Derita Anak Kandung

Derita Anak Kandung
Bab 46 Serangan


__ADS_3

Xavir melaksanakan rencana dari bundanya dengan baik. Dia setiap hari memberikan Kiara minuman yang telah ditaburi oleh racun jangka panjang tersebut. Tak jarang juga dia mendapati Kiara yang bolak-balik ke kamar mandi untuk sekedar menumpahkan isi perutnya.


Sementara itu di mansion milik Arwan telah dikepung oleh ribuan pengawal dari ke tiga Mafia terbesar. Dirinya tak menyangka akan mendapat serangan mendadak seperti itu. Dia terlalu meremehkan lawan sehingga tidak mempunyai persiapan untuk melawan mereka.


Bima berdiri di depan Riri dan Agren. Bima tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah panik dari sahabatnya tersebut. Akhirnya mereka bertiga bisa menjatuhkan Arwan Arkana sang Mafia Kejam.


"Kaget? Kau tidak menyangka aku akan jadi musuhmu? sejak awal aku sudah muak berpura-pura baik padamu. Kini aku tak perlu lagi berpura-pura Arwan Arkana!" Bima mengambil beberapa foto dan melemparkannya kepada Arwan. "Kau juga akan kehilangannya." Lanjutnya dibarengi oleh tawa yang terdengar menyeramkan.


Namun tawa itu hanya seperti suara tikus di Indra pendengaran Arwan. "Aku tak menyangka kau begitu jahat, aku terlalu bodoh mempercayaimu." Tampak beberapa tetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Arwan terlihat sangat kecewa dengan sahabatnya tersebut.


"Kau tidak ingat dengan aku? Aku adalah wanita lemah yang hampir saja kau bunuh, aku adalah kekasih dari anakmu. Apa kau sudah lupa?" Kini Riri maju satu langkah ke depan agar dirinya bisa melihat dengan jelas orang yang pernah membuat dirinya menderita. "Kau pasti mengira kalau aku sudah tiada kan? Hahaha... hari ini aku akan menjadi malaikat yang akan mencabut nyawamu." Suara cempreng tersebut memenuhi Mansion mewah milik Arwan.


Mereka bertiga merasa sangat bahagia karena memiliki kesempatan untuk membunuh seseorang yang sudah lama mereka incar. Mereka sangat yakin telah memenangkan pertarungan ini.


Syur!


Katana yang mengkilap menembus dari seorang Mafia yang dikenal kejam. Yah, Bima menusukan Katana miliknya tepat di perut pria paruh baya yang ada di depannya.


"Semoga dengan begini kalian tidak lagi mengganggu cucuku." Ucapnya dengan keadaan yang lemah.


Syur!


Bima kembali menusuk Katana tepat di jantung Arwan. Matanya tampak bersinar saat Katana miliknya mampu membuat pria di depan melemah. Tak hanya sampai disitu, dia juga menancapkan beberapa pisau kecil di lengan Arwan.

__ADS_1


"AKH!" Suara jeritan dari Arwan bagaikan lantunan nyanyian di telinga Bima. Tak sedikitpun rasa kasihan menghampiri dirinya.


Sedangkan Agren dan Riri terlihat sangat santai ketika Arwan dibunuh oleh Bima. mereka berdua tidak perlu mengotori tangan dengan darah dari Arwan Arkana.


Seakan tidak puas, Bima kembali mengupas kulit pria itu dengan pisau lipat yang ada ditangannya. Dia seperti sedang mengupas kulit Ayam. Rasanya sangat menyenangkan melihat musuh mati di tangan kita sendir. Itulah yang dirasakan oleh Bima.


Dengan sisa tenaga dan nafas Arwan berkata, "Jika aku mati, maka kalian akan mati." Ucapnya dengan senyuman yang terlihat menyeramkan.


Riri dan Agren juga merasa ada yang janggal dengan sikap Arwan yang terkesan pasrah dengan mereka. Pasti ada yang sesuatu yang telah direncanakan oleh pria paruh baya tersebut.


BUMP!


Baru saja ingin berlari, Bom yang telah di persiapkan oleh Arwan meledak. Riri Agren dan Bima mati karena ledakan Bom yang sangat besar tersebut.


Bom itu mampu membuat Mansion yang mewah tersebut hancur tak bersisa. Bahkan tubuh dari orang-orang yang berada di Mansion hangus terbakar.


"Aku tak dapat menemukan dalangnya, kasus ini sangat sulit dipecahkan." Ucap seorang polisi setelah melihat keadaan Mansion.


Sementara itu Kiara berada di Apartemen milik pria berjubah hitam. Setelah Agren, Riri, dan Bima berangkat ke Mansion Arwan, Pria berjubah hitam langsung membawa Kiara.


"Aku tak menyangka kau sejahat itu." Ucapnya sambil memperhatikan wajah lelah Kiara.


Dia ingin sekali memeluk dan memberikan kehangatan kepada perempuan yang telah mencuri hatinya tersebut. Namun, keadaan yang tidak memungkinkan seperti ini membuatnya harus ekstra sabar.

__ADS_1


Pria tersebut mewanti-wanti Kiara agar tidak menonton TV. Dia begitu takut jika perempuan itu akan syok saat mengetahui kakek yang disayanginya harus merenggang nyawa di Mansion Mewah.


Pria berjubah hitam tersebut mengelus kepala Kiara dengan lembut, "Semoga saja kau bisa menerima cobaan ini dengan lapang dada."


Sedangkan Kiara sendiri emang sudah mempunyai firasat buruk tentang kakeknya, di tambah dengan sikap Pria berjubah hitam yang selalu melarangnya bermain HP dan menonton TV membuatnya semakin penasaran.


Setelah Pria berjubah itu tertidur, Kiara mengambil ponselnya dan mencari berita di Apk CN. Mata Kiara membulat saat dia membaca berita di CN yang mengatakan sebuah Mansion dari kakeknya hancur karena ledakan dari Bom yang cukup berbahaya. Dia juga membaca bahwa ada banyak korban dari ledakan bom tersebut.


"Semoga kau baik-baik saja kek, aku tidak sanggup jika hal tersebut beneran terjadi." Kiara sangat takut jika kakeknya korban dari ratusan orang yang meninggal di Mansion.


Kiara bangkit dari kasur, kemudian dia berjalan keluar dari Apartemen sambil mengendap-ngendap agar tidak ketahuan. Kiara segera mencari taxi dan berangkat menuju Mansion Kakeknya.


"Semoga saja apa yang aku takutkan tidak terjadi." Kiara dari tadi tak bisa melepaskan pikiran buruk tentang kakeknya.


Hard dan Visa berada di dalam mobil sambil mengikuti taxi yang dinaiki oleh Kiara. ,mereka takut jika Kiara akan sangat terpukul jika dia tahu tentang kakeknya telah meninggal dunia.


Visa dari tadi terus menangis, "Apa begini rasanya ditinggal oleh orang yang kita sayang? kenapa dia harus meninggalkan aku sendiri?" Batinya yang dibarengi oleh air mata yang terus keluar.


Visa tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang sangat hancur tersebut. Bahkan dia sempat merutuki kebodohannya karena tidak menghentikan apa yang dilakukan oleh Arwan.


Hard memperhatikan Visa sekilas, "Jangan menyalahkan dirimu atas sesuatu yang tidak kau lakukan. Tuan pasti memiliki alasan tersendiri mengapa dia melakukan hal tersebut. Aku tahu kalau kau mencintainya, tapi kau juga harus menerima keputusannya." Sebenarnya Hard juga sangat terpukul karena tidak bisa menghentikan tuannya melakukan rencana yang sangat beresiko tersebut, tapi dia sama sekali tidak melarang. Hard sadar jika dirinya tak bisa terlalu ikut campur dengan apa yang tuannya lakukan.


Hard merogoh kantongnya, kemudian dia mengeluarkan kertas yang sudah dilipat. "Nih!" Ucapnya memberikan kertas tersebut kepada Visa.

__ADS_1


Visa memperhatikan kertas tersebut. Belum juga membuka surat Visa menangis tersedu-sedu. Tangannya bergetar saat membaca setiap kata-kata dari surat tersebut.


"Kenapa kau melakukan hal ini kepadaku?"


__ADS_2