Derita Anak Kandung

Derita Anak Kandung
Bab 26 Surat Cinta


__ADS_3

Sudah beberapa bulan terakhir Kiara dan Xavir tak pernah berjumpa, mereka dilarang keras oleh Riri untuk bertemu. Kiara melewati hari-harinya tanpa kehadiran seseorang yang telah merebut hatinya.


Siang ini Kiara duduk di taman belakang, Matanya dari tadi menatap surat yang entah dari siapa. Kiara membaca surat tersebut dengan sangat serius dan sesekali tersenyum.


Isi Surat Pertama


Dear Kiara


Kau adalah cahaya yang menerangi sisi gelapku, Kau adalah penyemangat yang menyemangati hidupku. Jangan bersedih hanya karena kepergian seorang raja. Tersenyumlah! Kau sangat jelek ketika bersedih!


By: Raja tampanmu


Kiara tersenyum saat membaca surat pertama, dia sudah menduga jika yang mengirim surat tersebut adalah Xavir. Kemudian Kiara membuka surat kedua, alisnya terangkat saat membacanya.


Isi Surat Kedua


Dear Nenek Lampir


Kenapa setiap melihat wajahmu yang sedih aku seakan ingin memuntahkan isi perutku. Kau tidak cocok menjadi protagonis! kau sangat cocok menjadi peran Nenek lampir pada dongeng penyihir.


Nek! kenapa kau bersedih hanya karena dia?


Tidak bisakah kau melihatku yang selalu ada di belakangmu? Kau terlalu memperdulikannya sampai kau tidak bisa melihat diriku!


By: Pengagum Rahasiamu


Saat membaca surat terakhir Kiara yang tadinya tersenyum langsung saja emosi, kakinya menendang pohon yang berada di depannya. Kiara meremas surat terakhir, matanya kini sudah memancarkan kemarahan.


Seorang Pria menatap Kiara dengan sedikit tertawa, dia sangat senang karena melihat gadis itu tidak bersedih lagi.


"Kau memiliki dua malaikat tampan sehingga aku tak bisa memandangi mu dari dekat. Teruslah tersenyum! Aku tak butuh cintamu, melainkan kebahagiaanmu." Ucap Pria Tersebut.


Pria tersebut sangat tampan, matanya berwarna coklat terang, rambutnya berwarna pirang, dan hidungnya mancung. Pria tersebut terlihat sangat tampan. Namun, dia tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita.


"Aku hanya akan menjadi sandaranmu." Ucapnya kemudian berusaha turun dari atap.


Kiara kini duduk di kursi, wajahnya ditekuk. Kiara tak memperdulikan tatapan tanya dari sahabatnya. Kiara mengambil pulpen dan menggaris-garis bukunya.


Bianca mengambil pulpen yang ada di tangan Kiara, "Loh kenapa sih? wajahnya jangan ditekuk gitu dong."


Kiara menghela nafas panjang, "Balikin nggak! jangan buat mood aku tambah hancur deh!"


"Iya!" Bianca menaruh pulpen di atas meja.

__ADS_1


Kiara duduk di bangku sambil membuka Facebook, dia menonton film cina di apk tersebut. Tak beberapa lama memainkan apk Facebook, Ponselnya berdering.


"Wah! pesan dari siapa nih?" Kiara membuka pesan dari orang yang tak dikenalnya.


[Kiara, aku merindukanmu. Bolehkah kita bertemu sore ini?]


[Oke!]


Kiara tersenyum saat membaca pesan tersebut, hatinya berbunga-bunga karena mendapat pesan dari sang pemilik hati. Kiara hanya membalas oke.


Saat akan pergi Kiara tidak sengaja menabrak seseorang. Pria yang ditabraknya hanya menatapnya sekilas dan langsung pergi.


"Tunggu!" Kiara berteriak saat pria tersebut telah berjalan.


"Maaf." Ucap Kiara saat Pria itu membalikan badan.


Kiara Tak pernah melihat pria itu sebelumnya, wajahnya sangat tampan dan mempesona. Kiara akui bahwa dia lebih tampan dari Xavir dan Xavier. Namun Kiara tak dapat memungkiri bahwa dia cukup kagum dengan ketampanannya.


"Walau dia tampan, dia tidak sebanding dengan rajaku." Ucap Kiara.


****


Xavir mengendap-ngendap keluar kamar, matanya dari tadi menelisik sekitar. Rumahnya Xavir saat ini di jaga oleh para bodyguard milik bundanya. Xavir tak bisa leluasa untuk keluar dari rumah.


"Aku haus! Ambilkan air minum!" Xavir memerintah salah satu bodyguard untuk mengambilkan air untuknya.


"Ini kesempatanku!" Xavir menganti bajunya dengan baju yang dikenakan bodyguardnya.


Sedangkan bodyguard tersebut di ikat dan dibaringkan di atas spring bed, tak lupa mulutnya di sumpal pakai kain kecil.


Xavir keluar dari kamar mengenakan topi hitam yang pernah dia beli di pasar malam. Perjalanan keluar rumah sangat mulus. Akan tetapi, saat melewati gerbang, Xavir sempat dicurigai.


"Ada perlu apa anda keluar mansion? kita hanya disuruh untuk menjaga mansion." Bodyguard yang menjaga gerbang itu menatap penuh selidik.


"Saya disuruh oleh tuan muda." Ucap Xavir dengan mengubah suaranya.


"Jangan lama-lama." Bodyguard tersebut membuka gerbang.


Xavir segera berlari ke arah pangkalan ojek yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Dia pergi ke danau untuk bertemu dengan Kiara.


Di sebuah danau yang indah, duduk seorang gadis yang menggenakan baju polos berwarna hitam dan celana leging hitam. Kiara hari ini terlihat natural, tapi tidak menghilangkan kesan cantik pada dirinya.


"Kiara!"

__ADS_1


Deg!


Kiara menoleh, didapatinya Xavir tengah menggenakan baju bodyguard. Walau hanya menggunakan baju bodyguard, Xavir tetap terlihat tampan dan gagah.


"Aku sangat merindukanmu Kiara." Xavir memeluk tubuh Kiara dengan lembut.


Mereka duduk di tepi danau, keadaan danau yang hijau dan sepi membuat suasananya menjadi romantis.


"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Xavir memegangi tangan Kiara.


Kiara yang tadinya menatap danau kini menoleh ke arah Xavir. "Ngomong aja."


Kiara merasakan tangan yang memegangnya terasa sangat dingin. Xavir saat ini terlihat gugup dan malu namun dia berusaha untuk berbicara.


"A-aku mencintaimu! Aku tidak tahu sejak kapan rasa ini ada. Aku tidak bisa kau dari kamu." Xavir menatap manik mata Kiara dengan tatapan serius. "Maukah kau menjadi pacarku?"


Cup!


Xavir terkejut saat bibir lembut Kiara menempel dengan bibirnya. Xavir merasakan kenikmatan dari bibir merah milik Kiara.


"Itu adalah jawabannya." Ucap Kiara sambil tersenyum.


Xavir sangat senang saat Kiara yang menerima perasaannya. Xavir memeluk tubuh ramping itu, dan mendaratkan senyum di dahi Kiara.


Cup!


"Jangan malu gitu, kita ini sudah sepasang kekasih sekarang." Ucap Xavir saat melihat wajah Kiara yang memerah.


Mereka berdua tak menyadari bahwa mereka saat ini telah di pantau oleh Riri dan bodyguardnya. Mereka saat ini berada dalam mobil yang tidak terlalu dari jalanan.


"Apa yang akan kita lakukan nyonya?" Tanya salah satu bodyguard.


"Biarkan saja mereka menikmati percikan cinta." Ucap Riri sambil tersenyum tipis.


Para bodyguard hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan tingkah sang tuan yang terlihat aneh. Riri kadang terlihat seperti pemeran antagonis, dan kadang seperti protagonis.


"Ayo kita samperin mereka!" Riri turun dari mobil dan diikuti oleh para bodyguardnya.


"Xavir! Ayo pulang!" Riri mengisyaratkan kepada bodyguardnya untuk menggendong Xavir.


Salah satu bodyguard yang terkenal kuat menggendong Xavir menuju mobil. Walau sering memberontak, bodyguard tersebut mampu menahan Xavir.


"Jangan mendekati putraku lagi! apa tidak cukup dengan membuat dia koma? kau mau dia celaka karena mu?" Riri menatap Kiara dengan tatapan tidak suka.

__ADS_1


Kiara hanya menangis saat melihat orang yang dicintainya pergi dengan menggunakan mobil. Kiara merasa hidupnya sangat tidak adil sekarang.


"Kenapa aku tidak bisa berbahagia sedikit saja? apa aku memang tidak pantas untuk merasakan kebahagiaan?" Ucap Kiara.


__ADS_2