
Di Mansion mewah, Riri sedang membaca sebuah koran yang berisi berita-berita terbaru seputar dunia. Wanita cantik tersebut tampak sangat serius membacanya.
Ting!
Notifikasi hp Riri berbunyi, dia segera menyalahkan hp dan membuka apk hijau. Matanya melotot karena pesan yang dikirimkan oleh mata-matanya.
[Xavir Koma!]
Pesan singkat itu nyatanya mampu membuat jantung Riri berdetak, air matanya jatuh dari sudut mata. Riri segera menelpon seseorang untuk mempersiapkan keberangkatannya.
"Bunda mau kemana?" Tanya Xavier saat melihat Riri yang sedang membawa koper.
"Bunda mau nyusulin adik kamu." Ucap Riri sambil berjalan ke garasi mobil.
"Aku ikut Bund!" Ucap Xavier sambil berlari ke arah kamar untuk berganti pakaian.
Xavier tak membawa baju sama sekali, dia akan membeli baju di Amerika serikat. Saat akan menjalankan mobil mereka terkejut.
"Huah!" Grenta menguap.
Xavir dan Riri melihat ke belakang, mereka menyeritkan kening saat melihat Grenta yang sudah berada di kursi belakang.
"Sejak kapan kau disini?" Xavier tak suka jika Grenta ikut dengan mereka.
"Sejak tadi! Saat bunda masih siap-siap aku sudah berada disini, bahkan aku masih sempat tertidur. Bunda emang tidak sadar?" Tanya Grenta sambil membuka Snack.
Riri menatap Grenta, "Sadar apa?"
Grenta tersenyum, "Bunda pengang kunci mobil nggak tadi?" Tanya Grenta yang di balas anggukan kepala. "Kunci mobil bunda tadi ada di aku." lanjutnya.
Pantas! Kenapa juga dia harus ikut sih? Kan aku tidak bisa leluasa mendekati Kiara. Batin Xavier.
"Bunda lupa!" Ucap Riri sambil memukul kepala dengan tangannya.
Saat berada di dalam mobil, Grenta selalu bersenandung dan sesekali bernyanyi lagu anak-anak yang di dengarnya di YouTube.
"Bisa diam nggak sih! Cerewet amat!" Xavier sangat tidak suka dengan tingkah Grenta yang terlihat kanak-kanak.
Bukannya berhenti bernyanyi, Grenta malah menambah volume suaranya. Riri yang melihat Xavier marah hanya bisa terkekeh.
"Bunda! suruh diam dong anak mantu kesayangan bunda ini!" Xavier menutup telinganya agar tidak mendengar suara Grenta.
"Udah ngakuin? katanya nggak suka?" Tanya bunda Riri sambil memandang jalanan.
Wajah Xavier memerah bak kepiting rebus, "Nggak kok! sapa bilang?" Xavier menyembunyikan wajahnya dengan topi.
__ADS_1
Xavier terlihat sangat malu saat dirinya baru saja mengakui Grenta. Akan tetapi dia terus saja menyangkal bahwa dirinya hanya mencintai Kiara seorang.
Aku hanya menyukai Kiara! aku tidak boleh jatuh cinta kepada gadis ini! Batin Xavier.
Grenta merasa kesal dengan sikap Xavier yang memperlihatkan bahwa dia tidak menyukai Grenta sama sekali, matanya seketika panas.
Sebanyak apapun pelangi yang kau beri, dia tidak akan menyukaimu. Dia bukan buta warna, hanya saja dia mencari senja, bukan pelangi.
Kata-kata galau yang dilihat oleh Grenta saat ini terjadi padanya. Dia yang selalu memberikan pelangi tak bisa membuat rasa suka Xavier dengan senja menghilang.
Grenta hanya bisa menghela nafas, saat ingin menghapus air mata tiba-tiba saja matanya menutup dan tak mengeluarkan suara.
Xavier menatap sendu ke arah Grenta yang sudah tertidur di jok belakang. Hal tersebut tak lepas dari pandangan Riri.
"Kamu nggak nemenin dia di belakang? kasian dia Vier." Riri menghentikan mobil.
Xavier turun dari mobil, dia duduk di jok belakang dengan Grenta. Xavier mengangkat kepala Grenta ke atas pahanya.
Xavier memperhatikan bibir merah cerah dari gadis yang berada di pangkuannya itu, bibirnya sesekali membasahi bibirnya yang kering.
"Nikahin aja bang! biar nggak ada fitnah." Riri tersenyum melihat ekspresi anaknya dari kaca spion.
"Aku masih kecil loh bund!" Xavier mengerutkan dahinya.
*******
"Kapan bangun nya? kamu nggak kangen aku? Aku ingin sekali berpacaran, dan menikah denganmu kemudian hidup bahagia. Xavir tolong bangun!" Kiara sudah 2 hari menjaga Xavir yang baru saja mengalami koma tersebut.
"Jangan bersedih begini, dia pasti akan sedih melihatmu begini Ara." Zayn mengusap rambut Kiara.
Kiara hanya menatap Zayn sekilas, kemudian kembali menatap Xavir. Kiara merasa dunianya hancur saat mengetahui Xavir mengalami koma.
Krek!
Pintu ruangan terbuka, Riri memasuki ruangan tersebut dengan wajah yang memerah karena emosi. Riri menghempaskan tangan Kiara yang sedang memegangi tangan Xavir.
"Bu-bunda! Apa kabar?" Kiara masih belum ambil hati dengan perlakuan kasar Riri.
"Jauh-jauh dari Xavir! apa kau tahu? dia begini hanya karena menolong mu." Riri menatap Kiara dengan tatapan tak suka.
"Maksud bunda apa?" Kiara masih tak mengerti dengan sikap Riri yang berubah drastis.
"PERGI!" Ucap Riri dengan nada tinggi.
Xavier Mendekati Kiara, dia menuntun Kiara yang masih shock keluar ruangan. Kiara hanya mematuhi perintah Riri tanpa membantah sedikitpun.
__ADS_1
Xavier membawa Kiara ke taman Rumah Sakit, dia selalu menghibur Kiara dengan tingkahnya yang melencing dari kata waras.
"Hiks...Hiks... Aku harus gimana? Bunda benar, aku memang penyebab Xavir masuk Rumah Sakit." Kiara mengelap hidungnya di kaos putih polos yang dikenakan oleh Xavier.
"Kamu nih gemes banget sih." Xavier mencubit hidung mancung Kiara.
"Sakit!" Kiara merasa kesakitan di hidungnya.
Pemandangan tersebut tak jauh dari penglihatan Grenta, dia melihat mereka sambil tersenyum kecut. Grenta merasa sangat sakit saat melihat pemandangan romantis orang yang dicintainya.
"Apakah tidak adakah harapan untuk pelangi? kenapa kau malah memilih senja?" Grenta tak kuasa menahan air matanya.
*****
Setelah 20 hari mengalami koma, Xavir kini telah terbangun. Dia telah melewati koma yang cukup lama. Tepat pada pukul 12 malam Xavir terbangun, dia mencari keberadaan Kiara.
"Dia dimana sih!" Ucapnya dalam hati.
Xavier memasuki ruangan, ditatapnya wajah lelah sang bunda tersayang. Xavier melihat bundanya dengan tatapan sendu.
"Kau harus bangun Brother!" Xavier mendaratkan kecupan di dahi Xavir.
"Wanitamu kini menunggumu." Ucapnya kemudian menghampiri Riri dan menggendong wanita tersebut.
Krek!
Pintu ruangan terbuka kembali, Xavir sangat senang saat melihat wanita yang dari tadi ditunggunya memasuki ruangan. Xavir masih menutup matanya, dia ingin mendengar apa yang akan disampaikan oleh Kiara.
"Kenapa kau tidur terlalu lama? Kau tidak memikirkan ku yang terus menerus khawatir? Aku akan marah padamu jika kau tidak akan bangun lagi!" Ucap Kiara sambil mendaratkan ciuman di bibir pucat pria yang sedang terbaring di ranjang.
Wajah Xavir memanas, tubuhnya berdesir dan jantungnya berdegup kencang saat Kiara mendaratkan ciuman. Bahkan wajahnya kini memerah bak kepiting rebus.
"Disaat koma pun kau bisa salting? kau memang lucu." Ucap Kiara sambil menarik hidung Xavir dengan pelan.
Xavir menggerakkan jari tangannya, perlahan matanya terbuka dan memandangi Kiara yang sedang terbengong.
"Aku ada dimana?" Tanya Xavir saat dirinya selesai mengumpulkan nyawa.
Kiara terbengong, beberapa kali dia menampar wajahnya sendiri. "Kau sudah bangun? Kenapa kau bangun?"
Xavir ingin sekali tertawa melihat tingkah lucu Kiara, "Aku bermimpi di cium bidadari, dan setelah itu aku terbangun."
Wajah Kiara memerah, "Aku merindukanmu."
Kiara memeluk Xavir yang saat ini sudah bangun dan duduk di atas ranjang. Tangannya seakan tak mau melepas pria yang berada di depannya.
__ADS_1
"Siapa yang mengizinkanmu masuk!" Suara dingin tersebut mampu membuat Kiara terkejut.