DEPARTEMEN KEAMANAN SUPRANATURAL

DEPARTEMEN KEAMANAN SUPRANATURAL
TIGA PULUH ENAM


__ADS_3

Setelah selesai melakukan tantangan di air terjun pelangi Arcid, Eva, Afdhal dan Ariel pun pamit ke kota Anggrek. Kembali pada kenyataan yang harus mereka hadapi.


Tantangan di air terjun pelangi menjajarkan mereka banyak pelajaran yang membuat mereka menjadi dewasa. Sekarang Arcid, Eva dan Afdhal pun sudah siap bertempur dengan kemampuan baru mereka yang mulai tumbuh dalam diri mereka.


Sampai kota Anggrek mereka di kejutkan dengan kedatangan moster berkepala sembilan. Bintang dan Zazah menghadapi satu moster itu yang mengacaukan satu kota menjadi porak-poranda tak jelas. Beberapa gedung banyak yang hancur.


Zazah dan Bintang sudah digenggam oleh kedua tangan moster kepala sembilan itu. Dengan sigap Eva, Afdhal dan Arcid pun datang membantu.


Eva pun mulai menyetrum tubuh dari moster itu sampai melepaskan Zazah dan Bintang. Arcid dan Afdhal keduanya secara bersama memotong kepala dari moster itu dan seketika tewas di tempat.


Bintang dan Zazah pun tersenyum melihat perubahan dari Eva, Arcid dan Afdhal. Sedangkan Ariel hanya melihat mereka.


Perlahan Bintang, Zazah, Eva, Arcid dan Afdhal pun membenahi kota yang sempat hancur karna, ulah moster itu. Seseorang yang sedari tadi mengikuti mereka pun tersenyum dan menghilang.


Ariel melihat sekitar, ia merasa ada seseorang yang memperhatikannya dari air terjun pelangi sampai sini. Walaupun masih belum di ketahui siapa itu? Tapi, Ariel yakin suatu saat nanti pengkhianat itu akan segera tertangkap.


Eva memperhatikan Zazah dan Bintang yang semakin akrab saat Eva tak ada. Hampir tiga bulan ia pergi. Mungkin banyak terjadi diantara mereka.


Eva teringat dengan mimpi yang terjadi saat di air terjun pelangi. Begitu indah saat bisa bersama seseorang yang ia cintai. Mimpi itu seperti nyata. Namun, saat melihat kenyataan ini rasanya begitu terasa begitu sakit.


Eva memperhatikan Zazah dan Bintang sedangkan Arcid melihat Eva. Sudah lama ia menyimpan perasaan ini untuk Eva. Tapi, kembali pada kenyataan kalau Eva menyukai laki-laki lain.


Ariel dan Afdhal tersenyum memperhatikan mereka berempat. Tanpa Arcid tau, semua sadar apa yang dirasakan oleh Arcid kepada Eva kepada Bintang.


Semenjak Arcid, Eva dan Afdhal tak ada hungungan keduanya semakin dekat. Karna, tujuh puluh persen dari ingatan keduanya telah kembali saat keduanya sadar dari koma.


Baik Zazah ataupun Bintang sudah mulai mengetahui perasaan masing-masing walau belum diungkapkan secara langsung. Kini Eva sudah tak punya harapan.


Zazah pun mendekati Eva. "Bagaimana latihannya?" tanya Zazah sambil tersenyum.

__ADS_1


Eva melihat Zazah. Rasanya tak bisa membenci wanita ini. Sudah banyak yang ia lalui hingga sampai sekarang. Eva pun tersenyum. "Lumayan," ucapnya.


"Aku belum pernah ke sana! Jadi aku tak tau?"


guman Zazah.


"Aku pun gitu, baru pertama kali ke sana? Dulu aku kira tempat itu hanya mitos," ucap Eva mulai bercerita.


Keduanya begitu akrab mengobrol sampai tertawa-tawa membuat Bintang dan Arcid tersenyum. Sekarang sikap Eva sudah berubah kepada Zazah. Bintang tak tau apa yang terjadi di sana.


Arcid tesenyum melihat Bintang. "Bagaimana Pak, sudah lebih baik," ucap Arcid.


"Yah, aku sudah mengingatkan sebagian dari masa laluku," ucap Bintang.


"Waw, berarti bapa dan Zazah sudah tua yah," goda Arcid.


"Ngomong-ngomong soal Jendral Marisa, bagaimana?"


"Dia sudah sembuh, sekarang sudah kembali ke dunia lain."


"Aku penasaran apakah dunia lain tempat tinggal Pak Bintang sama dengan di Planet Twis!"


"Tak beda jauh, dunia lain lebih banyak moster dari pada manusia. Asal kamu tau, aku berasal dari planet ini."


Arcid mengerutkan keningnya. "Maksudnya Pak?" tanyanya bingung.


"Aku pun tak mengerti tapi, aku berasal dari Planet ini dan Zazah yang berasal dari dunia lain."


"Benarkah! Waw aku baru tau?" tanyanya sambil melirik Bintang.

__ADS_1


"Mungkin karna, bunga kehidupan yang membuat aku dan Zazah bisa bertahan sampai tanpa harus ke air terjun pelangi," jawabnya lagi.


"Aku masih tak mengerti, Pak!"


"Tak hanya mitos, air terjun pelangi mempunyai khasiat tak hanya meningkatkan kekebalan tubuh tapi, membuat awet muda dan panjang umur. Lihat Komandan Ariel, Komandan Pratiwi, Komandan Ben dan banyak yang lainya yang bekerja di bawah departemen supranatural. Semuanya awet muda tak akan cepat mati. Karna, tanggung jawabnya begitu besar untuk benar-benar menjaga keamanan seluruh planet. Makanya setiap negara di planet Twis akar mengirimkan beberapa orang pasukan khusus seperti kalian setiap tahunnya dari negara yang berbeda," tutur Bintang.


"Jujur Pak, saya baru tau soal ini."


"Kalian harus banyak belajar begitu juga aku harus banyak belajar dari kalian. Dunia berubah setiap hari," ucapnya mulai melangkah pergi.


Arcid pun tersenyum mendengar ucapan Bintang. Bila diperhatikan ketiga komandan yang disebutkan Bintang tadi menang tak menua sama sekali. Sekarang ia benar-benar bersyukur karna, Tuhan memberikan anugrah ini sehingga bisa ke tempat yang menakjubkan itu.


Tapi, bila teringat tempat itu.... Arcid teringat dengan Nila. Bayangannya selalu ada dibenaknya kini. Namun, walaupun begitu hanya gadis itu yang ada di hatinya. Arcid melihat kembali Eva yang tersenyum dan tertawa di sana membuat hati Arcid selalu bergetar. Arcid selalu memegang dadanya saat melihat Eva.


Jantungnya selalu lebih cepat berdetak dari biasanya. Dari dulu hanya kepada gadis ini, hatinya cemas dan gelisah hanya Eva saja yang bisa membuatnya seperti ini.


Dari jauh, seseorang membereskan air matanya. Tak ada cinta untuknya sama sekali dari dalam manusia itu untuknya. Kini ia pun harus kembali kepada kenyataan dan menghilang seketika.


Sesuatu jatuh mengenai kepala Arcid yang segera mengambilnya ular bulu berwarna Nila. Arcid mengerutkan keningnya. Ia tau Nila berada di sini tadi. Arcid pun melihat sekitar. Tak ada seorang pun di sini. Arcid membaca mantra-mantra dalam hati untuk melihat yang tak terlihat.


Yah, dia disini tadi? Nila cantik, pintar dan kekuataan dalam dirinya pun besar. Tak alasan untuk tak bisa menerimanya. Namun, hatinya sudah untuk Eva dari beberapa tahun yang lalu. Andai bisa memilih, Arcid tak akan mencintai Eva dalam hatinya.


Lamunan buyar saat terjadi goncangan lagi. Entah dari mana? Arcid pun melompat untuk mengikuti Zazah, Eva, Bintang, Afdhal dan juga Ariel yang entah ke mana. Mencari sumber getaran itu.


Ariel melihat getaran itu, ada di pulau Ular di negara buah. Ariel tak bisa ikut campur karna, di luar tanggung jawabnya. Namun, keadaan Mamo ular besar yang ditemukan di air terjun pelangi itu membuatnya tak bisa bila hanya menunggu saja sampai habitat ular di sana mati karna, gempa itu.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya untuk meninggalkan jejak kalian dan mampir juga ke karya Author yang lain terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2