Derita Anak Kandung

Derita Anak Kandung
Bab 31 Pertemuan Yang tidak Sengaja


__ADS_3

Dimas saat ini berada di sebuah Cafe yang bernuansa Biru. Dia hari ini melakukan pertemuan dengan salah satu Klien untuk membahas proyek sabun pemutih.


"Perusahaan saya akan membuat sabun Pemutih yang akan menargetkan para wanita di luaran sana, dan tugas kamu adalah mempromosikan sabun ini di sosial media." Jelas Dimas sambil memberikan kontrak kerja.


"Baik, saya akan menjadi Ambasador produk ini." Gadis cantik tersebut menandatangani kontrak.


"Selamat bekerja sama." Dimas menjabat tangan gadis tersebut.


Riri dan seorang Pria yang seumuran dengan Xavir sedang membicarakan rencana akan mereka lakukan.


"Lama tidak berjumpa Master! kau semakin tampan saja. Apa Kau sudah mengetahui dimana dia menyembunyikannya?" Riri tak mau berbasa-basi terlalu lama, dia langsung saja membahas pada intinya.


Pria itu tersenyum, mulutnya meneguk kopi karamel. "Kau tenang saja, aku pasti akan menemukannya. Apa sih yang tidak bisa aku lakukan?"


Riri segera bangkit dari duduknya, dia menuju kasir dan membayar minuman yang mereka minum tadi. Ujung matanya tak sengaja melihat Pria yang selama ini selalu dicintainya.


"Ternyata dunia sempit ya mas." Ucapnya seraya memakai kaca mata.


Saat dirinya berpapasan dengan pria itu, bahunya menyenggol pria itu. Riri membuka kaca mata kemudian berkata, "Maaf, aku tidak sengaja."


Dimas reflek memeluk tubuh Riri dengan kuat, bibirnya mencium kepala Riri dengan sangat lembut. Dimas seakan tidak percaya karena melihat seorang wanita yang selama ini bersarang di pikirannya.


"I-ini beneran kamu kan Ri? kamu belum meninggal? aku senang karena bisa bertemu denganmu." Dimas menangkup wajah cantik itu dengan kedua tangannya.


Riri mengajak Dimas untuk duduk di kursi yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka, hatinya sangat senang karena melihat pancaran cinta dari pria di depannya.


"Gimana kabarmu sekarang mas?" Tanya Riri saat mereka sudah duduk di kursi.


Saking senangnya Dimas agak gugup menjawab pertanyaan Riri, " Ba-baik, kabarmu?"


"Gimana kabar hubunganmu? Harmonis?" Tanya Riri yang hanya dibalas anggukan oleh Dimas. "Tenyata kau bahagia tanpa aku." Lanjutnya tertawa sumbang.


Dimas menatap Riri dengan tatapan Cinta, "Harmonis. Tapi aku tidak bisa melupakanmu. Bagaimana kabar anak kita?"


Riri termenung, dia mengingat kesusahannya melahirkan dan merawat anaknya dengan Dimas.


Flashback On

__ADS_1


*Malam itu sepasang kekasih berada dalam sebuah kamar hotel yang terlihat mewah dan klasik, mereka berdua memadu kasih di dalam hotel tersebut.


"Maafkan aku yang tidak menghalalkan kamu. Aku tidak tahu harus berbuat apa agar Papi dan Mami mau menerima kamu." Dimas membisikan perkataan itu ditelinga Riri


"Aku tak masalah, asal bisa bersamamu aku rela." Riri menciumi Dimas yang terbaring bersamanya.


"Setelah dia tumbuh, aku akan menikahi kamu Riri." Dimas membalas ciuman itu dengan sangat dalam.


Dimas dan Riri sangat mengharapkan agar mereka mempunyai anak dari hasil percintaan yang telah mereka lakukan. Mereka adalah sepasang kekasih yang tidak direstui oleh orang tua pihak laki-laki.


"Apakah ini akan membuat papi bisa menerima aku?" Riri masih tidak percaya dengan rencana yang mereka susun ini.


"Rencana kalian akan sia-sia!" Arwan mendapati Dimas dan Riri yang sedang berpelukan.


Mereka berdua sangat kaget karena kedatangan Arwan yang sangat tiba-tiba. Dimas tidak percaya jika rencana yang sudah disusun dengan baik akan hancur.


"Jangan pisahkan kami, jangan buat aku menjauh darinya, aku tak sanggup Pi." Dimas berlutut di Kaki Arwan agar tidak memisahkan mereka berdua.


"Apa kau harapkan dari ****** ini? Papi akan menjodohkan kamu dengan anak teman papi. Dimas! Jika kau tak mau menerima perjodohan ini, aku akan membunuh wanita kesayanganmu ini." Ucap Arwan seraya memberikan isyarat kepada anak buahnya.


Dimas hanya bisa menangis saat tubuh wanita yang dicintainya semakin lama semakin hilang dari pandangannya.


"Maafkan aku Riri*."


Flashback Off


Riri sekarang tengah menangis karena mengingat kejadian terpahit yang pernah dia alami di masa lalu. Dia sangat menyangkan pria yang dicintainya telah menikah dan memiliki buah hati.


Dimas merasa dilema sekarang, dia benar-benar bingung. Dimas memang sangat mencintai Riri sampe sekarang, tapi dia juga menyayangi Anita yang selama ini menemaninya.


"Kau masih mencintaiku?" Riri menatap sendu pria di depannya.


"Aku sangat mencintaimu, bahkan rasa ini tak pernah berkurang sedikitpun." Dimas menunjuk-nunjuk hatinya.


Riri tersenyum senang, "Kalau begitu tinggalkan wanita itu!"


Dimas seakan tengah berhadapan dengan dua pilihan yang sangat sulit, dia tidak tahu harus memilih yang mana.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Anita yang akan menjemput sang suami tak sengaja melihat suaminya sedang mengobrol dengan Riri.


"Dasar ******! Perebut suami orang!" Anita menjambak rambut Riri untuk menyalurkan emosi yang sedari tadi ditahannya.


Dimas mencoba melerai mereka berdua, "Hentikan! Kau tidak malu dilihat oleh orang-orang? kau mau membuat dirimu malu?"


Anita tersenyum kecut, "Lalu bagaimana dengan dirimu? kau tidak malu berhubungan dengan wanita lain dibelakang aku? Hah!"


Riri bangkit dari duduk dan berbalik menjambak rambut panjang Anita. Dia sangat tidak terima diperlakukan seperti itu oleh wanita yang telah merebut kekasihnya.


"Kau yang ******, Kau yang merebut Dimas dari aku!" Riri semakin kesetanan menjambak Anita.


Dimas mengehentikan Riri, dia memberikan isyarat mata agar Riri segera pergi dari Cafe. Dimas menggendong Anita yang selalu memberontak tersebut menuju mobil.


"Kenapa kau bertingkah tanpa adab seperti tadi?" Dimas benar-benar kesal dengan sikap Anita di Cafe tadi.


Anita mengambil earphone dan memasang musik agar dia tidak mendengar Omelan Dimas. Dia sangat malas mendengar suaminya yang akan membela Riri.


"kamu ini nggak ada sopan santunnya kepadaku." Dimas menarik earphone.


"Aku malas mendengar kamu membela wanita murahan itu!" Anita memasang kembali Earphone.


Plak!


Dimas reflek menampar Anita yang menyebut Riri dengan sebutan wanita murahan, dia tidak suka ada orang yang merendahkan Riri. Kejadian dimasa lalu adalah kesalahannya, dia tidak menempati janjinya kepada Riri.


"Hanya karena dia kau berani menamparku mas? Apakah aku tidak berharga dalam hidupmu?" Anita tak kuasa menahan air mata karena perlakuan kasar.


Anita memang bisa menerima jika dirinya yang selalu menjadi bayang-bayang dari masa lalunya suaminya, tapi dia tidak bisa menerima perlakuan kasar suaminya.


"Turunkan aku disini." Anita merubah wajahnya menjadi dingin.


"Nggak!" Dimas tidak mau menurunkan Anita di tengah jalan.


Karena malas dengan perdebatannya dengan Anita yang tidak mempunyai ujung, Dimas akhirnya menurunkan Anita di tengah jalan.


"Maaf." Kata itu yang diucapkan saat Anita keluar dari mobil.

__ADS_1


__ADS_2