Derita Anak Kandung

Derita Anak Kandung
Ending


__ADS_3

Tiga tahun telah berlalu, Kiara dan Ferdo sudah dikaruniai anak perempuan yang sangat cantik dan juga menawan. Anak tersebut kini berusia sekitar 2 tahun. Mereka berdua sangat menyayangi anak tersebut dengan sepenuh hati.


"Ada apa sayang?" Kiara bertanya kepada Rara karena anaknya itu terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Yaya liat kakak cantik dan juga olang tuanya di depan bunda, Meleka sepeltinya tamu bunda." Jawab Rara dengan sedikit cadel. Ya, anak itu belum lancar menyebut huruf R.


Kiara memberikan isyarat kepada Ferdo agar pergi bersama dirinya untuk mengecek siapa tamu yang dimaksud oleh anak perempuannya itu. Dengan hati yang sedikit penasaran Kiara melangkahkan kakinya dengan cepat.


Karena jalannya Rara yang sangat kecil, mereka berdua tertinggal jauh dari Kiara. Ferdo juga tidak terlalu penasaran dengan tamu yang dimaksud oleh Kiara. Dia berjalan menuju pintu utama sambil berbincang-bincang dengan Rara.


"Rara suka sama anak kecil yang kemarin main sama Rara?" Pertanyaan yang sangat tidak masuk akal itu ditanyakan oleh Ferdo kepada Rara.


Anak itu menggeleng, kemudian berkata. " Kata bunda Yaya nggak boleh suka sama anak laki-laki ayah! bunda juga bilang kalo mau suka sama anak laki-laki halus berumur 17 tahun dulu."


Ferdo tertawa melihat Rara yang sudah kesal karena ulah dirinya. Dia memang memiliki kebiasaan baru yaitu mengganggu Putri kesayangannya itu.


" Ayah ko ketawa? nggak ada yang lucu juga." Ucap Rara keheranan.


Ferdo terkejut saat dirinya dan Rara sampai ke ruang tengah, dia melihat seseorang yang dulu pernah menjadi sahabatnya tersebut. Dengan hati yang sangat senang Ferdo menghampiri Xavier dan langsung memeluk pemuda tersebut dengan sangat erat.


"Aku sangat merindukanmu Vier, a-aku tidak tahu harus berkata apa lagi." Ucap Ferdo dengan sedikit terbata-bata karena menahan tangis.


Grenta dan Kiara pun juga ikut terharu melihat suami mereka yang sedang berpelukan setelah beberapa tahun lamanya tidak bertemu. Dari Kiara dan Ferdo menikah, mereka berdua sudah tidak melihat Xavier.


Sementara itu, Rara diajak oleh Nara ke taman agar mereka berdua tidak menggangu momen bahagia dari ayah mereka. Nara sendiri yang sudah berinisiatif untuk mengajak Rara.


Beberapa saat kemudian Ferdo terlihat celingak-celinguk seperti sedang mencari sesuatu. Kemudian dia menatap sang istri dengan tatapan tanya.


"Nggak usah khawatir, dia lagi main sama Nara." Jawab Kiara yang sudah mengetahui maksud dari suaminya.


Ferdo menghembuskan nafas lega karena mendengar penuturan dari sang istri. Dia begitu takut membiarkan Rara bermain sendirian di tempat yang sangat luas ini.

__ADS_1


Sementara itu Rara merasa sedikit takut dengan Nara. Nara yang mengetahui hal itu hanya tersenyum sambil berkata, " Aku orang baik ko, aku nggak bakal jahatin atau nyulik kamu."


Rara memandangi Nara sekali lagi. " Apa kakak bisa dipelcaya?"


Nara hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian dia mengajak Rara bermain petak umpet di halaman belakang Mansion.


***


Kiara dan Grenta meninggalkan Ferdo dan Xavier di ruang tengah, mereka ingin agar kedua orang itu bisa mengobrol dengan nyaman.


Baru saja ingin berdiri terdengar suara klakson dari gerbang. Terlihat mobil mewah memasuki mansion dan langsung memakirkan mobil tersebut di halaman mansion.


Kiara dan Ferdo bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya yang ada di dalam mobil mewah tersebut. Sedangkan Xavier dan Grenta dari tadi hanya menampilkan senyuman.


"Ayo kita samperin! " Ajak Kiara.


Kiara sudah lebih dulu mendekati ke arah mobil tersebut, dia benar-benar penasaran sosok dibalik mobil itu.


"Kakek!" Teriak Kiara dalam hati.


Apakah kakek yang selama ini membuatnya depresi itu masih hidup? apakah ini hanya sekedar mimpi belaka? Kira-kira begitulah pertanyaan yang muncul di benak Kiara.


Kiara berlari ke arah pria paruh baya tersebut, kemudian dia memeluk tubuh yang terlihat renta itu dengan sangat erat seakan-akan orang tersebut akan menghilang.


"Ini beneran kakek? Kakek masih hidup?" Pertanyaan tersebut mewakili perasaan Kiara yang masih tidak menyangka dengan kehadiran sang kakek.


"Maafkan kakek sayang, kakek tidak bermaksud membuatmu seperti ini." Jawab Arwan Arkana dengan suara lirih.


Sebenarnya yang meninggal di Mansion keluarga Arkana tersebut adalah seseorang yang fisiknya sama dengan Arwan Arkana. Arwan sudah menyusun rencana bagaimana caranya agar dia bisa menghabisi orang-orang yang akan membahayakan cucu kesayangannya.


Pria yang berpura-pura sebagai Arwan Arkana tersebut memakai topeng elastis sehingga sangat sulit dikenali oleh orang-orang. Dia adalah orang yang pernah ditolong oleh Arwan Arkana.

__ADS_1


"Kakek harus dihukum." Ucapnya dengan suara serak.


Dari tadi Kiara tidak bisa menahan tangisnya, rasa kecewa dan senang yang bercampur membuatnya terus meneteskan air mata.


Kiara memasuki mansion tanpa mengajak sang kakek untuk masuk di dalamnya. Sedangkan Ferdo sedikit tidak suka dengan sikap Kiara yang menurutnya sangat berlebihan.


" Hal tersebut sangat wajar." Jelas Arwan sambil berjalan menuju pintu utama mansion.


Mereka semua duduk di ruang tengah sambil mengobrol. Sedangkan Kiara dari tadi hanya diam sambil menatap sang kakek yang sedang berbicara dengan Ferdo.


Tidak lama kemudian Rara dan Nara memasuki mansion, mereka terlihat sangat lelah setelah bermain petak umpet.


"Ini siapa bunda?" Tanya Rara yang baru saja memasuki Mansion.


"Kenalin, ini kakek buyut kamu Rara." Jawab Kiara memperkenalkan Arwan Arkana.


Arwan Arkana menceritakan kejadian yang menimpa Anira, Anita, dan Dimas. Mereka bertiga mengalami kecelakaan dua tahun lalu. Sebenarnya Ferdo sudah mengetahui hal tersebut, tapi dia takut kalau hal tersebut akan membaut Kiara depresi kembali, alhasil dia memilih untuk menyembunyikan hal tersebut dari Kiara.


"Aku tidak terlalu memikirkan hal itu, aku rasa kalian juga tahu alasannya kan? aku tak perlu lagi menjelaskannya." Sepertinya Kiara masih sedikit benci dengan kedua orang tuanya.


Perlakuan buruk kedua orang tuanya nyatanya mampu bertahan di ingatanya sampai dengan sekarang. Walaupun begitu Kiara sudah memaafkan sebaik kesalahan mereka.


Kejadian demi kejadian yang dialami oleh Kiara menjadi guru terbaik dan telah mendidiknya untuk menjadi sosok yang lebih baik. Dari sini dia belajar bahwa ada saatnya kebahagiaan itu menghampiri manusia.


Ingat! Jangan menyerah hanya karena kalian selalu merasakan kesengsaraan, kesedihan, dan kesusahan, anggaplah mereka sebagai guru yang memberi pelajaran kepada kita.


Teruslah berbuat baik agar kebaikan tersebut datang kepada diri kita. Apa yang kita tanam hari ini yang akan kita panen dimasa depan.


Kebahagiaan Kiara bertambah setelah kedatangan Visa dan Arwan Arkana di Mansion miliknya. Dia menjalani hari dengan hati yang senang.


"Semoga Nenek merestui kebahagiaan ini." Ucapnya sambil menatap langit-langit mansion.

__ADS_1


__ADS_2