Derita Anak Kandung

Derita Anak Kandung
Bab 28 Keputusan


__ADS_3

Di dalam kamar, terlihat Riri yang sedang membicarakan sesuatu dengan Xavir, mereka berdua berbicara sangat serius. Xavir menyimak semua yang dibilang oleh Bundanya.


"Gimana kamu mau bantu bunda? Hanya kali ini saja kamu bantuin bunda." Riri menatap sendu ke arah Xavir.


"Iya! aku bakal lakuin sesuai dengan yang bunda suruh." Ucap Xavir.


"Apa kau benar-benar mencintainya?" Riri kembali bertanya.


Xavir memegangi tangan bundanya. "Apapun bakal aku lakuin buat bunda, sekalipun itu tentang orang yang kucintai."


Riri kembali tersenyum, bibirnya mengecup puncak kepala Xavir dengan lembut. Riri sangat senang karena diperlakukan seperti ratu oleh anaknya sendiri.


Xavier menatap mereka dengan wajah yang merah padam, tangannya mengepal kuat. Xavier adalah anak yang tidak pernah menuruti perintah bundanya. Kenapa? Karena Riri itu adalah manusia yang memiliki dua kepribadian. Sedangkan Xavir terus menuruti apa yang dikatakan oleh Riri.


Xavier mengisyaratkan Xavir untuk keluar dari kamar. Mereka berdua menuju taman yang berada di belakang rumah.


"Kau mau menuruti Bunda lagi? Bunda sudah menjadi iblis! kau mau menuruti niat jahatnya lagi?" Xavier sangat geram dengan adiknya.


"Bunda bilang dia akan sembuh setelah aku melakukan hal itu. Aku hanya mau bunda menjadi pribadi yang baik dan tidak akan kembali dengan pribadi yang jahat." Ucap Xavir dengan lembut.


"Sekalipun mengorbankan cintamu?" Tanya Xavier yang diiyakan oleh Xavir, "Apa ada jaminan bunda bakal sembuh? Kau lupa jika aku juga mencintainya! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" lanjutnya.


"Ayolah kak! ini demi Bunda, demi ibu kandung kamu sendiri." Bujuk Xavir.


"Aku memang brengsek, tapi aku tak akan pernah melukai seseorang dengan sengaja." Ucap Xavier.


"Tidak melukai seseorang? Kau lupa dengan apa yang kau lakukan kepada Grenta? Kau lupa sebejat apa dirimu? Jangan sok suci!" Ucap Xavir dengan amarah yang menggebu-gebu.


"Kenapa Kiara mencintai laki-laki berwajah dua sepertimu." Ucap Xavier yang kemudian meninggalkan Xavir sendiri.


*****


"Apa yang akan kita lakukan tuan? dia sudah mulai bergerak." Ucap Hard.


"Aku penasaran dengan rencananya. Persiapkan mata-mata untuk mengawasi perempuan itu dan dia." Perintah Arwan.


Hari ini Arwan ada acara ketemuan dengan seorang sahabatnya yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Mereka berdua dipertemukan dengan bisnis.


Selesai dari markas, Arwan Arkana bertemu dengan sahabatnya di sebuah cafe yang tidak terlalu jauh dari markasnya. Saat sudah sampai Arwan segera mencari keberadaan sahabatnya.


"Disini!" Ucap Pria paruh baya sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


Arwan menghampirinya dan duduk di depan Abraham. "Bagaimana kabarmu Rahang?"


Abraham memukul kepala Arwan,"Abraham bukan Rahang! dari dulu nggak pernah berubah ya, tetep ngeselin."


Arwan hanya terkekeh," Hang, bagaimana kabar cucumu yang manja itu? Apa dia sudah tidak manja seperti dulu?"


"Dia sudah berubah drastis. Dulu cucuku itu sangat manja, tapi sekarang dia menjadi pria dingin." Jawab Abraham sambil membayangkan cucunya yang dingin bak es batu tersebut.


"Kau tinggal dimana sekarang?" Tanya Arwan sambil meminum minuman.


"Jakarta, Kau tidak lupa dengan janji kita dulu kan?" Tanya Abraham.


"Aku ini selalu mengingatnya. Hang, kita harus mendekatkan mereka dulu baru itu membuat keputusan." Ucap Arwan.


"Gimana kalau mereka kita suruh datang aja kesini? aku tak mau memperlambat niat baik kita." Ucap Abraham.


Arwan Arkana dan Abraham mengirimkan pesan kepada cucu mereka untuk datang ke cafe. Mereka berdua ingin mempertemukan cucu mereka.


62813281083**


[Datang ke kafe sekarang! ada hal penting yang akan kakek bicarakan.]


[Kenapa bukan dirumah aja kek? kenapa harus di Cafe?]


[Pulang sekolah aku langsung kesana.]


Arwan Arkana bernafas lega karena berhasil membujuk cucunya yang sangat susah di kasih tahu itu. Sekarang tinggal Abraham yang mengirim pesan kepada cucunya.


"Kenapa kau diam saja? kau sudah menyuruh cucumu buat datang?" Tanya Arwan.


Abraham tersenyum, "Aku udah nyuruh dia buat datang ke sini. Walau sedingin kutub, dia selalu menuruti apa yang aku perintahkan."


"Cucuku selalu membantah jika tidak sesuai dengan apa yang dia mau, dia juga keras kepala dan susah diatur. Cucuku itu sangat ingin mengalahkan aku di semua bidang yang kusukai."


Mereka berdua menggibahi cucu mereka yang sangat berbeda jauh sikapnya. Mereka sering mengumbar sikap cucu mereka yang tidak baik.


Kiara tiba duluan di cafe, dia mencari-cari keberadaan kakeknya. Saat mengetahui keberadaan sang kakek, Kiara langsung berjalan ke arah kakeknya.


Kiara menyalami tangan kakeknya dan tangan Abraham. Hal tersebut membuat Abraham tak sabar melaksanakan rencana mereka yang tertunda dulu.


"Apa yang mau kakek bicarakan?" Tanya Kiara tanpa berbasa-basi.

__ADS_1


"Bentar aja, orang yang kami tunggu belum datang. Nanti kalau dia udah datang baru itu kakek akan membicarakan hal itu." Jawab Arwan.


Kiara memainkan ponsel sambil menunggu kedatangan seseorang yang dimaksud oleh kakeknya. Sejujurnya dia sangat tidak ingin bertemu dengan orang yang dimaksud oleh kakeknya, tapi dia juga penasaran dengan hal penting yang akan dikatakan oleh kakeknya.


"Sini do!" Teriak Abraham saat melihat Ferdo yang mencari keberadaannya.


Kiara mengalihkan pandangannya ke arah depan, alisnya terangkat. Kiara memandangi kakeknya yang saat ini tersenyum ke arah depan


Sebenarnya apa hal penting yang dimaksud oleh kakek? kenapa juga harus ada dia! ucap Kiara dalam hati.


Ferdo yang awalnya tersenyum saat melihat kakeknya kini langsung mengubah raut wajahnya menjadi dingin. Dia duduk di samping Kiara karena hanya itu bangku yang kosong.


"Kenapa?" Pertanyaan singkat itu membuat Abraham dan Arwan saling memandang satu sama lain.


Sedangkan Kiara masih terus bermain ponsel tanpa menghiraukan keadaan sekitar. Dia sangat malas berbicara, apalagi ada Ferdo disampingnya.


"Kamu sudah tidak mengingat Kakek Arwan? Yang selalu membawa anak perempuan jika berkunjung ke rumah?" Tanya Abraham kepada Ferdo. "Ini adalah Kakek Arwan dan anak perempuan yang selalu dibawanya." Lanjut Abraham sambil menatap Arwan dan Kiara.


Kiara yang sibuk bermain ponsel itu kaget saat mengetahui fakta bahwa Ferdo adalah anak kecil yang dulu sering menjahilinya. Kiara reflek memukul kepala Ferdo dengan tangannya.


"Kau yang selalu menjahili aku saat masih kecil? Rasakan ini!" Kiara masih terus memukul kepala Ferdo dengan tangannya.


Sedangkan Abraham hanya tersenyum melihat Cucunya yang di pukuli oleh Kiara. Arwan Arkana memberi isyarat kepada Kiara agar berhenti memukuli Ferdo.


"aku sangat kesal kepadanya kek! dia yang selalu membuatku menangis." Ucap Kiara.


Setelah puas Kiara menghentikan aksinya yang terlihat bar-bar. Orang- orang yang berada dalam Kafe tersebut menatap Kiara dengan tatapan tanya.


Ferdo tidak menghindar ataupun menahan pukulan Kiara, dia membiarkan Kiara memukulnya sampai puas. Disaat begini ekspresi Ferdo tidak pernah berubah sedikitpun.


"Kalian akan kami jodohkan." Ucap Abraham mewakili Arwan.


"Apa! Kakek tahu kan aku udah punya pacar? Kenapa kakek melakukan hal ini kepadaku!" Ucap Kiara tak terima.


"Dia tidak baik Kiara! dia bukan Pria yang baik untuk kamu." Ucap Arwan.


Arwan Arkana memberikan ponselnya kepada Kiara. Di dalam ponsel itu terdapat rekaman CCTV di kediaman Ravendra.


"Tidak mungkin! dia tidak mungkin akan melakukan hal itu kepada ku!" Ucap Kiara sambil berlari keluar dari Cafe.


Arwan tak mengejar Kiara yang sedang kecewa, dia ingin memberikan waktu kepada cucunya untuk menyendiri.

__ADS_1


Ferdo meminta izin kepada kakeknya dan Arwan untuk menyusul Kiara yang sedang bersedih tersebut. Dia tidak ingin Kiara melakukan hal yang tidak baik.


__ADS_2