
Malam ini Xavier menatap Grenta dengan amarah, matanya dari tadi memancarkan amarah. Grenta sangat ketakutan, dia tidak pernah melihat Xavier yang semarah itu.
"Sedendam itukah kau? Kalau saja tidak mengingat kau perempuan aku sudah menghajar dirimu!" Xavier dari tadi menatap Grenta tanpa berkedip.
Grenta berusaha menghindari tatapan itu, badannya gemetar, tubuhnya seakan tidak bisa digerakkan. "A-aku tidak tahu, aku minta maaf."
Xavier memegangi wajah Grenta, dia memberikan ciuman singkat agar perempuan itu tidak lagi takut kepadanya, "Jauhi orang yang memberikan benda itu, dia adalah orang yang licik."
Grenta tidak hanya terkejut dengan perlakuan Xavier yang hangat, tapi dia juga terkejut dengan perkataan Xavier barusan. Apakah yang dia katakan benar? bagaimana bisa?
Grenta hanya diam tanpa bertanya lebih lanjut, dia tidak ingin melihat Xavier yang bersedih karena dia. Grenta hanya memeluk tubuh Xavier untuk memberitahukan bahwa dia sangat menyayangi pemuda tersebut.
Grenta melihat pemuda itu menangis, terdapat luka yang mendalam dari sorot mata biru itu. Xavier menangis sejadi-jadinya di depan Grenta.
"Beban apa yang selama ini kau tanggung?" Xavier hanya diam, kemudian Grenta kembali berbicara. "Kalau kau belum bisa bercerita aku tak akan memaksa, tapi kau harus ingat bahwa aku akan selalu ada di sisimu. Kau tidak sendiri Xavier, kau masih punya aku."
Xavier terperangah dengan jawaban dari wanita yang selama ini selalu disakitinya, dirusak, bahkan menjadi tempat amukan. Namun, Grenta dengan baik hati tak pernah dendam, dia bahkan menawarkan diri untuk menjadi sandaran.
"Maaf, mulai sekarang aku tak akan menyentuhmu tanpa ikatan pernikahan. Maukah kau membuat diriku mencintaimu? mungkin akan sangat lama, tapi aku akan berusaha. Maafkan diriku yang selama ini tak pernah memandang mu." Ucap Xavier tulus.
Grenta tersenyum senang, ternyata perjuangannya yang sudah sepuluh tahun telah membuahkan hasil. Grenta memang dari kecil selalu mendekati Xavier, namun selalu dibentak, bahkan dikasari.
"Aku akan berusaha, aku tak akan pernah menyerah sedikitpun. Apa kau lupa jika aku selalu mengejar mu dari sepuluh tahun yang lalu?" Tanya Grenta sambil menghapus air mata Xavier yang masih tersisa.
Xavier mencoba mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu dimana dia pernah menolong gadis kecil yang dihina dan dibully oleh anak-anak nakal. Sejak saat itu Grenta selalu mencari cara untuk mendekatinya.
"Apa kau tak punya dendam kepadaku?" Pasalnya Xavier selalu berperilaku tidak baik kepada Grenta.
"Apa perjuanganku dari dulu tidak cukup? kau meragukan ku? Aku tak akan pernah membencimu, aku benar-benar tulus mencintaimu." Grenta memegangi tangan Xavier untuk meyakinkan bahwa dirinya sangat mencintai pemuda itu.
*****
Dimas malam ini mengerjakan banyak dokumen agar dia bisa berlibur beberapa hari untuk menenangkan pikiran serta memberikan waktu istirahat untuk tubuhnya.
Tiba-tiba ada pesan masuk dari nomor yang tak dikenal, dia memberikan pesan singkat yang membuat Dimas penasaran.
628132810****
__ADS_1
[Ayo bertemu! Ad hal penting.]
[Dimana?]
[Taman Kota]
Dimas segera merapikan dokumen di atas meja yang tersisa tadi. Dia tidak melanjutkan pekerjaannya karena penasaran dengan pesan tersebut.
Dari arah jauh Dimas sudah melihat seorang wanita duduk di kursi taman sambil melirik jam yang ada di tangannya.
Dimas mengamati postur tubuh wanita itu, sepertinya dia kenal dengan wanita yang duduk di taman tersebut. Dimas melangkah ke arah wanita itu.
Saat sudah dekat, wanita itu menatap Dimas, "Ka-Kau!"
Riri tersenyum, "Kenapa? Kau sudah tidak mencintaiku lagi?"
Dimas segera duduk di kursi taman,"Ti-tidak! hanya saja kita tidak bisa seperti dulu lagi Ri, aku sudah punya keluarga."
Riri langsung merubah raut wajahnya menjadi dingin karena perkataan Dimas, "Aku tak bisa melupakanmu Mas, A-aku sangat mencintai dirimu. AKu...,"
"Ini tentang Kematian Tante Sofia!" Perkataan Riri yang sangat keras itu menghentikan Dimas.
Dimas menoleh," Mommy? tidak usah membicarakan hal yang sudah berlalu."
"Kecelakaan itu bukan kecelakaan biasa." Riri masih terus memancing Dimas untuk mendengar perkataannya.
"Ada apa dengan kecelakaannya? apa ada kejanggalan." Dimas langsung duduk kembali dan melayangkan berbagai pertanyaan.
"Kecelakaan Tante Sofia adalah kecelakaan yang sudah direncanakan. Kecelakaan itu dibuat oleh musuh dari om Arwan." Ucap Riri sambil memperlihatkan rekaman seorang pria yang sedang berbicara.
"Kau tak perlu membenci anak yang tidak bersalah, dia juga korban dari kecelakaan itu. Bahkan dia tumbuh menjadi anak yang mempunyai trauma terhadap kecelakaan." Jelas Riri yang terlihat simpati.
"Aku telah salah membencinya." Ucap Dimas sambil membayangkan perlakuan buruknya terhadap Kiara.
Tes!
Air mata jatuh di dari sudut matanya, dia mengingat kembali memory saat dirinya menyiksa batin dan fisik anak kandungnya karena kecelakaan yang dibuat oleh orang lain.
__ADS_1
Benci sudah menutupi matanya, dia bahkan lebih menyayangi anak angkat ketimbang anak kandung. Dimas berpikir bahwa yang harus disalahkan disini itu Papinya, bukan Kiara.
"Pria itu melakukan hal itu karena dendam kepada Om Arwan yang telah membunuh keluarganya secara kejam. Apa kau tidak mengetahui identitas asli Ayahmu?" Riri mengutak-atik ponselnya
"Apakah ini Papy? Ternyata papi adalah orang yang kejam. Selama ini kekayaan yang dimiliki adalah hasil dari perkejaan kotor itu?" Dimas seakan tidak percaya mengetahui fakta bahwa ayahnya adalah seorang Mafia kejam.
"Bukan hanya itu, Om Arwan bahkan tak jarang memperdagangkan manusia dan memutilasi tubuh para pengawal yang tidak mematuhinya." Ucap Riri sambil memperlihatkan Vidio Arwan yang sedang memutilasi pengawalnya.
Dimas sangat syok dengan fakta yang baru saja di ketahui ya, dia bahkan seakan tak mengenal Papinya. Arwan Arkana mampu menyembunyikan hal ini selama bertahun-tahun kepada anaknya sendiri.
"Hiks...hiks... Apa yang harus aku lakukan? aku telah salah, aku bahkan sangat malu bertemu anakku." Dimas tertunduk di tanah.
"Aku pulang dulu ya mas!" Riri berpamitan dan meninggalkan Dimas. di taman sendirian.
Dimas segera memacu mobil menuju Mansion keluarga Arkana, dia bahkan tak memikirkan para pengendara yang marah karena kelakuannya. Dimas memikirkan Vidio yang dilihatnya tadi.
"Aku tak akan memaafkan mu Pih!" Dimas beberapa kali menangis sambil berteriak karena mengetahui perilaku kejam sang ayah.
"Aku akan menjauhkan kau dari putriku!" Kini Dimas membayangkan wajah Kiara yang selalu menangis karena sikapnya.
Sampai di mansion, Dimas segera memasuki Mansion. Dimas berlari-lari sambil memanggil sang ayah.
"Kenapa kau berteriak begini?" Arwan Arkana yang tengah asik menonton TV sangat terganggu dengan suara Dimas yang besar.
"Kenapa Papi sangat kejam? Kenapa Papi melakukan hal itu?" Dimas saat ini tengah menangis di hadapan Ayahnya.
Buk!
Buk!
"Mommy meninggal karena sikapmu Pi, kamu yang buat mommy meninggal!" Dimas langsung menerjang tubuh Arwan dengan cepat.
Arwan Arkana hanya pasrah menerima pukulan dari anaknya, dia sudah memprediksi bahwa hal ini akan terjadi. Arwan tak mau Dimas semakin membencinya.
Para pengawal dan pelayan yang ada di Mansion itu langsung saja mencondongkan senjata ke arah Dimas, namun Arwan segera memberikan isyarat bahwa mereka tak perlu melakukan hal itu.
"Aku benci kau!" Ucap Dimas sambil meninggalkan Papinya yang sedang terbaring dengan wajah yang memar.
__ADS_1