
Xavier di bawa ke rumah sakit karena dirinya yang tiba-tiba tak sadarkan diri. Grenta mengendarai mobil dengan kecepatan diatas rata-rata. Dia begitu khawatir dengan keadaan Xavier.
"Kumohon! bertahanlah demi anak kita." Grenta tak henti-hentinya menangis.
Beberapa menit kemudian, mobil mereka tiba di rumah sakit. Grenta memapah Xavier dengan susah payah ke dalam rumah sakit. Para perawat yang melihat Grenta yang susah payah segera membantunya.
Terlihat dua orang menghampiri Grenta yang sedang termenung. Grenta tak menyadari kedatangan mereka.
"Kenapa Kakak selalu sakit sih! dia kan jago." Ucap Xavir sambil memandangi pintu ruangan.
"Eh Bunda! kapan nyampenya?" Grenta segera memeluk tubuh ramping Riri.
"Dari tadi." Riri membalas pelukan itu.
Dokter keluar dari ruangan sambil tersenyum, dilihatnya mereka terlihat sangat khawatir. Dokter tersebut hanya menggelengkan kepalanya.
Grenta langsung bangkit dari duduknya, "Bagaimana keadaannya dok? dia kenapa bisa pingsan tiba-tiba begitu?"
Dokter tersenyum, "Saudara Xavier tidak mempunyai masalah atau penyakit. Apakah akhir-akhir ini dia seperti orang aneh?"
Riri, Grenta dan Xavir menganggukkan kepala, kemudian dokter melanjutkan pembicaraannya. "Dia mengalami kehamilan simpatik, dimana yang akan mengalami ngidam bukan lagi perempuan melainkan laki-laki. Namun hal tersebut tidak terjadi pada semua orang, melainkan beberapa orang saja."
Mereka yang tadinya cemas kini berubah menjadi bahagia karena tahu apa sebenarnya terjadi. Hal yang terjadi pada Xavier adalah bentuk hukuman kecil.
"Lapar! Lapar! Lapar!" Teriak Xavier dengan keras.
Di dalam ruangan terlihat Xavier yang dari tadi mengamuk dan melempari barang-barang yang ada di ruangan. Grenta menghampiri Xavier sambil tersenyum.
"Kamu mau makan apa?" Grenta duduk di atas kasur rumah sakit.
"Aku pengen nasi Padang, cimol, bakso, mie ayam, dan jangan lupa minumannya harus Boba yang seger." Xavier membayangkan rasa dari makanan yang disebutkan.
"Kamu jahat!" Grenta berlari ke luar ruangan dengan air mata yang terus mengalir dari sudut matanya.
Xavir terkejut dengan perubahan sikap Grenta yang terjadi secara tiba-tiba, sedangkan Riri hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Apa ini miskah? Mereka seperti punya kepribadian lain. Semoga ketika Kiara hamil tidak seperti itu."
Riri menatap dingin ke arah Xavir, "Jangan macam-macam! Jangan tiru kakakmu."
Xavir terkekeh, "Gak gitu juga kali bund."
***
Pulang sekolah Xavir langsung pergi ke SMA Cendana untuk menjemput Kiara sekaligus menanyakan apakah Kiara mau berlibur bersama dia ke Amerika.
__ADS_1
"Halo Princess, Bolehkah pengawal ini mengantarkan Princess ke kerajaan seberang? Apakah tidak apa pengawal yang rendah ini mengantarmu?" Ucap Xavir sambil memperagakan sikap dari pengawal kerajaan.
"Apaan sih! Gaje banget!" Kiara melewati Xavir yang sedang membukakan pintu mobilnya.
"Ko malah pergi sih!" Xavir menendang mobilnya.
Xavir langsung memasuki mobil, dia tak ingin mengejar Kiara yang sudah hilang entah kemana.
"Ayo cepat!" Kiara memerintah Xavir.
Xavir langsung melihat ke belakang, "Sejak kapan kau disitu? bukannya tadi kau pergi?"
"Siapa yang pergi sih? orang dari tadi aku ada di sini." Ucap Kiara kesel.
Xavir merasa jika Kiara mempunyai saudara kembar. Xavir sangat yakin jika dia tadi berbicara dengan Kiara.
"Kenapa kau bisa masuk mobil tanpa ku ketahui?" Xavir kembali melontarkan pertanyaan.
"Tadi kau berbicara sendiri, kau sudah seperti orang gila tadi."
Xavir tidak lagi bertanya kepada Kiara, dia yakin jika dirinya juga bermasalah.
Pasti ini karena kakak dan Grenta! aku jadi ketularan sikap aneh mereka, batin Xavir.
"Untuk tahun baru kalian diliburkan 1 minggu. Kalian akan masuk kembali pada tanggal 1 Januari." Ucap kepsek dengan mic.
"Hore!"
"Bisa ajak cek-in semingguan!" Ucap Fidas yang langsung diberi tatapan maut oleh kepsek.
"Fidas mesum!" Ucap Bianca.
Mereka semua sangat senang karena mereka sudah sangat jenuh ke sekolah terus. Ada yang berlibur mengelilingi Indonesia, dan ada juga yang berlibur ke luar negri.
Xavir, Kiara, dan Zayn berada di sebuah cafe yang saat ini menjadi tempat Favorit anak muda. Mereka membicarakan tentang rencana libur tahun baru.
"Gimana kita ke Korea aja! disana kita akan bertemu dengan Jaemin, Kooki dan juga Suga. Mereka adalah KPop favorit aku." Kiara membayangkan wajah tampan dari ketiga KPop tersebut.
"Atau kita ke Amerika saja! disana kita akan menjelajahi tempat-tempat yang indah. Kau pasti akan suka." Ucap Xavir.
"Bali! kenapa nggak kembali saja?" Kini Zayn mengusulkan pendapat.
Mereka masih saja kekeh dengan usulan sendiri, mereka bertiga merasa keputusan mereka yang paling tepat.
"Korea!"
__ADS_1
"Amerika!"
"Bali!"
Kiara mendengus kesal, "Ke Amerika saja!"
Mereka Akhirnya memutuskan akan berlibur ke Amerika sesuai dengan usulan dari Xavir. Mereka bertiga pergi berlibur bersama.
Saat ini Xavir dan Zayn berada di dalam WC bandara, mereka akan membuang hajat sebelum pergi naik pesawat.
"Aaaaaa...aaaa...," Zayn berteriak saat melihat Kiara tepat di depan wajahnya, Kiara tersenyum dan langsung menghilang di balik dinding.
"Apakah tadi hanya halusinasi? benarkah dia itu?"
Zayn yang sudah memakai celana itu segera berlari keluar WC.
"Kenapa Lo?" Xavir mengambil beberapa Snack dan memasukannya ke dalam mulut.
Zayn tak menjawab pertanyaan Xavir, matanya kini menatap Kiara dengan takut. Perlahan Zayn membuka suaranya.
"Kau ke WC Pria tadi?" Ucapnya yang langsung duduk di samping Kiara.
"Aku dari tadi nemenin Xavir, emang kenapa?" Kiara bertanya balik.
"Nggak, cuma nanya aja."
Xavir dan Kiara duduk di bangku depan, sedangkan Zayn duduk dibelakang mereka. Kiara terlihat mengucek dan menguap sejak tadi, matanya perlahan tertutup. Xavir menjadikan bahunya sebagai tempat sandaran Kiara, dia mengelus rambut Kiara dan sesekali mengecup keningnya.
Andai waktu dapat dihentikan, aku akan menghentikan setiap waktuku bersamamu. Aku bahagia bersamamu Kiara, Aku mencintaimu. batin Xavir.
Beberapa menit kemudian, badan Kiara bergetar, air matanya jatuh, mulutnya komat-kamit tanpa suara. Xavir memeluk tubuh Kiara, dielusnya rambut hitam itu dengan lembut, tak lupa juga sesekali mencium bibir Kiara.
"Kau kenapa? Apa yang kau rasakan selama ini?" Xavir memeluk erat tubuh Kiara.
"Nek! Aku bukan anak nakal! AKU BUKAN PEMBUNUH!" Suara teriakan Kiara membuat semua penumpang melihatnya.
Mengigau sewaktu tidur adalah kebiasaan Kiara sejak kecil, dia sering kali berteriak-teriak seperti seseorang yang sedang ketakutan. Kejadian masa lalu menoreh luka dan trauma yang besar dalam hati Kiara.
"Kamu baik, kamu bukan pembunuh, jangan sedih!" Xavir mengecup kepala Kiara dengan lembut.
Orang-orang yang melihat hal itu seketika baper, mereka terkesima dengan perlakukan lembut yang diberikan oleh Xavir.
Disebuah gedung yang sangat tinggi, terlihat pria tampan sedang memperhatikan ponselnya, matanya dari tadi mengarah kepada ponsel tersebut. Senyum miring dan tatapan tajam terukir di wajah tampannya.
"Rupanya dia sudah dekat. Arwan Arkana! tunggu kehancuranmu. Hahaha... hahaha...," Pria itu duduk sambil mengisap rokok.
__ADS_1