
Sampai perkampungan, Eva melamun sendiri tak bisa tidur. Kenapa masih sempat memikirkan Bintang dan Zazah. Rasanya sakit sekali harus melihat mereka berdua. Tapi, keduanya sudah ditakdirkan bersama Eva bisa apa?
Di dalam perkampungan Suku Yina perempuan dan laki-laki di pisahkan tak boleh bersama kecuali sudah menikah. Eva tidur di Dusun Wangi sebelah barat Desa. Sedangkan laki-laki di Dusun Harum di sebelah timur Desa. Sedangkan warga Desa yang sudah menikah berada di tengah-tengah Desa. Anak-anak Suku Yina akan tinggal bersama orangtuanya sampai berusia sepuluh tahun setelah ulang tahun kesebelas mereka harus pindah ke dusun yang disiapkan warga desa memisahkan antara laki-laki dan perempuan.
Sampai mereka baliq di usia matang cukup untuk menikah pada usia di atas dua puluh tahun.
Setelah itu boleh menikah bebas mau menikah dengan siapapun asalkan beda jenis Suku Yina melarang warganya untuk melakukan hal yang tak terpuji. Bila sampai melanggar mereka akan dikutuk sama seperti Ramzi sekarang ia sudah bertobat tak akan melakukan kesalahan lagi. Bila melakukan kesalahan lagi nyawa mereka yang jadi taruhannya.
Di Dusun Harum, Arcid juga tak bisa tidur. Ia memikirkan perasaannya kepada Eva. "Kenapa disaat seperti ini, malah memikirkan Eva?" tanyanya dalam hati. Benarkah Arcid harus benar-benar merelakan semuanya. Namun, bagaimana pun juga Arcid sudah ikhlas bila itu sampai terjadi.
Afdhal cuek sama sekali ketakutan tadi tak membuatnya Kepikiran sama sekali. Toh dia sudah main game kembali dengan anak-anak Suku Yina.
Faruk dan Ariel pun sampai mengelengkan kepalanya melihat tingkah Afdhal. Hidupnya benar-benar datar tak memikirkan cinta sama sekali. Hidupnya penuh dengan main-main.
🍀🍀🍀🍀
Pagi-pagi sekali Eva, Arcid dan Afdhal sudah dibangunkan untuk melakukan tantangan selanjutnya di air terjun berwarna kuning. Eva, Arcid dan Afdhal pun sudah siap entah tantangan apa yang akan dihadapi ketiganya.
Eva masih bersama Rasmi di tempat terpisah untuk melakukan tantangan selanjutnya. Sekarang Eva yang di luar. Sedangkan Arcid dan Afdhal yang masuk gua.
__ADS_1
Eva harus berenang ke dasar danau untuk mengambil batu berwarna kuning keemasan yang dijaga oleh ikan raksasa. Eva harus menghadapi Ikan itu sampai ikan itu menyerahkan dengan sukarela baru kuning keemasan itu.
Eva pun berenang sampai dasar baru alat pernapasan sebuah pil ajaib yang bertahan satu jam saja. Eva harus bisa membuat ikan raksasa itu menyerahkan batu keemasan itu. Bila Eva gagal Eva akan menjadi makanan dari Ikan raksasa itu.
Begitu terkejutnya Eva saat melihat Ikan itu berada di dasar Danau. 100 kali lipat dari tubuh Eva. Gadis itu pun mulai memikirkan cara untuk membuat ikan tersebut untuk menyerahkan batu keemasan itu.
Ikan raksasa itu begitu ganas dengan gigi tajamnya yang siap mencabik-cabik tubuh Eva menjadi beberapa bagian. Walaupun besar Ikan itu begitu gesit dan lincah. Beberapa kali hampir merobek kulit Eva. Waktu terus saja berjalan tak ada banyak waktu untuk bermain-main. Ikan itu terus berenang-renang mengikuti Eva.
Mengincar Eva sebagai makanannya. Eva pun melihat sekitar untuk menjebak ikan raksasa itu. Eva harus cepat benar-benar cepat untuk menyelesaikan tantangan ini. Eva pun mengeluarkan kemampuannya untuk membuat Ikan raksasa itu berputar-putar sampai membuatnya pusing. Sampai beberapa menit ikan raksasa itu frustasi dan mulai mengeluarkan batu berwarna keemasan. Eva pun segera berenang ke daratan karna, waktu tinggal beberapa menit lagi. Sekuat tenaga Eva berenang sampai daratan. Eva pun beruntung Eva berhasil melakukan tantangan ini. Waktu yang tersisa lima menit lagi.
Eva pun bersyukur akhirnya Eva berhasil melakukan tantangan ini keluar dari danau dengan selamat. Rasmi pun tersenyum karna, Eva berhasil.
🍀🍀🍀🍀
Sebisa mungkin jangan sampai tersengat atau pun tergigit Kalajengking itu. Namun, Arcid dan Afdhal tak membunuh hewan-hewan itu. Terserah caranya bagaimana? Waktu keduanya hanya satu jam.
Masuk gua Arcid dan Afdhal bingung bagaimana cara mendapatkan batu keemasan itu. Karna, warna dari Kalajengking itu pun kuning keemasan. Arcid pun menggunakan pikiran untuk memilih salah yang berwana kuning keemasan.
Arcid dan Afdhal masuk secara bergiliran waktunya hanya satu jam tiap orang. Arcid yang mulai terlebih dahulu, baru Afdhal.
__ADS_1
Arcid salah memilih yang ia pilih Kalajengking bukan batu keemasan yang harus ia cari. Arcid hampir saja tersengat. Arcid pun melempar kembali Kalajengking itu ke tempatnya. Waktu terus saja maju, Arcid benar-benar dikejar waktu. Arcid pun berkonsentrasi penuh hingga ia pun berhasil mengambil batu berwarna kuning keemasan. Setelah itu Arcid keluar dengan waktu empat puluh lima menit.
Sekarang giliran Afdhal yang langsung masuk gua. Afdhal terkejut melihat ribuan Kalajengking berwarna kuning keemasan. Sebuah warna yang aneh untuk binatang kalajengking. Bintang yang hidup di hutan hujan Yiyina berbeda dengan hutang hujan lainya. Afdhal masih memperhatikan gerakan dari kalajengking kuning keemasan ini.
Afdhal harus memilih batu dengan warna yang sama dengan Kalajengking kuning keemasan ini. Hampir lima belas menit Afdhal memperhatikan pergerakan dari Kalajengking kuning keemasan ini. Setelah diperhatikan secara teliti. Hanya satu yang tak bergerak dari ribuan Kalajengking kuning keemasan ini. Afdhal pun menyakinkan hatinya kalau pilihannya ini tak salah. Afdhal pun mengambil mahluk yang tadi tak bergerak itu. Filingnya benar, yang Afdhal ambil baru kuning keemasan.
Afdhal berhasil menyelesaikan tantangan dalam waktu dua puluh menit saja. Benar-benar waktu tercepat.
Setelah semua mendapatkan batu kuning keemasan itu. Eva, Afdhal dan Arcid pun diminta bersemedi di bawah air terjun berwarna kuning sebagai warna kedua dari air terjun pelangi.
Eva berada di luar gua sedangkan Arcid dan Afdhal berada dalam gua namun, tetap dari di bawah air terjun berwarna kuning. Ketiganya bersemedi di sana. Perlahan batu itu masuk dalam tubuh mereka bertiga. Merasakan sakit yang teramat sangat saat baru kuning itu masuk dalam tubuh mereka bertiga.
Rasanya benar-benar seperti ditusuk ribuan pedang. Begitu sakit teramat sakit. Eva sampai mengeluarkan darah karna, rasa sakit yang tak tertahankan. Arcid dan Afdhal pun merasakan hal sama seperti Eva. Fisik keduanya kuat melebihi Eva. Hanya rasa sakit saja yang ia rasakan.
Sampai dalam tubuh ketiganya batu kuning keemasan itu pun masih belum bisa beradaptasi dengan baik. Ia masih memberontak membuat ketiganya merasakan kesakitan lagi sampai tiga hari tiga malam sampai batu kuning keemasan itu bisa menerima rumah barunya.
Bersambung...
Jangan lupa like dan komennya tinggalkan jejak kalian dan Mampir juga ke karya Author yang lain. Terima kasih.
__ADS_1