
Kiara memasuki Apartemen sambil membawa Xavir bersamanya. Dia memasuki kamar dan mengatur pakaiannya di koper. Kiara memang berniat untuk pergi karena merasa tidak bahagia bersama dengan Ferdo.
"Mau kemana kamu? kamu tidak boleh pergi tanpa izin dariku." Kali ini Ferdo tidak bersikap lunak seperti biasa.
Kiara menatap pria di depan dengan tatapan benci dan kecewa, dia seakan-akan ingin membunuh pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.
"Kamu siap larang-larang aku? Aku selama ini tak pernah menganggap mu sebagai suamiku, jadi jangan pernah mengatur diriku." Kiara masih saja mengatur barang-barangnya. Dia akan tinggal bersama dengan Xavir, tidak mungkin dia kembali ke rumahnya.
"AKU BILANG TIDAK, YA TIDAK! NGERTI NGGAK SIH?" Suara Ferdo semakin meninggi karena Kiara yang selalu membangkang.
Tubuh Kiara bergetar karena baru saja di bentak oleh Ferdo yang selama ini tidak pernah membentaknya. Matanya berkaca-kaca karena saking takutnya dengan Ferdo.
Ferdo menarik nafasnya kasar, dia juga sebenarnya tidak mau membentak Kiara. Ferdo saat ini dikuasai oleh rasa kecewa karena tidak pernah dihargai oleh orang yang dicintainya, dan cemburu karena gadis yang dicintainya akan pergi meninggalkannya.
"Jika kau ingin pergi, jangan berharap kembali lagi padaku. Kau telah memilih jalan hidupmu, jadi jangan pernah kembali jika kau menderita dengannya. Aku bukan pria bodoh yang akan menerima setelah ditinggal." Ucap Ferdo sambil melunakkan suaranya.
Kiara masih menatap penuh benci pria di depan, "Kembali? aku tak akan pernah kembali. Pilihanku tidak akan mungkin salah."
Kiara meninggalkan Apartemen tanpa melirik untuk terakhir kalinya. Dia saat ini hanya memikirkan kehidupannya dengan Xavir.
Mereka berdua pulang ke Indonesia, tetapi Kiara tidak akan tinggal di rumahnya melainkan di mansion milik Xavir. Kiara tidak mau jika kakeknya tahu masalah dia dengan Ferdo.
"Apakah kamu tidak masalah meninggalkannya demi aku? aku takut tidak bisa membahagiakan mu." Ucap Xavir sembari menatap kornea mata berwarna coklat terang itu.
Kiara tersenyum, tak ada rasa bersalah dalam dirinya karena telah meninggalkan Ferdo. Baginya Ferdo adalah orang jahat yang telah menghancurkan hidupnya.
"Aku tidak masalah meninggalkannya, yang terpenting saat ini aku bisa bersamamu. Aku mohon jangan pernah bosan mencintaiku." Kiara kembali melihat ke arah luar.
Xavir tersenyum sambil mengirimkan pesan singkat kepada bundanya.
[Aku berhasil bund.]
[Bagus! kamu memang anak bunda yang sangat berbakti.]
__ADS_1
Xavir senang sekali mendapat respon baik dari bundanya. Dia akan melakukan segala cara agar bundanya senang. Bahkan dia rela mengorbankan segalanya.
******
Setelah mendapat pesan dari Xavir, Riri mengajak Agren dan seorang pria paruh baya untuk membahas rencana selanjutnya yang akan mereka lakukan. Ternyata ada 3 pihak yang berusaha menjatuhkan Arwan Arkana.
"Bagaimana rencana selanjutnya?" Agren tidak sabar melihat kekalahan dari Arwan Arkana.
Riri menyesap kopi capuccino yang di pesannya. Kemudian dia menatap Agren dengan senyum tipis." Jangan terlalu terburu-buru tuan Agren, kita harus melaksanakan rencana ini secara perlahan-lahan. Arwan Arkana adalah orang yang sudah untuk dikalahkan, untuk itu kita harus mempertimbangkan setiap tindakan yang akan kita lakukan."
"Tidak sia-sia aku mendekatinya. Aku yakin Arwan telah mengetahui sesuatu tentang diriku. Aku hanya bingung, mengapa dia seperti mempermudah rencana yang kita lakukan? tidak mungkin dia tidak mengetahui gerak-gerik ku." Ucap Pria paruh baya serius.
Riri dan Agren hanya menganggukkan kepala, mereka berdua sangat bingung dengan jalan pikiran dari pemimpin Corla tersebut. Sudah 12 tahun mereka tidak bisa menjatuhkan Arwan Arkana. Mereka bertiga sudah hampir menyerah akan hal itu.
"Jangan putus asa, usaha tak akan pernah mengkhianati hasil." Ucap Riri mantap.
Mereka bertiga berbincang tentang segala hal yang akan mereka lakukan. Namun, mereka tidak menyadari adanya sepasang mata yang tengah memperhatikan interaksi mereka.
"Kalian pikir kalian bisa menang." Ucap Pria yang sedang memperhatikan mereka bertiga.
"Jangan marah gitu dong, aku kan hanya bercanda." Arwan mencolek pipi Visa dengan jari telunjuknya.
Visa merasakan hal aneh pada dirinya, tidak biasanya dia merasakan hal itu ketika berdekatan dengan Arwan Arkana. Memang dia pernah menyukai Arwan, tapi dia belum pernah merasakan hal aneh tersebut.
"Kayaknya aku harus minum obat jantung." Gumamnya sambil memegangi dadanya yang dari tadi berdegup.
"Kenapa kau tersipu malu begitu? Aku tahu aku ini pria tertampan di dunia. Tetapi jangan terlalu berlebihan juga." Ucap Arwan percaya diri.
"Suka padamu? Nggak akan! untuk apa suka pada pria sepertimu." Visa meninggalkan Arwan sendirian.
"Mba Visa cantik juga ya, boleh kan kalau aku jadi pendampingnya? aku tidak masalah dengan umurnya yang lebih tua dariku." Hard mendekati Arwan yang sedang memperhatikan punggung Visa.
"KAU INGIN JADI SAINGANKU?" Arwan reflek berteriak karena saking tidak suka dengan perkataan Hard.
__ADS_1
Visa menoleh,"Ada apa?"
Arwan terkejut, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan."A-aku hanya takut kecoak, ya kecoak."
Sedangkan Hard langsung bersembunyi sambil menertawakan tuannya yang sedang salah tingkah. Dia sangat puas melihat tingkah tuannya.
Visa menggeleng kepala,"Aneh."
Arwan merasa sangat malu karena telah bertingkah konyol di depan Visa. Arwan mencari keberadaan Hard untuk memberikan pelajaran yang setimpal karena telah membuatnya malu.
"Mau kemana kau!" Arwan menarik kerah baju Hard saat pemuda itu mau pergi.
Hard terkekeh saat melihat wajah merah sang tuan. "Aku masih banyak pekerjaan tuan. Aku harus menyelesaikannya."
Namun Arwan sama sekali tidak menanggapi alasan Hard yang selalu di dengarnya tersebut. Arwan masih saja menatap Hard tanpa berbicara satu kata pun.
"Hard!" Arwan meringis karena Hard baru saja menendang ***********.
Hard segera berlari ke arah Visa untuk meminta pertolongan dari wanita tersebut. Hard tidak tahu mau meminta pertolongan kepada siapa lagi.
"Mba! tolong aku, tuan Arwan marah besar kepadaku. Dia akan memukuliku." Hard berdiri di belakang Visa
"Sejak kapan kamu manggil aku mba? biasanya juga manggil kau, atau kamu. Nggak lagi sakit kan?" Visa menempelkan tangannya ke dahi Hard.
"Sini kamu!" Arwan mendekat ke arah Visa dan Hard.
Arwan yang tadinya marah langsung saja tertawa saat melihat tatapan tanya dari Visa, "Tadi kita lagi main petak umpet, jadi aku nyariin dia."
Hard menggeleng, "Bohong! tuan berbohong mba."
Visa meninggalkan Hard bersama Arwan. Visa ingin melihat keadaan Kiara yang saat ini berada di Mansion milik Xavir. Dia sangat khawatir dengan keadaan Kiara.
"Mau kemana kau." Ucap Arwan menatap Hard dengan senyum miring yang menghiasi bibirnya.
__ADS_1
"Aku janji nggak akan nakal lagi tuan." Hard memohon kepada Arwan yang saat ini terlihat mengerikan.