Derita Anak Kandung

Derita Anak Kandung
Bab 30 Memulai Kehidupan Baru


__ADS_3

Pagi ini Kiara dan Ferdo bersiap-siap pergi dari Indonesia menuju tempat kelahiran Ferdo. Ferdo lahir di Cina, tapi dia tidak berdarah Cina sedikitpun. Wajah Ferdo mirip seperti orang-orang Prancis,


"Kenapa juga harus pindah dari sini sih kek? aku nggak rela ninggalin teman-teman aku." Gerutu Kiara sambil membereskan pakaiannya.


"Kamu ingat insiden di Amerika serikat? Kakek harus menyelesaikan permasalahan tersebut. Kiara! ini demi keselamatanmu." Ucap Arwan.


Kiara memanyunkan bibir, "Oke! nurut aja deh."


Ferdo dari tadi hanya memandangi Kiara yang terus menggerutu karena mereka akan pindah ke Cina. Matanya dari tadi tak berkedip, bibirnya tersenyum tipis.


Kiara memperlihatkan sikap tidak sukanya kepada Pria tampan di depan, "Ngapain lihat-lihat! sampai kapanpun aku tak akan menganggap kau sebagai suamiku."


"Kiara! jangan kurang ajar sama suamimu, dia adalah imanmu sekarang. Ferdo anak yang baik, dia bisa jadi suami dan ayah yang baik buat anak-anak kalian nanti." Arwan tidak suka dengan sikap Kiara yang tidak ada sopan santunnya kepada Ferdo.


Sejujurnya Kiara ingin berbuat baik kepada Ferdo, tapi mulutnya tak mau berhenti berkata kasar jika sudah berhadapan dengan pria yang sedikit dingin itu. Bahkan tak jarang dia memaki-maki pria tersebut.


Melihat Kiara yang kesusahan membawa koper, Ferdo berinisiatif untuk membawa koper tersebut. "Sini aku bawain!"


Kiara melihat Ferdo dengan kesal, "Aku bisa sendiri!"


Jadi cowok nggak gentle banget sih! orang kesusahan bukannya di tolongin malah ditinggal begitu saja! Nggak peka anjir. **Ucap Kiara dalam hati


Ferdo seakan tahu isi hati Kiara, segera Ferdo mengangkat koper itu tanpa meminta persetujuan dari Kiara.


"Aku nggak maksa kau buat bawa koper!" Teriak Kiara saat Ferdo sedikit menjauh darinya.


Ferdo benar-benar merasa bahwa perempuan adalah mahluk yang susah di atur, keras kepala, dan juga tidak mau salah. Ferdo benar-benar harus belajar ke pakar hukum buat ngertiin tingkah laku perempuan.


Aneh! dia yang bilang nggak usah, tapi dia juga yang marah karena aku tidak peka. Sebenarnya siapa yang salah sih? kenapa seakan-akan aku selalu salah? Batin Ferdo.


****


Pagi ini Ferdo dan Kiara telah siap dengan seragam barunya, mereka bersekolah di SMA yang cukup Favorit di Cina. Mereka tidak berangkat berdua, melainkan berangkat sendiri-sendiri.


Kiara sampe duluan di SMA, dia melihat banyak siswa yang tersenyum kepadanya dan ada juga yang melirik sinis. Kiara tak memperdulikan lirikan itu, kakinya melangkah tanpa memperdulikan mereka.


"Tampannya pria itu!" Teriak beberapa siswa perempuan.


Kiara menoleh kebelakang, dia memutar bola matanya malas." Dasar Caper!"

__ADS_1


"Matanya itu indah banget!"


"Tatapannya bikin jantung seakan mau copot!"


"Aku ada untukmu pangeran!"


Begitulah Kira-kira teriakan dari para siswa yang melihat kedatangan Ferdo, Kiara memang mengakui bahwa Ferdo sangat tampan, tapi sikap para siswa di sini sangat berlebihan.


Udah tahu tampan, malah makin caper lagi! Mana udah nikah! Brengsek! batin Kiara.


"Kenapa aku selalu saja salah sih? Aku kan nggak ngapa-ngapain." Gumam Ferdo.


Ferdo tak menghiraukan teriakan dari para siswa untuknya, dia terus berjalan melewati Kiara yang sedang berbincang dengan salah satu siswa di sana.


"Kiara! nama kamu?" Kiara menjabat tangan seorang gadis cina yang terlihat ramah dari yang lain.


"Ciao Min! kamu berasal dari mana?" tanya Ciao kepada Kiara.


Kiara tersenyum, "Aku dari Indonesia,"


Tring!


Tring!


Tring!


"Kenapa lagi sih!" Kesalnya.


Kiara sangat cepat untuk menyesuaikan diri di lingkungan barunya, dia sangat mudah buat bergaul dengan teman-teman sekelasnya. Setelah belajar 2 mata pelajaran, Kiara dan Ciao pergi ke kanti untuk mengisi perut.


"Mulai caper lagi." Kiara sangat malas melihat Ferdo yang selalu menjadi pusat perhatian.


"Kenapa?" Ciao heran dengan Kiara yang terlihat seperti berbicara sendiri.


Kiara menyeritkan kening, bibirnya tersenyum tipis. "Nggak, aku hanya latihan speak aja."


Kiara dan Ciao duduk di salah satu meja yang masih terlihat kosong, dan memesan makanan pada pelayan.


"Pesan Di Sum, Jiaozi, dan Cap Cay. Kiara mau pesan apa?" Ciao beralih menatap Kiara yang masih kebingungan.

__ADS_1


"Samain aja." Kiara bingung mau makan apa, dia sebenarnya tidak terlalu suka dengan makanan yang tertera di buku menu makanan. Namun dia sangat lapar dan terpaksa memesan yang sama dengan temannya.


Kiara mengamati Ciao yang terus-menerus menatap Ferdo yang tak jauh dari mereka, dia tidak suka kalau pria yang tidak disukainya itu menjadi pusat semua orang.


"Kenapa diliatin terus sih?" Tanya Kiara.


"Habisnya tampan sih! beruntung banget yang akan jadi istrinya." Ciao membayangkan jika dirinya menjadi istri dari pemuda yang baru dilihatnya.


"Uhuk...uhuk..." Kiara terbatuk karena perkataan Ciao barusan.


Sebuah tangan menyodorkan jus jeruk kepada Kiara yang sedang terbatuk, Kiara meminum minuman itu tanpa melihat orang yang memberikan minuman tersebut. Saat akan melihat orangnya, Kiara terkejut karena Ferdo yang memberikan minuman tersebut.


Ferdo kembali ke tempat duduknya, dia tidak perduli dengan tatapan heran dan tanya yang di lemparkan kepadanya.


"Kenal?" Tanya Ciao saat Kiara sudah tidak terbatuk lagi.


"Nggak! aku nggak kenal sama dia." Elak Kiara.


Kiara menggerutu dalam hati karena berbagai tatapan tajam dan marah yang dilemparkan kepadanya karena ulah Ferdo.


"Awas Kau!" Gumam Kiara.


Ciao menceritakan kisahnya yang terdengar sangat pilu, dia juga menceritakan kisah cintanya yang nyaris gagal karena ulah adik dan sahabatnya. Kiara menyayangkan gadis secantik Ciao harus mengalami kegagalan dalam hubungan asmara.


Tepat pada pukul 4 sore, Kiara pulang ke apartemen yang kini ditinggali oleh Ferdo dan dirinya. Ferdo memang sudah pulang lebih dulu karena tidak begitu banyak tugas, sedangkan dirinya pulang lama karena harus menyelesaikan beberapa tugas.


"Ganti bajumu dahulu, habis itu makan bersamaku!" Perintah Ferdo sambil menyelesaikan masakannya.


Kiara segera berganti pakaian, kemudian pergi ke meja makan untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Mata Kiara berbinar saat melihat masakan Indonesia terhidang di meja yang tidak terlalu besar ini.


"Kamu yang memasak? sejak kapan kamu bisa masak?" Ucap Kiara seraya menyicip makanan tersebut.


Tumben baik, biasanya selalu bikin emosi. Aku harus hati-hati, dia pasti telah menuangkan racun di makanan ini. batin Kiara.


"Gue nggak sejahat itu." Ucapnya dingin.


"Kau bisa baca kata hati? Kau seorang cenayang?" Kiara tercengang karena Ferdo yang seakan-akan tahu kata hatinya.


"Nggak, jangan ribut." Ferdo kembali melanjutkan makannya.

__ADS_1


"Seneng ya jadi pusat perhatian! Seneng jadi cowok populer di sekolah? Nggak ingat ada istri." Omel Kiara Kesal


"Seneng! banyak perempuan yang bisa dijadikan pacar." Jawab Ferdo dengan memperlihatkan wajah dinginya.


__ADS_2