
Sudah beberapa lama bulan ini Kiara sudah mengalami sedikit kebaikan. Depresi yang di deritanya sudah mulai sembuh.
Ferdo yang selama ini menjaga dan merawat Kiara sampai sembuh. Tak ada satupun keluhan yang terbit dari bibir Ferdo ketika merawat Kiara.
Ferdo menarik tangan Kiara menuju mobil, dia membawa wanita tersebut ke sebuah taman yang sangat indah.
Kiara terlihat senang karena baru kali ini dia melihat taman bunga yang begitu indah di pandangan. Matanya berbinar ketika kupu-kupu cantik tengah menghisap sari bunga.
"Kenapa?" Tanya Kiara tanpa mengalihkan pandangan dari bunga.
"Aku mau kasih ini." Ferdo memberikan amplop putih kepada Kiara.
Kiara menatap amplop itu sekilas, kemudian memandangi wajah Ferdo dengan sangat lama. "Untuk?"
"Buka!" Perintahnya.
Kiara hanya mengangguk kemudian membuka amplop putih tersebut. Matanya berbinar saat melihat isi dari amplop.
"Tiket? aku sangat senang mendapat tiket ke Swiss ini. Tapi dalam rangka apa kau membelikan tiket ini?" Kiara bukan gadis polos yang tidak tahu maksud dari suaminya, tapi dia ingin mendengar penjelasan langsung darinya.
Ferdo tampak malu-malu ketika ingin menjawab pertanyaan Kiara. " Kita kan udah lama nggak honeymoon, jadi aku ingin mengajakmu honeymoon di Swiss. Apa kau suka?"
Kiara hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum dan memperlihatkan deretan giginya yang terlihat putih. Wanita itu tampak sangat manis di mata Ferdo.
"Hore!" Teriak Ferdo.
"Kenapa teriaknya belakangan?" Pasalnya Ferdo berteriak 20 menit setelah Kiara memberi jawaban.
"Suka aja." Ucapnya seraya tersenyum
Ferdo membayangkan dirinya yang akan melakukan hal itu bersama Kiara. Ferdo juga sudah beberapa tahun ini tidak melakukan olahraga tersebut.
"Jangan senyum-senyum kayak gitu! nanti kesambet, mau?" Ucap Kiara sambil berjalan ke arah bunga yang dari tadi membuatnya terpesona.
Ferdo tak menghiraukan Kiara, dia masih asik dengan pikirannya yang membayangkan adegan romantis dengan sang istri tercinta. Pasti hal tersebut akan menjadi momen yang akan selalu diingatnya.
"Maaf karena aku nggak bisa jaga dia." Ucap Kiara lirih.
__ADS_1
Ferdo menangkup kedua pipi Kiara, "Kamu nggak salah, dia meninggal karena memang sudah takdir." Ucapnya agar Kiara tidak bersedih.
Anak yang dikandung Kiara keguguran karena Kiara yang depresi setelah Kakeknya meninggal. Akibatnya bayi yang dikandungnya sangat rentan dan nyaris keguguran.
Kiara sangat menyesal karena menyebabkan anak yang dikandungnya meninggal. Jika saja waktu bisa diputar, dia akan memutar waktunya ketika dirinya masih mengandung. Namun hal tersebut sangat mustahil dan tak akan mungkin bisa terjadi. Kita sebagai mahluk tuhan hanya bisa menerima takdirnya.
Ferdo kembali menatap mata coklat itu dengan intens, "Kita akan memulainya dari awal, kamu nggak boleh merasa bersalah begitu. Maukah kau membangun istana yang sempat roboh ini?"
Wanita yang ditatapnya hanya menganggukkan kepala sebagai tanda setuju. Ferdo kembali memberikan ciuman lembut di kepala Kiara.
***
Pagi ini Kiara terlihat sibuk mengatur pakaian yang akan mereka bawa ke Swiss. Dia sangat antusias dengan rencana honeymoon ke Swiss.
Sedangkan Ferdo hanya melihat Kiara sambil duduk di sofa, dia tidak ada niat sedikitpun untuk membantu istrinya yang sedang sibuk tersebut.
"Mau dibantu?" Tanya Ferdo sambil menatap Kiara.
Kiara mengalihkan pandangannya sejenak, kemudian kembali fokus dengan barang-barang yang akan mereka bawa. "Nggak perlu! ini sudah hampir selesai."
"Ada yang lucu?" Tanya Kiara dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Ada, Aku nggak bisa nahan ketawa liat singa betina lagi marah." Ucapnya sambil melangkah ke arah Kiara.
Tampak wajah Kiara memerah seperti sedang menahan amarah. " Kok disamain sama binatang sih? jadi selama ini kamu cuma anggap aku binatang, iya? kamu jahat!"
Bukanya membujuk Ferdo malah tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Kiara. Dia memeluk tubuh Kiara sambil berbisik. "Kalau singa raja rimba, dan kalau kamu ratu di hatiku. Itu adalah persamaan kamu dengan singa."
Kiara yang tadinya kesal jadi tersenyum manis. "Kenapa nggak bilang dari tadi sih, kan marahnya bisa dipending dulu."
Ferdo membawa dua koper, sedangkan Kiara membawa satu koper. Ferdo tadinya melarang Kiara membawa banyak baju, tapi dia tidak mau. Karena tidak mau membuat mood istrinya hancur Ferdo pun mengikuti mau dari istrinya.
Mereka berdua kini berada di dalam pesawat. Ferdo sedari tadi memperhatikan istrinya tanpa mengeluarkan petah kata pun.
"Kenapa langit itu tinggi?" Tiba-tiba Kiara memberikan pernyataan yang cukup konyol.
"Yah kalau rendah itu bumi." Jawabnya santai.
__ADS_1
Kiara yang mendengar jawaban Ferdo langsung memasang wajah masam. Ferdo terlihat serba salah sekarang.
"Jadi serba salah kan." Gumamnya.
Kiara memandangi Ferdo dengan tatapan tanya. "Kamu bilang apa tadi?"
Ferdo yang ditanyai hanya bisa menelan ludah dengan kasar, dia takut kalau sampai salah bicara lagi. "Aku hanya bilang langitnya tinggi, iya langitnya tinggi."
Kiara tersenyum tipis. " Kamu ini aneh."
Ferdo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia ingin sekali menggigit wanita disampingnya ini karena telah membuatnya kesal. Walau begitu dia tidak memperlihatkan kekesalannya kepada Kiara.
"Aku mau ke toilet." Ucap Kiara sambil bangkit dari tempat duduk.
Kiara melangkahkan kaki menuju toilet. Saat di depan toilet dia tidak sengaja berpapasan dengan Xavir yang baru saja keluar dari toilet.
Mereka berdua saling bertatapan cukup lama hingga Kiara sendiri yang memutuskan kontak mata.
Xavir memandangi Kiara dari atas sampai bawah. "Rupanya kamu cukup baik sekarang." Ucapnya seraya memegangi tangan Kiara. "Aku tidak bermaksud meninggalkanmu sayang."
Kiara serasa ingin muntah ketika mendengar kata sayang dari seseorang yang merupakan masa lalunya itu. Kiara melangkahkan kaki menuju toilet dan tidak menanggapi perkataan Xavir.
Xavir hanya tersenyum, kemudian dia melihat ke arah depan. Xavir tidak sengaja menangkap sosok pria tampan yang telah mengambil Kiara. "Rupanya dia disini juga."
Ferdo berusaha tenang walau dalam hati dia ingin sekali menyembunyikan Kiara dari pria tersebut. Dia tidak ingin kehilangan Kiara untuk kedua kalinya.
"Kenapa?" Tanya Kiara yang baru saja tiba di tempat duduk.
Kiara duduk sambil memperhatikan wajah suaminya yang terlihat sedang gelisah. "Kamu kenapa sih? ada masalah? Jangan pernah menyembunyikan sesuatu lagi dariku."
"Tidak! a-aku hanya ingin ke toilet, yah ke toilet." Jawabnya sedikit gugup.
Kiara yang tidak tahu isi pikiran suaminya hanya menganggap hal tersebut wajar. Dia tidak berpikir jauh sampai kesitu.
Sementara itu, Ferdo terlihat emosi di dalam toilet. Dia sedang memikirkan bagaimana caranya agar Kiara tidak kembali dengan Xavir.
"Aku harus gimana? Aku tidak mau kehilangannya lagi." ucapnya lirih sambil memandangi dirinya di cermin
__ADS_1