
Malam itu oksigen yang ada di dalam kamar terasa menipis. Keringat dingin bercucuran di dahinya karena menahan diri dari setiap sentuhan lembut yang dilakukan oleh Kiara.
Kiara semakin agresif, tangannya selalu menyentuh daerah sensitifnya Ferdo. Ferdo dengan sekuat tenaga menahan nafsu yang ada dalam dirinya. Beberapa kali dia mengucapkan istighfar agar tidak menyentuh Kiara dengan kondisi mabuk ini.
"Ya Tuhan, berikanlah kekuatan kepada hamba." Gumamnya sambil mengelus-elus dada yang sedang berdetak kencang.
Kiara mendekatkan bibirnya dengan bibir Ferdo, dia mengecup singkat seraya menatap mata hijau tersebut. "Jangan so suci deh! Kau suka kan? Kau sangat baik sehingga aku tidak tahu bagaimana cara menjauhi mu."
Kiara membuka kancing bajunya hingga memperlihatkan belahan dadanya. "Anggap saja ini hadiah dariku sebelum pergi meninggalkanmu."
Pada Akhirnya Ferdo tak bisa membendung hasratnya lagi. Mereka berdua melakukan hubungan yang sebagaimana dilakukan oleh para pengantin baru.
********
Pagi harinya Kiara terbangun dengan pakaian Piyama. Kiara merasa sangat segar pagi ini, badannya harum seperti mawar dan rambutnya halus seperti baru saja keramas.
Bruk!
Kiara terjatuh saat akan melangkahkan kaki ke arah kamar mandi. Dia merasakan sakit di bagian bawah. Kiara yang tadinya berpikir positif tiba-tiba saja pikiran negatif tentang Ferdo muncul.
"Ferdo! Apa yang kau lakukan!" Kiara berteriak sampai-sampai urat lehernya seakan mau putus.
Ferdo keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang di lilit di pinggang. Dia menatap Kiara seolah-olah bertanya lmengapa dia duduk di lantai.
Ferdo mendekat ke arah Kiara dengan wajahnya yang polos dan berjongkok di depan Kiara. "Kenapa kau duduk disini? kau tidak dingin."
Kiara sangat kesal karena Ferdo sama sekali tidak merasa bersalah, bahkan dia bertingkah polos seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Apa yang kau lakukan kepadaku?" Suara dingin itu mampu membuat nyali Ferdo langsung menciut.
Beberapa kali Ferdo menahan Saliva untuk mengurangi kegugupannya. Dia seperti kucing yang tengah tertangkap basah oleh tuannya.
"Aku bertanya! Kenapa diam?" Kiara kini meninggikan suaranya.
"A-aku tidak bermaksud, kau yang memulainya." Ucapnya sambil beberapa kali meremas kukunya.
__ADS_1
"Aku tidak masalah kau melakukannya, anggap itu adalah hadiah terakhir dariku. Jika aku pergi nanti, kau harus mencari penggantiku." Ucapnya dengan suara yang lembut.
"Terima kasih, aku akan selalu mengingat hadiah itu. jika suatu saat nanti kau pergi, aku tak akan mencari perempuan lain, aku akan selalu menunggumu. Jika kau rapuh, aku akan menjadi tempat sandaranmu." Ucapnya sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Mau sampai kapan kau memakai handuk itu?" Ucapnya sambil menutup kedua matanya dengan telapak tangan.
Ferdo melihat arah pandangan Kiara tadi, matanya melotot saat tahu apa yang membuat Kiara menutup mata.
****!
Ferdo sangat malu karena Kiara yang tidak sengaja melihat masa depannya dengan sangat dekat. Dia ingin sekali menyembunyikan dirinya.
"I-iya." Ucapnya sambil bangkit dari kasur.
Ferdo pergi ke kamar tidurnya untuk berganti pakaian. Setelah memakai pakaian, Ferdo pergi ke dapur dan memasak beberapa makanan untuk Kiara.
Makanan yang dimasak oleh Ferdo sangat wangi sehingga memenuhi ruangan. Kiara yang tadinya bermain hp langsung saja merasa sangat lapar.
"Aku pengen makan." Ucapnya sambil membayangkan rasa sakit jika dirinya berjalan.
Clek!
"Enak!" Kiara memakan nasi goreng itu sambil tersenyum.
Kiara terlihat seperti anak-anak disaat bersikap seperti ini. Tak lagi terlihat wajah kesal dari gadis itu, yang ada hanya raut wajah bahagia. Ferdo diam-diam memotret Kiara yang sedang tersenyum.
Ting!
Tong!
Terdengar suara bel berbunyi, Ferdo bangkit dan mengecek siapa yang bertamu sepagi ini. Ferdo sangat malas saat tahu orang yang di luar adalah orang yang semalam hampir saja melecehkan istrinya.
"Siapa?" Tanya Kiara ketika Ferdo masuk ke kamarnya.
Ferdo tersenyum tipis, "Kekasihmu ada di luar."
__ADS_1
Kiara menarik selimut, dan berbaring sambil memeluk guling. "Bilang aku lagi sakit, jangan izinkan dia melihatku."
Jawaban Kiara mampu membuat mood Ferdo yang tadinya hancur langsung saja membaik. Dia memang sangat ingin mengusir Xavir tadi, namun dia takut jika Kiara akan marah kepadanya.
"Mau apalagi kau kesini? Kiara sakit, dia tidak mau bertemu dengan siapapun." Ferdo segera menutup pintu apartemen.
"BUKA! KAU TIDAK BERHAK MELARANG KU BERTEMU DENGANNYA!" Xavir berteriak sambil menggedor-gedor pintu dengan kuat.
Ferdo menelpon petugas keamanan di Apartemen untuk mengusir Xavir yang sedari tadi tidak mau pulang. Kalau tidak mengingat Kiara, dia pasti sudah menghajar Xavir.
"Jangan membuat keributan disini!" Ucap Kedua petugas keamanan sambil menyeret Xavir menjauhi Apartemen tersebut.
"Kalian tidak boleh mengusirku, aku pacar dari pemilik Apartemen ini." Ucapnya sambil beberapa kali melawan.
"Yang menelpon kami suaminya. Dasar perusak hubungan! saking tidak laku anda mau merusak hubungan orang lain?" Para petugas itu memandang Xavir dengan tatapan merendahkan.
"Kalian akan menyesal telah memperlakukan aku seperti ini." Xavir berusaha memberontak.
"Pergi kau dari sini tuan, jangan mengganggu orang lain." Ucap para petugas sambil mendorong Xavir.
Xavir meninggalkan Apartemen itu dengan perasaan marah dan emosi. Dia tidak suka diperlakukan seperti penjahat oleh orang-orang yang berada jauh di bawahnya.
"Aku akan membalas kalian lebih dari yang kalian lakukan!" Ucapnya mengepal tangan kuat-kuat.
Sementara itu, Ferdo sangat panik karena Kiara yang mengalami Demam tinggi. Ferdo ingin menelpon dokter, namun tidak diizinkan oleh Kiara.
"Aku mau kau merawat ku, bukan dokter, ataupun orang lain." Ucap Kiara seraya meneteskan air matanya.
"Baiklah!"
Kiara tertidur karena Ferdo yang mengelus kepalanya dengan sangat lembut. Tak lupa juga Ferdo mengompres dahi Kiara untuk menghilangkan demam.
"Andai kita bisa seperti ini selamanya... aku pasti akan menjadi lelaki paling bahagia karena memilikimu. Maafkan aku Kiara." Ucapnya sambil mengecup pipi Kiara dengan lembut.
Ferdo membaringkan tubuhnya disamping Kiara, dia menatap wajah damai itu dengan sangat dalam. Dia membayangkan seandainya Kiara dan dia saling mencintai. Senyuman itu menghilang saat dirinya mengingat perilaku Xavir saat berada di Club malam.
__ADS_1
"Aku ingin membangun istana kecil untuk kita berdua, aku juga ingin istana itu dipenuhi oleh suara-suara lembut dari seorang putri dan pangeran. Namun, Raksasa jahat menghancurkan impian itu." Ferdo menarik selimut untuk menutupi dirinya dan Kiara.
Ferdo tertidur dengan posisi memeluk Kiara dari belakang. Suasana di kamar tersebut terlihat sangat romantis. Tak terdengar lagi suara teriakan dari Kiara yang sedang emosi. Hari ini Ferdo merasa sangat bahagia karena sangat dekat sekali dengan orang yang dicintainya itu.