
Pagi yang cerah, Kiara menggenakan sebuah kaos polos dengan bawahan celana traning berwarna hitam, tak lupa juga topi hitam untuk melindunginya dari sinar matahari.
Kiara menuruni tangga dengan santai, matanya memandang kesana-kemari untuk mencari keberadaan dari orang yang paling di sayangnya. Kiara melangkahkan kaki ke arah taman belakang yang biasanya menjadi tempat bersantai.
Dari arah jauh Kiara melihat Kakek Arwan yang sedang memperhatikan Bibi Visa yang sedang menjelaskan sesuatu, dia tidak tau apa yang dibicarakan oleh kedua sejoli itu.
Kiara menghampiri mereka dengan sedikit bersiul, "Ada yang lagi kasmaran nih. Kakek harus garcep agar bibi nggak diambil orang lain!"
Arwan terkejut dengan kedatangan Kiara yang tiba-tiba. "Apaan sih! sok tau deh."
"Kakek kaya anak remaja yang sedang dilanda cinta." Kiara mengedipkan mata ke arah Visa.
"Bibi nggak sepadan sama tuan nona." Visa membereskan sebuah buku-buku yang ada di meja taman.
Kiara menyenggol Arwan, dia memberikan isyarat mata seolah-olah menyuruh sang kakek untuk mengejar bibi Visa. "Kakek nggak boleh cuek kek gitu."
Arwan menatap Kiara, "Nenek kamu gak akan pernah tergantikan oleh siapapun, dia selalu ada disini." Arwan menunjuk dadanya, "Termasuk dia."
"Kek! aku mau joging, kakek nggak mau ikut?" Kiara bangkit dari duduk.
Dia berjalan ke arah garasi. Kiara menjalankan mobil ke arah taman kota yang sering dijadikan tempat joging sekaligus tempat neneknya celaka dulu.
Sedangkan Xavir tersenyum menatap layar ponselnya, dia segera berganti pakaian dengan pakaian olahraga. Xavir berpamitan kepada Bundanya.
"Kamu mau kemana? nggak biasanya pagi-pagi begini dah bangun." Riri yang sedang menyiapkan sarapan itu menatap heran anak bungsunya.
"Mau joging!" Xavir mengambil roti kemudian berlari ke arah garasi mobil.
Xavier memilih salah satu mobil yang ada di garasi mobil, dia menancapkan gas ke arah taman kota tempat dimana Kiara berada.
"Tidak sia-sia aku memasang pelacak di ponselnya." Ucap Xavir sambil melirik ponsel yang memberitahukan keberadaan Kiara.
Xavir sengaja memasang pelacak di ponsel milik Kiara agar dia bisa mengetahui keberadaan Kiara, dia tidak mau kejadian yang lalu terjadi kembali.
"Aku akan menjadi pahlawanmu Kiara!"
Kiara berlari-lari kecil mengelilingi taman kota tersebut, matanya menatap ayunan yang pernah dimainkan sewaktu masih kecil. Kiara berayun di ayunan sambil mengingat kejadian 12 tahun yang lalu.
"Nek! apa kau melihatku? Aku sekarang sudah berada di tempat favorit kita." Ucapnya dengan masih berayun.
Tes!
Kiara tak kuasa menahan tangisnya, dia masih belum ikhlas dengan kepergian neneknya. Kiara bukan tidak mau menerima takdir, dia hanya belum mengiklaskan kepergian neneknya.
Sebuah tangan mengulurkan sapu tangan, "Nih!"
__ADS_1
Kiara mengangkat kepala, ditatapnya kornea mata hijau itu dengan tatapan sedih. Kiara mengambil Sapu tangan itu untuk mengelap ingusnya.
Xavir tersenyum kala melihat Kiara menumpah ingusnya ke sapu tangan yang dia berikan. "Itu untuk air mata."
"Hah! untuk air mata? maaf aku tidak sengaja." Kiara membersihkan sisa ingusnya yang menempel, lalu menyodorkan kembali sapu tangan itu kepada Xavir. "Nih!"
Tanpa rasa jijik, Xavir mengambil sapu tangan itu dan menyimpannya di kantong celana. Kemudian Xavir mengusap kepala Kiara dengan lembut.
Kiara mengajak Xavir ke tempat bermain yang dulu sering dimainkannya, dia mengajak Xavir untuk ikut bermain bersamanya. Kiara hari ini merasa senang dengan kehadiran Xavir yang menemaninya bermain.
"Apa kau senang? Tolong jangan bersedih!" Xavir menatap Kiara yang sedari tadi tersenyum.
"Makasih telah memberikan sedikit kebahagiaan untukku, Aku tak tahu harus bagaimana lagi aku membalas kebaikanmu. Sekali lagi terimakasih." Kiara menatap Xavir dengan tersenyum
"Balas Lah dengan kebahagiaanmu." Xavir membalas senyuman Kiara.
*****
Xavier dari tadi terus-menerus memuntahkan isi perutnya, dia merasa tidak enak badan hari ini. Selepas keluar dari kamar mandi, Xavier meminta sopirnya untuk membelikan Bakso, jajanan, dan rujak.
Kini semua makanan sudah terhidang di atas meja, Xavier memakan semua makanan tanpa membagikan kepada orang rumah. Xavier terlihat seperti seseorang yang sudah lama tidak makan.
Xavir yang baru pulang dari taman itu menyeritkan kening ketika melihat kakaknya yang terlihat aneh. "Dia kenapa?"
Xavir yang melihat beberapa jajanan yang terlihat enak segera mengambil sedikit dan memasukan ke dalam mulutnya.
Xavier menampar Xavir yang tengah asik memakan makanannya, dia emosi melihat makanannya di makan oleh orang lain.
"Sakit tahu! Pelit Amat sih!" Xavir mendengus kesal karena sikap kakaknya.
"KALAU SUKA BELI! JANGAN AMBIL PUNYAKU!" Xavier sudah tak dapat menahan emosi.
Xavir segera berlari ke arah ruang keluarga, dia menghampiri Bunda Riri yang sedang asik mengobrol dengan Grenta.
"Bund! ada apa dengan kakak? Kenapa dia terlihat aneh?" Xavir duduk di samping bundanya.
"Nggak tau juga, dari pagi dia emang gitu. Kenapa dia seperti orang mengidam?" Riri memikirkan sikap anaknya yang tiba-tiba berubah.
"Mungkin dia sedang sakit bund." timpal Grenta.
"Aaaaa...aaaaa.... Pergi kau tikus jelek! Jangan mendekatiku!" Suara Xavier membuat mereka yang berada di ruang keluarga berlari ke dapur.
Mereka melihat Xavier yang berada di atas meja dengan sesekali memukul tikus yang berada di atas meja. Xavier terlihat begitu takut dengan tikus.
"Bund, aku rasa kakak sudah gila." Xavir menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
"Turun!" Riri menghampiri Xavier yang masih berada di atas meja.
"BUNDA AKU TAKUT!" Xavier masih tak mau turun dari meja.
"Sejak kapan kau jadi manja begini? Turun! tikus itu akan menghampirimu jika kau tidak turun dari meja." Riri menangkap tikus dengan gerakan cepat.
"Ba-baik Bun." Xavier menuruni meja dengan badan yang bergetar.
Xavier menghampiri Grenta, tangannya menarik tangan Grenta untuk pergi ke luar rumah. Xavier mengajak Grenta ke bagasi mobil.
"Ayo ke taman!" Xavier segera menancapkan gas menuju taman yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.
"Kamu kenapa?" Grenta menatap sedih ke arah Xavier.
"Emang ada apa denganku? aku tidak kenapa-kenapa." Xavier segera memberhentikan mobilnya.
Mereka turun dari mobil dan segera menuju kursi taman. Xavier menyuruh Grenta untuk membelikannya makanan.
"Bukannya kau sudah makan? Kau tidak kenyang tadi?" Grenta merasa Xavier menjadi aneh.
"Aku sudah lapar! Cepat! Aku akan mati jika tidak makan." Ucap Xavier dengan mata yang berkaca-kaca.
Grenta segera pergi membeli makanan, dia meninggalkan Xavier di kursi taman. Grenta membeli Cilok, cimol dan beberapa jajanan lainnya. Setelah itu dia kembali ke tempat tadi.
"AWAS KAU! BERANINYA KAU MENCUKUP KUMIS KEBANGGAANKU!" Pria berumur 40 tahun berlari mengejar Xavier.
"KAU SANGAT JELEK DENGAN KUMIS ITU!" Tanpa rasa bersalah Xavier malah menghina Pria tersebut.
"Dapat kau!" Tangan Xavier di cekal oleh pria itu.
Grenta menghampiri Xavier, dia melepaskan cekalan tangan Xavier. Grenta merogoh sakunya dan memberikan pria itu uang sebanyak 500 ribu.
"Sebagai bentuk kompensasi." Ucap Grenta yang kemudian menarik Xavier menuju mobil yang mereka bawa.
Tiba-tiba...
Bruk!
Xavier tak sadarkan diri ketika sedang menuju ke mobil, dirinya ambruk secara tiba-tiba ke tanah. Grenta terkejut dengan kejadian tersebut.
"Bund! XAVIER PINGSAN!" Ucap Grenta di balik telpon.
Hai Pembaca🖐️
Jangan bosan-bosan membaca ceritaku ya.
__ADS_1
Semoga kalian yang selalu membaca novel ini selalu diberikan kesehatan.