
Siang ini Xavir duduk di kantin sekolah sambil merenungi kisahnya dengan Kiara. Xavir tak ingin melaksanakan rencana itu, namun dia juga ingin bundanya sembuh.
"Kenapa kau menghilang? Apa kau tidak menyayangiku lagi?" Xavir memandangi foto Kiara yang berada di galerinya.
"Mungkin jika aku jujur tentang masalah bunda, dia pasti akan mau membantuku." Xavir mengisi ponsel ke dalam saku.
Anira duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Xavir, dia memandangi wajah tampan dan mata hijau yang indah tersebut.
"Kenapa memandangiku seperti itu?" Xavir sangat tidak suka bila di dekati oleh perempuan.
"Kau mencari Kiara?" Anira tersenyum tipis, "Apa kau juga tidak mengetahui bahwa Kiara sudah menikah?"
Lagi-lagi pertanyaan itu hanya di balas gelengan kepala.
Xavir menatap mata hitam itu untuk mencari kebohongan, "Dia kekasihku! dia adalah milikku, dan hanya akan menikah denganku."
Anira tertawa terbahak-bahak, matanya sampai mengeluarkan air mata. Sangat lucu bukan? Xavir masih menganggap Kiara kekasihnya.
"Kau masih menganggapnya kekasih? kau pria bodoh yang pernah kutemui."
Anira memberikan Vidio saat ijab kabul pernikahan Kiara dan Ferdo. Anira ternyata diam-diam menyimpan Vidio itu untuk diperlihatkan kepada Xavir.
"Sialan! dia telah mengkhianati ku! Aku akan membalas mu Kiara!" Xavir memukul meja dengan kuat.
Brak!
Karena tak tahan, Xavir membanting ponsel milik Anira yang masih berada di genggamannya. Anira hanya bisa menganga karena ponsel kesayangannya di buang.
Xavir pergi meninggalkan Anira tanpa sepatah kata pun. Dia saat ini menuju SMA Cendana untuk menemui Xavier.
"Kau juga harus tahu kak." Ucap Xavir sambil menyetir mobil dengan kecepatan rata-rata.
Xavir turun dari mobil secara terburu-buru, dia tidak sabar ingin mengatakan hal buruk itu kepada kembarannya.
"Kak!" Panggil Xavir saat melihat Xavier yang bercanda bersama gengnya.
"Hosh...Hosh..." Xavir sampai ngos-ngosan karena saking cepatnya dia melangkah.
Xavier menatap sang adik heran, dia tidak tahu apa yang membuat sang adik menemuinya. "Tumben kesini? ada yang mau diomongin?"
Xavir mengambil juz jeruk yang ada di atas meja, kemudian meneguk juz jeruk itu sampai kandas.
Xavir duduk, dia menatap Xavier dengan serius. "Kakak tahu alasan dari Ferdo dan Kiara yang menghilang secara bersamaan? sebenarnya Kia...,"
Fidas langsung memotong pembicaraan, "Ganti rugi nggak? pembicaraan tidak boleh dilanjutkan kalau Lo nggak tanggung jawab!"
Xavier menatap tajam ke arah Fidas yang selalu saja mengacaukan suasana. Dia mengeluarkan Black card dan memberikannya kepada Fidas.
__ADS_1
Xavir menatap Fidas dengan malas, dan beralih menatap sang kakak. "Kiara dan Ferdo telah menikah."
Deg!
Hati Xavier seakan remuk dan ditusuk dengan panah setelah mendengar perkataan Xavir tentang Kiara. Dia bertanya-tanya apakah dia masih bisa memiliki Kiara atau tidak. Xavier berusaha menyembunyikan rasa kecewanya.
Apakah benar dia sudah menikah? Apa aku masih punya kesempatan untuk memilikinya? Tapi aku juga seneng karena dia tidak bisa berhubungan dengan Xavir yang egois. Batin Xavier.
"Ferdo itu sangat tampan dan baik, Kiara wajar memilih dia untuk di jadikan suami. Kalian berdua sangat tidak cocok menjadi suaminya goblok!" Ucap Fidas tanpa merasa bersalah.
Buk!
"Emang teman biadab!" Xavier yang kesal memukul kepala Fidas.
Fidas tersenyum, "Sejak kapan kita berteman?" Kemudian Fidas membisikan sesuatu di telinga Xavier, "Kau adalah manusia jelek."
Fidas segera berlari menjauhi Xavier yang sudah menahan emosi sejak tadi. Dia tak ingin menjadi makanan harimau lapar tersebut.
"Fidas! Sini kau!" Xavier berlari mengejar Fidas yang sudah hilang entah kemana.
Xavir hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sang kakak dan Fidas yang tidak mencontohkan sikap anak geng motor.
"Kenapa kau tidak terlihat sedih?" Tanya Xavir saat Xavier telah pergi menjauh.
Dia benar-benar merasa kecewa dengan respon sang kakak yang terlihat biasa karena informasi penting yang di berikan. Xavir kembali ke sekolah dengan wajah lesu.
"Bos lagi kenapa?" Tanya salah satu anggota Allstars kepada Fidas.
Fidas mengambil gitar dan segera memainkan gitar sambil menyanyikan lagu Rhoma Irama.
Lagu Pujangga
Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga
Hai, begitulah kata para pujangga
Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga
Hai, begitulah kata para pujangga
Aduhai, begitulah kata para pujangga
Taman suram tanpa bunga
Buk!
Xavier melemparkan asbak rokok ke arah Fidas agar pemuda itu berhenti bernyanyi.
__ADS_1
Fidas tersenyum dan mengejek Xavier, " Nggak kena,
Wle."
Xavier semakin pusing melihat Fidas yang sedari tadi terus menggodanya karena orang yang di sukainya telah menikah.
Xavier melangkahkan kaki menuju garasi basecamp untuk pergi ke Mansion miliknya. Dia ingin bertemu Grenta untuk meredamkan emosi.
"Mau kemana?" Tanya Fidas.
"Mau ke kuburan!" jawabnya.
Xavier kini telah berada di mansion miliknya untuk menemui wanita yang selama ini hanya di jadikan sebagai pemuas nafsu belaka.
Grenta memandangi Xavier sebentar, dia kemudian mengambil sebuah kotak yang berisi sebuah benda.
"Jika kau menginginkan aku malam ini, maka terimalah hadiah dariku."
Xavier menerima Hadian itu, kemudian membukanya secara perlahan. Alangkah terkejutnya dia saat mengetahui isi dari kotak itu yang ternyata adalah sapu tangan berwarna merah.
Brak!
"Kenapa kau melakukan ini?" Ucap Xavier sambil membanting-banting hadiah itu dan menginjak sapu tangan dengan kakinya.
Xavier memegangi kepalanya yang sudah sakit, dia meringkuk sambil menangis. Xavier terlihat sangat ketakutan dengan badan yang terus-menerus bergetar dari tadi.
"Aku tidak mau! jangan paksa aku! AKU BUKAN BONEKA!" Teriak Xavier sambil bangkit dan membanting barang-barang yang ada di ruangan itu.
Grenta tidak tahu harus berbuat apa, dia tidak tahu kalau hal sepele itu membuat Xavier seperti orang yang sudah dikendalikan.
Xavier mengambil pisau dapur untuk menghancurkan sapu tangan berwarna merah tersebut. Xavier memiliki trauma tersendiri karena sapi tangan tersebut.
Flash Back ON
Disebuah kamar yang cukup luas dan mewah, terdapat seorang wanita dewasa dan anak yang berusia 10 tahun tidak menggenakan pakaian. Anak laki-laki tersebut terus saja menangis karena perbuatan wanita yang berada di sampingnya.
"AKU BUKAN BONEKAMU!" teriak anak kecil itu dengan kencang.
"Masih untung aku masih berbaik kepadamu! Kau ini baru begitu saja sudah menangis." Ucap wanita itu dengan kasar.
Wanita itu Manarik lengan anak laki-laki itu menuju kamar mandi dan memandikan anak itu sampai bersih.
"Pakai ini." Wanita itu menyodorkan sapu tangan berwarna merah kepada anak Laki-laki tersebut. "Pake!" Bentaknya.
Anak laki-laki itu terpaksa mengambil sapu tangan itu dan melap wajahnya menggunakan sapu tangan. Tangan anak itu gemetar saat melihat wanita tadi berjalan ke arahnya.
Flashback Off
__ADS_1
Xavier kini tertidur sambil memegangi pisau yang dipakainya tadi. Grenta sangat menyesal karena memberikan sapu tangan tersebut.