster itu.
Kepala moster itu pun jatuh ke tanah. Tapi, kepala moster itu pun tak tumbuh kembali seperti anggota tubuh yang lainya. Arcid, Afdhal dan Ariel pun mulai menyerang kepala moster itu sebagai titik lemah dari moster itu.
Setelah kepalanya habis moster itu ambruk mati menjadi buih bagai air laut menghilang tanpa jejak sama sekali.
Bintang dan Zazah masih kelelahan. Namun, keduanya tak bisa berdiam diri saja melihat mereka berempat menyerang moster itu. Akhir-akhir ini, beberapa moster kuat muncul selama Arcid, Eva dan Afdhal tak ada. Kondisi Zazah dan Bintang yang belum stabil pun mengharuskannya mereka turun langsung untuk menjaga keamanan Kota Anggrek.
Zazah dan Bintang masih membantu membereskan Kota. Eva pun mendekati Zazah. "Kak, istirahat saja biar kita yang bereskan semua ini," ucap Eva menyuruh Zazah untuk berhenti mengeluarkan kekuatannya.
"Tak apa-apa aku masih kuat," ucap Zazah sambil tersenyum.
"Kakak, harus istirahat!" seru Eva menghentikan tangan Zazah untuk terus mengeluarkan kemampuannya.
Zazah pun terdiam dan ambruk seketika. Eva pun terkejut dan segera di bawa ke rumah sakit. Zazah kembali di rawat begitu juga Bintang karna, keadaan keduanya memang belum stabil.
Zazah dan Bintang dirawat secara bersamaan. Eva memperhatikan Bintang. Begitu mimpinya saat di air terjun pelangi. Mimpi menjadi pendamping Bintang hidup bahagia selamanya. Tapi, semua itu hanya mimpi yang begitu indah sampai berharap Eva tak mau bangun lagi.
__ADS_1
Ia sedih karna, Bintang begitu mencintai Zazah setelah apa yang terjadi di masa lalu. Impian dan harapannya ambyar sudah. Bintang tak bisa dimiliki sama sekali.
Arcid memperhatikan Eva yang sejak tadi memperhatikan Bintang. Begitu besar rasa cinta Eva kepada Bintang sampai seseorang yang selalu ada untuk Eva tak pernah ada dilirik Eva sama sekali.
Sakit tak berdarah begitu miris kisah cinta Arcid sebelum memulai sudah kandas. Arcid segera memalingkan wajahnya saat Eva menoleh kearahnya. Eva pun merasa kalau seseorang memperhatikannya dari belakang.
Arcid pura-pura melihat kearah lain tak ingin ketahuan Eva kalau sudah sejak lama Arcid menyukai Eva. Gadis itu pun melihat ke segala arah tak ada siapapun. Eva tak berpikir kalau Arcid-lah yang selalu mencintai Eva.
Eva tak pernah menyadari kalau Arcid menyukainya. Hanya Eva saja yang tak menyadari itu. Semua sudah mengetahui perasaan Arcid kepada Eva. Karna, Eva terlalu sibuk dengan rasa cintanya kepada Bintang yang sama sekali tak ada harapan untuk bisa bersamanya.
Ariel pun meninggalkan yang lain mulai mencari Marisa. Selama tiga bulan ini, Ariel begitu merindukannya. Namun, sampai Kamari Marisa sudah tak ada.
Ariel pun memangil perawat yang bertugas di ruang rawat inap Marisa. "Maaf suster! Di mana pasien yang ada di sini?" tanya Ariel.
"Jendral Marisa, sudah kembali ke dunianya dari dua bulan yang lalu," jawabnya.
Ariel pun kembali ke ruang inap Zazah dan Bintang. Ia pun terkejut seseorang sedang menyerap energi keduanya. Ariel pun segera masuk membuat mahluk-mahluk itu terkejut dan segera menghilang.
Ariel pun berteriak meminta perawat datang untuk memeriksa keadaan Zazah dan Bintang yang semakin kritis. Mahluk itu berhasil menyerap energi dari Bintang dan Zazah untungnya tak seluruhnya mungkin hanya sebagian, keburu ketahuan Ariel.
Ariel kesal karna, tak bisa mengejar mahluk itu. Melihat keadaan Zazah dan Bintang semakin kritis. Sebelum perawat datang, Ariel berusaha menetralkan keadaan keduanya.
Perawat dan dokter pun segera datang ke ruang inap Zazah dan Bintang untuk memeriksa keadaannya. Untunglah keadaan keduanya stabil kembali normal walau keduanya belum sadar.
Ariel pun mengadakan rapat darurat. Pratiwi, Arcid, Eva dan Afdhal pun datang.
__ADS_1
"Apa apa Riel?" tanya Pratiwi bingung.
"Tadi siang, aku memergoki seseorang datang ke kamar Bintang dan Zazah. Dia sempat menyerap energi keduanya," ucap Ariel.
"Benarkah tadi siang aku menjaga keduanya seharian," ucap Afdhal.
"Sebelum kamu datang! Aku meminta kita bergiliran menjaga keduanya!" seru Ariel serius.
"Baiklah," ucap Pratiwi.
"Malam ini, biar aku yang jaga kita berjaga selama dua belas jam secara bergiliran tak boleh sampai meninggal keduanya walau lima menit. Zazah dan Bintang sedang diincar seseorang. Aku tak mau kehilangan mereka lagi," ucapnya sambil meneteskan air matanya.
Pratiwi terdiam, ia tau apa yang terjadi di masa lalu. Begitu berarti Bintang dan Zazah untuk Ariel.
Arcid, Eva dan Afdhal tak mengerti ucapan dari Ariel. Namun, melihat Ariel seperti itu ketiga orang itu yakin keduanya memiliki hubungan yang baik.
Eva melihat Ariel sampai menangis. Membuatnya penasaran apa yang terjadi diantara mereka. Eva ingin tau semua tentang Bintang dan Zazah walaupun ia tau kalau hatinya akan semakin sakit kalau mengetahui kenyataan itu.
Ariel pun segera pamit meninggalkan rapat itu. Ia tak mau terjadi sesuatu dengan Zazah atau Bintang. Sampai ruang inaf Zazah dan Bintang sudah ada Dokter Anggi yang sedang memeriksa keduanya.
"Bagaimana keadaan Dok?" tanya Ariel serius.
"Stabil untuk saat ini namun sebagian energi keduanya keluar secara paksa membuat Zazah dan Bintang semakin kritis. Bila sampai energi keduanya dihisap habis bunga kehidupan pun tak tak bisa menolong keduanya," tutur Dokter Anggi ikut prihatin.
Ariel meneteskan air matanya, lagi-lagi nyawa keduanya dalam bahaya. Ariel benar-benar tak bisa menolong keduanya karna, sebagian kemampuan ia berikan kepada Marisa. Sekarang Ariel tak tau harus bagaimana?
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa klik dan komennya untuk meninggalkan jejak kalian yah dan mampir juga ke karya Author yang lain terima kasih