Derita Anak Kandung

Derita Anak Kandung
Bab 37 Mengikuti Permainan


__ADS_3

Malam harinya, Pembunuhan kembali terjadi. Namun kali ini wajah pembunuh itu terpampang jelas di CCTV taman kota. Seseorang itu seperti sengaja memperlihatkan wajahnya di depan CCTV.


Arwan Memperhatikan hasil CCTV itu dengan seksama, dia melihat orang yang berada di CCTV sangat mirip sekali dengan dirinya. Bahkan seluruh postur tubuhnya mirip dengan Arwan.


"Kira-kira siapa yang melakukan hal ini?" Hard.sangat pusing jika berurusan dengan hal seperti ini.


Hard mengambil beberapa dokumen yang berisi beberapa identitas beberapa orang yang mereka curigai sebagai pelakunya.


"Kau tak perlu repot-repot Hard, aku sudah tahu siapa pelakunya. Mari kita mengikuti permainan ini." Arwan Merentangkan tangannya sambil tersenyum tipis.


Brak!


Hard melempar bantal tepat di wajah tuannya yang masih saja tersenyum. Dia begitu malas jika tuannya sudah tersenyum seperti itu.


"Sebenarnya siapa sih tuannya disini? Kenapa kau seolah-olah bukan bawahanku?" Arwan berdiri dan mengambil batal dan memukul Hard dengan bantal tersebut.


Visa yang baru saja memasuki ruangan tertawa sambil menggelengkan kepala melihat sikap dari Mafia yang dikenal kejam tersebut. Dia meletakan susu di atas meja.


Arwan sangat antusias melihat minuman yang ada di atas meja. Namun, sikap itu terhenti saat tahu minuman yang ada di meja tidak sesuai harapan.


Arwan meletakan susu yang dipegangnya, "Susu? Kau kupikir aku anak-anak? Kau ini ada-ada saja!"


Visa hanya terkekeh dan memukul bahu Arwan dengan tangannya, "Sudah Tua begini seharusnya kau merawat tulangmu. Kau ini Mafia tapi rada-rada bodoh ya, susu bukan hanya untuk anak-anak."


Visa segera keluar karena malas jika harus berdebat lagi dengan Arwan. Arwan menatap kepergian Visa dengan tatapan sinis. Bisa-bisanya dia dibilang bodoh.


"Baru kali ini aku menemukan Mafia bodoh sepertimu tuan." Ucap sambil berlari ke luar agar tidak mendapat amukan dari si Mafia Tuwir.


"Hard! sini kau!" Arwan sangat merutuki bawahannya yang sangat menyebalkan itu.


Visa duduk di ruang tamu sambil melihat beberapa album yang berisi foto-foto dirinya dan kedua sahabatnya saat mereka masih mudah. Mereka bertiga selalu mengabadikan setiap momen yang mereka lewatkan.


"Kenapa kau tidak mengakui perasaanmu kepadanya? jangan memendamnya sendiri." Hard mendudukkan bokongnya di samping Visa.

__ADS_1


"Apaan sih, udah tua gini juga. Kau sendiri kenapa belum menikah? kau mau melajang sampai tua?" Akhirnya Visa mendapat senjata untuk membalas Hard.


Hard terdiam, dia menggaruk kepalanya, "A- aku belum siap. Sampai sekarang tidak ada yang mampu mencuri hatiku."


Hard sekarang sudah berumur 40 tahun, namun dia belum menikah sama sekali. Sikap dingin, dan datar membuat dirinya susah di dekati oleh para wanita. Dia hanya akan berbicara banyak jika berhadapan dengan Visa, Arwan dan Sofia.


"Aku ada urusan penting." Ucapnya kemudian langsung pergi ke ruangannya.


Visa menatap kepergian Hard dengan tatapan sendu, "Dia tak mungkin menerima perasaanku, dia hanya akan mencintai Sofia."


Perkataan itu didengar oleh Arwan, namun dia tidak menghampiri Visa. Arwan mengamati Wanita tua yang masih sangat cantik tersebut. Rambut hitam, mata hitam, dan kulit yang terawat dengan baik membuat dirinya awet muda. Yah, Wanita itu sekarang berumur 45 tahun.


******


Masyarakat semakin resah karena setiap hari mereka menemukan mayat di tempat yang sama. Cara pembunuhannya juga sama dengan yang sebelumnya.


Saat ini banyak masyarakat yang melakukan Demo di depan Kantor Polisi agar segera menangani kasus pembunuhan berantai tersebut. Mereka takut jika korban akan terus bertambah kalau tidak cepat diatasi.


"Kami yakin jika kalian sudah tahu pelakunya. Jangan berpura-pura tidak tahu." Teriak salah satu orang.


"Ya!"


"Kami butuh keadilan!"


Para masyarakat sudah mengira jika yang melakukan hal tersebut adalah Arwan Arkana. Mereka sudah melihat beberapa rekaman CCTV.


"Kalian harus bertindak!"


"Kota sedang tidak aman."


Para polisi yang ada di dalam kantor tidak tahu harus melakukan apa, mereka sangat takut jika berhadapan dengan Arwan Arkana. Mereka belum mengetahui identitas asli dari Arwan, mereka hanya tahu Arwan Arkana adalah seorang Miliarder.


Terpaksa para polisi pergi ke Mansion milik Arwan untuk menangkap beliau untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi. Walau sedikit takut, mereka tetap mendatangai Mansion Keluarga Arkana.

__ADS_1


Arwan sudah mengetahui jika Mansion Nya akan di kepung oleh para pihak polisi. Dia menggunakan Jaz agar terlihat berwibawa.


"Anda tersangka telah melakukan kasus kriminal. Anda akan dilakukan pemeriksaan." Ucap Mereka sambil membuka pintu mobil.


Arwan sangat santai disaat dirinya sedang menjadi tersangka, dia hanya ingin mengikuti setiap permainan yang telah disusun oleh musuh.


"Maaf tuan, kami tidak bermaksud menuduhmu." Ucap salah satu polisi.


Arwan hanya tersenyum, kemudian dia mengeluarkan earphone dan memasangnya di kedua telinga. "Anda terlalu sungkan tuan."


Sementara itu, Hard sedang membuat artikel dan membandingkan waktu yang terdapat pada dua rekaman CCTV. Dia juga menambahkan beberapa argumen untuk memperjelas artikelnya.


Sedangkan para anak buah Corla diminta untuk menyebarkan isi artikel di berbagai media Sosial. Hal ini akan menjadi sebuah kekuatan tambahan untuk mereka. Musuh memulai dengan membuat kesalahpahaman, jadi mereka harus mengatasinya dengan menghilangkan kesalahpahaman masyarakat, sekaligus memperoleh kekuatan.


Para polisi yang membawa Arwan Arkana merasa bimbang antara menghentikan kegiatan mereka atau tetap melanjutkannya sambil berusaha mencari pelaku sebenarnya.


"Kalau aku tidak terbukti bersalah, maka kalian akan ku tuntut." Ucapan dingin itu mampu membuat nyali para polisi seketika menciut.


Para polisi dengan berat hati tidak melanjutkan kegiatan mereka untuk menginterogasi. Mereka takut jika akan di tuntut balik jika Arwan terbukti tidak bersalah, lagian bukti yang tersebar di Sosial media sudah cukup untuk membuktikan Arwan Arkana tidak bersalah.


Arwan Arkana mendatangi tokoh dan membakar toko tersebut. Terlihat kobaran api sangat besar dari toko yang lumayan besar tersebut. Banyak karyawan yang berusaha menyelamatkan diri agar selamat dari api.


"Kalian akan tahu sikapku sebenarnya." Ucapnya tersenyum miring.


Arwan segera pergi meninggalkan toko yang masih saja dikelilingi oleh api. Dia sangat senang karena berhasil memberikan peringatan kecil kepada seseorang yang sedang bermain-main dengan dirinya.


"Aku harap kalian tidak menyesal dengan semua yang kalian lakukan. Selamat menikmati permainan kecil ini."


Arwan Arkana menemui Hard dan para anggota Corla yang telah bekerja sama dalam melakukan permainan tersebut. Dia memberikan imbalan kepada anggotanya.


"Terima kasih tuan, kau sangat baik." Ucap Mereka tulus.


"Kalian terlalu sungkan kepadaku." Jawabnya sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.

__ADS_1


Hard merangkul Arwan dengan tangan Kirinya, "Aku tak akan sungkan padamu, tuan."


Hanya Hard satu-satunya bawahan yang tidak takut dengan Arwan yang terkenal kejam. Bahkan hanya dia yang mampu membuat Arwan Arkana bertingkah konyol.


__ADS_2