Derita Anak Kandung

Derita Anak Kandung
Bab 42 Seseorang Berjubah Hitam


__ADS_3

"Ra! Kiara!" Xavir memanggil-manggil Kiara dari ruang tengah.


Kiara yang sedang berdandan tersebut mengomel karena Xavir memanggilnya dari tadi. Dia segera pergi menghampiri Xavir.


"Ada apa?" Kiara bertanya dengan suara lembut sambil menelisik penampilan Xavir yang terlihat rapi."Mau kemana? udah rapi aja."


"Eh- Iya, aku mau jemput teman-teman buat nginap disini." Xavir memperhatikan Arloji di tangannya. "Aku pergi dulu." Ucapnya sambil berjalan ke pintu utama.


Saat akan kembali ke kamar, Kiara mendengar kembali seseorang memanggil namanya dan Xavir. Kiara berjalan ke luar Mansion dan mendapati Riri sedang berdiri di balik pagar.


"Kenapa dikunci? Baru tinggal sehari aja udah sok berkuasa!" Sindir Riri sambil menatap malas ke arah Kiara.


Kiara menggigit bibirnya untuk menghilangkan emosi sesaat. Kemudian Kiara menatap Riri dengan tatapan sayu. "Maafkan aku Bund, aku nggak tahu Bunda udah dari tadi disini."


Saat akan membuka pagar Kiara berdehem karena melihat pintu pagar yang tidak terkunci. "Sengaja nggak sih?"


"Kamu bilang apa tadi?" Riri mendengar Kiara seperti mengatakan sesuatu.


"Hehe...Nggak ko Bund." Kiara terkekeh kecil saat ditanya.


"Jangan panggil aku bunda, aku bukan ibu kamu." Wanita itu mendahului Kiara sambil mengibas-ngibaskan rambut panjangnya di depan Kiara.


Kiara menarik rambut Riri kemudian langsung berlari dan bersembunyi di taman belakang Mansion. Kiara sangat lega karena telah melampiaskan kekesalannya.


Kiara berjalan mundur kebelakang sambil memperhatikan sekitar. Saat akan berbalik seseorang berjubah hitam menghampiri Kiara dan menutup mulut Kiara dengan tangannya.


"Hmp... Hmp...," Kiara ingin sekali berteriak, tapi mulutnya di sumpal.


Laki-laki itu membawa Kiara ke tempat tertutup seraya meletakan jari telunjuknya di mulut. Dia memberikan isyarat untuk tidak bersuara.


"Kena...," Belum sempat bertanya, Kiara langsung terdiam. Matanya melihat Bunda Riri sedang berjalan ke arah mereka.


Pria tadi kembali memberikan isyarat agar Kiara mengunci mulutnya. Kiara yang paham langsung mengikuti apa yang di bilang oleh pria itu.


Kau sangat mirip seseorang. Batinnya sambil memperhatikan wajah pria itu yang ditutupi oleh topeng.


Setelah dirasa cukup aman, pria itu mengajak Kiara berjalan ke arah semak-semak untuk memperlihat sesuatu kepada Kiara.

__ADS_1


Kiara tidak bisa berfikir positif dengan pria yang ada di depannya ini. "Kau mau apa?" Tanya Kiara sambil menahan langkahnya.


Pria itu berdehem, "Jangan berpikir negatif, aku hanya mau menunjukan makanan yang kubawa. Tidak mungkin juga aku menyentuh gadis jelek sepertimu." Ucap Pria itu dengan suara yang sangat berat.


Kiara jadi malu sendiri karena pikirannya yang terlalu Viktor."Bukan itu maksud aku." Elaknya,"Aku hanya tidak terbiasa dengan orang asing." jawabnya.


Pria tersebut mengambil paper bag dan memberikannya kepada Kiara."Anggap hadiah pertemuan kita."


Setelah memberikan paper bag pria itu berlari dan melompati pagar yang terlihat sangat tinggi. Kalau saja ada lomba tentang melompat, pasti pria tadi yang akan memenangkannya.


"Baik juga." Kiara membuka paper bag, dia terpanah karena isi dari paper bag ternyata makanan kesukaannya dan berbagai cemilan.


"Kira-kira siapa pria tadi ya? Jubahnya sangat keren, aku juga pengen punya jubah kek gitu supaya bisa cosplay jadi vampir." Kiara membayangkan jika dia memakai jubah hitam dan cosplay jadi Vampir.


"Goblok!" Makinya terhadap dirinya sendiri karena baru saja membayangkan hal konyol.


Kiara memakan kepiting Saos dengan sangat nikmat, dia menjilati sisa-sisa Saos di tangannya. Kiara begitu menikmati makanan yang baru saja di kasih oleh pria yang tidak dikenalnya.


"Emang anak baik bakal dikasih yang baik-baik juga." Kiara mengelus perutnya yang sudah kekenyangan.


Kiara bersenandung sambil melakukan tarian ala Black Pink. Kiara menyusuri seluruh taman yang ada di Mansion besar ini.


"Rasain! siapa suruh Mansion sebesar ini tidak ada penjaganya. Kan repot," Kiara tidak ada niat membuka pagar untuk mereka.


"Kiara!" Xavir memanggil-manggil Kiara agar membukakan pintu untuk mereka, namun sudah 10 menit Kiara tidak muncul-muncul.


"Bunda!" Teriak Xavir saat tahu bundanya ada di dalam Mansion.


Riri membuka pagar kemudian mempersilahkan Xavir dan teman-temannya untuk masuk ke dalam. Xavir melihat kesana-kemari untuk guna mencari wanita yang dipanggilnya tadi.


Riri seakan tahu apa yang Xavir tahu langsung berbicara, "Dia nggak ada."


"Kemana?"


Bukannya menjawab Riri malah bertanya kepada Xavir tentang perempuan yang ada disampingnya. "Siapa?" Riri memperhatikan Anira dari bawah sampai atas. "Cantik."


"Makasih Tante." Jawab Anira malu-malu.

__ADS_1


Riri hanya membalas Anira dengan senyuman yang sangat manis. Setelah itu Riri berpamitan dengan alasan ada urusan penting.


****


Kiara melewati Xavir dan teman-temannya tanpa menoleh sedikitpun. Dia berjalan seolah-olah tidak melihat kedatangan mereka.


"Gila Lo! masa lu pacarin dua bidadari sekaligus." Ucap Teman Xavir seraya tersenyum genit kepada Kiara.


Anira mendekati Xavir, kemudian mengapit lengan Xavir dengan tangannya. "Kak, aku pengen minum." Anira bermanja-manja selayaknya anak kecil.


Kiara berdecih,"Kalau gatal di garuk, bukan nempel-nempel ke pacar orang." Kiara menatap Anira dengan tatapan merendahkan,"Kalau ayah tidak mengadopsi dia, pasti udah jadi gelandangan."


"Kiara!" Xavir membentak Kiara karena telah berkata kasar kepada Anira. "Dia adalah adik kamu, tidak seharusnya kamu menghinanya."


Kiara tak mendengarkan Xavir. Dia membisikan sesuatu kepada teman-teman Xavir. "Kalian tahu benalu? dia adalah benalunya." Tunjuknya pada Anira.


Bruk!


Tubuh Anira terjatuh di lantai, dia sepertinya sedang pingsan. Kiara pergi ke dapur mencari gila pasir. Kemudian dia menuangkan gula pasir ke dalam mangkuk yang berisi air.


Kiara membawa mangkuk itu ke depan tempat dimana Anira tengah dibaringkan. Kiara mengoleskan air gula itu ke seluruh badan Anira.


"Itu apa?" Xavir belum pernah melihat orang pingsan yang di olesi dengan air.


Kiara tersenyum, "Air gula! kata dokter air gula mampu menyadarkan orang pingsan." Ucapnya seraya mengolesi badan Anira dengan air gula.


Xavir dan teman-temannya hanya menganggukkan kepala seraya melihat perkembangan Anira. Dengan bodohnya mereka percaya kepada Kiara yang telah membodohi mereka.


Kiara menepuk-nepuk tangannya, "Kita tunggu beberapa menit lagi."


30 menit kemudian, tubuh Anira di serang oleh semut merah. Anira mulai menggerakkan badannya karena tidak sanggup dengan rasa gatal dan sakit akibat gigitan semut.


"Mujarab banget! Langsung bangun Anjir!" Teman Xavir heboh sendiri karena Anira tersadar dari pingsan.


"Aku bilang juga apa, bangun kan dia? Aku ini emang udah mahir dalam hal mengobati pasien." Ucap Kiara berkacak pinggang.


Sedangkan Anira hanya menatap Kiara dengan tatapan marah, dia menggertak giginya karena menahan amarah. Niatnya ingin diperhatikan oleh Xavir gagal karena keusilan Kiara.

__ADS_1


Kiara tersenyum senang karena telah berhasil mengerjai Anira. Dia sangat malas dengan sikap Anira yang tidak tahu diri sama sekali.


__ADS_2