
Tidak terasa sudah dua Minggu Kiara tinggal bersama Xavir. Kiara merasa tidak bahagia tinggal bersama Xavir. Menurutnya, Xavir adalah orang yang dicintainya. Tapi dia tidak merasakan kebahagiaan sedikitpun.
"Kenapa?" Xavir memperhatikan wajah murung Kiara.
Seakan tidak mendengar, Kiara tidak menjawab pertanyaan dari pria Xavir. Xavir menggoyang-goyangkan tubuh Kiara agar menyadarkan wanita itu dari lamunan.
"E-eh!" Kiara terkejut, kemudian kembali bertanya. "Kenapa?"
"Kamu yang kenapa? dari tadi ditanyain diam aja. Lagi mikirin apa?"
Kiara kembali termenung, dia sedang membandingkan kehidupannya bersama Xavir dan Ferdo yang terlihat berbeda. Kalau dipikir-pikir dia lebih bahagia bersama dengan Ferdo dari pada dengan Xavir. Walau dia sering marah-marah, tetapi dia merasa sangat diperhatikan ketika bersama suaminya.
"Bagaimana kabarnya ya?" Gumam Kiara yang masih terdengar oleh Xavir.
"Kabar siapa? kau tidak memikirkan manusia biadab itu kan?" Tanya Xavir yang hanya dibalas dengan anggukan. "Jangan pernah memikirkan pria lain jika sedang bersamaku." Ucapnya seraya mendekatkan wajahnya dengan Wajah Kiara.
Kenapa tiba-tiba aku kangen? Kenapa juga aku memikirkannya disaat dengan kekasihku?
Perlahan perasaan menyesal menghampiri Kiara. Tapi dia sangat malu jika kembali kepada suaminya. Kembali kepada kakek juga rasanya sangat tidak enak. Arwan sudah memberikan peringatan kepada Kiara terkait pilihannya untuk meninggalkan Ferdo.
"Aku lapar!" Tariak Kiara sambil mengusap perutnya yang terlihat keroncongan.
Xavir menoleh, "Lapar ya masak, aku udah beli bahan makanan. Nggak boleh beli makanan diluar! kita harus berhemat." Jawaban Xavir membuatnya kesal.
Uang dari kakek tinggal sedikit, dia juga sudah berjanji tak akan meminta uang jika dia sudah tinggal bersama Xavir.
Beberapa saat Riri mengirimkan pesan kepada Xavir.
[Ke rumah sekarang! ada sesuatu yang akan bunda bicarakan.]
Xavir membaca pesan itu dengan dahi yang mengkerut. Dia tidak tahu apa yang akan bundanya sampaikan.
"Aku pergi!" Teriaknya sambil berlari ke arah luar.
Di dapur ini Kiara sangat bingung dengan bahan-bahan dapur yang tersedia. Dia saja tidak tahu membedakan garam penyedap rasa, bagaimana dia bisa memasak dengan enak.
__ADS_1
"Yang penting yakin!" Ucapnya seraya mengambil beberapa alat dapur.
Kiara mengambil pisau dan langsung memotong jahe menjadi kecil-kecil, tak lupa juga cabe kriting di blendernya. Kiara sangat yakin dengan kemampuannya.
"Gimana cara memecahkannya?"Ucapnya seraya mengambil beberapa butir telur. "Aku harus yakin!" walau tidak tahu, Kiara tetap yakin dengan kemampuannya.
Setelah selesai Kiara mencoba masakannya. Seketika dia memuntahkan makanan yang baru saja dimakannya. Masakan itu sangat asin.
"Kenapa jadi asin begini? aku kan hanya memasukan 1 sendok garam. Gimana caranya aku makan kalau begini?" Kiara benar-benar sangat lapar.
"Hehehe...Hehehehe..." Seseorang tengah tertawa terbahak-bahak karena melihat Kiara yang sedang memasak.
Lagi-lagi pria berjubah hitam menemui Kiara. "Nggak gitu caranya." Ucapnya seraya membersihkan dapur yang sedang berantakan.
"Sini aku ajarin!" Pria berjubah hitam tersebut memberikan isyarat agar Kiara mendekat ke arahnya.
Kiara tampak ragu untuk mendekat, "Kenapa? aku nggak bakal jahatin kamu." Ucapnya sambil membuka kulkas.
Pria tersebut sangat geram karena Kiara yang terdiam dari tadi. "Sini! aku bakal ajarin kamu." Ucapnya seraya menarik tangan Kiara.
Kiara menghempaskan tangan Pria itu, "Nggak usah narik-narik bisa?"
Disaat sedang marah perut Kiara tiba-tiba berbunyi. Dia sangat malu dan ingin sekali menyembunyikan dirinya jauh di dalam bumi.
"Nunggu apa lagi? Ayo! nanti cacingnya marah." Ucap Pria itu yang kembali terkekeh.
Kiara diajarkan bagaimana cara memasak telur yang benar, dia juga mengajarkan berbagai rempah-rempah dan berbagai bumbu-bumbu penyedap rasa. Kiara sangat terbantu sekali dengan kehadiran Pria tersebut.
Beberapa menit kemudian telur ceplok dan ikan saos sudah masak. Mereka menyajikan makanan tersebut di atas meja.
"Bagaimana rasanya?" Pria itu mempersilahkan Kiara mencicipi masakan tersebut terlebih dahulu.
Kiara diam sambil menikmati setiap bumbu dari masakannya, "Lumayan, HM... rasanya cukup enak." Ucapnya sambil memasukan kembali makanan ke dalam mulut.
Yah, makanan tersebut dibuat oleh Kiara. Pria tersebut hanya mengarahkan Kiara, dan Kiara sendiri yang melakukannya.
__ADS_1
"Memasak itu gampang kan?" Tanya pria itu lagi.
Kini pria tersebut duduk berhadapan dengan Kiara. Dia mengambil piring dan segera makan.
"Makasih," Saat hening Kiara mengucapkan kata terima kasih.
Setelah memasukan makanan ke dalam mulut pria tersebut menoleh, "Untuk? jangan terlalu sungkan, aku hanya menjalankan kewajibannya."
"Sekali lagi makasih." Ucapnya yang kemudian melanjutkan makan.
Kiara merasa aneh dengan pria di depan, dia merasa pria tersebut seperti tidak asing dimatanya. Namun, Kiara sangat bersyukur karena pria tersebut seperti pahlawan yang selalu datang di saat dia membutuhkan bantuan.
Sisa saos yang menempel di bibir Kiara membuat Pria tersebut sangat gemes. Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya, kemudian dia menjilati sisa saos yang menempel di bibir Kiara.
Kiara hanya terdiam, dia tidak sama sekali menolak perlakuan dari pria berjubah di depan. Tubuhnya seakan-akan mengkhianati dirinya sendir.
"Maaf, tadi ada saos di bibirmu, aku hanya membersihkannya."Pria itu tidak ada rasa bersalah karena telah mencium Kiara.
Kali ini Kiara hanya diam, dia tidak sama sekali menolak atau memarahi pria tersebut. Justru dia juga menikmati ciuman tadi.
"Udah nggak usah dipikirkan." Ucapnya.
Sementara itu di Mansion Ravendra Riri dan Xavir tengah membicarakan tentang racun jangka panjang yang akan diberikan kepada Kiara.
"Emang harus kek gini? tidak bisakah kita mencari cara lain selain meracuninya? aku rasa tindakan ini terlalu berlebihan." Ucap Xavir yang masih memiliki hati nurani. Dia memang memiliki sedikit perasaan untuk Kiara.
Melihat respon sang anak yang diluar dugaan, Riri langsung mengeluarkan senjata pamungkasnya. "Jadi kamu sudah tidak sayang bunda lagi? kamu nggak mau membantu bunda?" Ucapnya diiringi air mata. "Bunda sudah tidak punya anak yang sayang sama bunda!" Riri tertunduk dengan air mata yang masih berlinang.
Xavir sangat tidak tega melihat wanita yang sangat dicintai dan disayangi harus menangis karena sikapnya. "Bunda jangan nangis, oke? aku selamanya akan menyayangi bunda, sekalipun harus mengorbankan nyawa aku rela. Aku akan tetap menjadi Xavir yang selalu bisa kau banggakan."
Riri bangkit dan langsung menghapus sisa air mata yang mengalir di matanya. "Makasih karena udah ngertiin bunda."
Riri memberikan botol kecil yang berisi racun jangka panjang. Dia menyuruh Xavir untuk memasukkan racun tersebut pada minuman Kiara. Tadinya Xavir ingin menolak, tapi dia tidak sanggup melihat bundanya harus bersedih. Baginya kebahagiaan Riri itu lebih utama dari apapun.
Xavier yang dari tadi menguping pembicaraan hanya bisa mengelus dadanya. Dia sangat geram dengan sang adik yang diperlakukan layaknya robot oleh ibu kandungnya sendiri. Dia selalu menasehati Xavir, tapi tak pernah di dengar sama sekali.
__ADS_1
Kemudian Xavier mengirimkan pesan kepada seseorang agar mereka menjaga Kiara lebih ketat lagi. Dia tidak mau mereka sampai kecolongan.
[Perhatikan Kiara! dia dalam bahaya. Bunda dan Xavir berencana akan meracuninya lewat minuman.]